
Sekitar hampir satu jam Violet mengeksekusi sarapan yang akan dia makan bersama Deren. Kini nasi goreng dan beberapa lauk ala Violet sudah siap di meja makan dan tinggal menunggu di santap.
Violet tersenyum melihat hasil masakannya lalu dia segera menyusul Deren tapi sebelum itu dia segera meminta para maid dan bodyguard sarapan terlebih dahulu.
Violet sudah menginjakkan kakinya di ruang gym berada lalu dia segera mengetuk dan masuk tapi dia tidak menemukan suaminya di sana, "Kemana dia? Emm,, apa dia di kamar?" tanya Violet pada dirinya sendiri lalu sambil berjalan menuju kamar mereka.
Begitu dia tiba dia langsung masuk, "Deren!" panggil Violet.
Deren yang memang sedang mengganti pakaiannya di walk in closet tersenyum mendengar istrinya memanggil, "Iya sayang aku sedang mengganti pakaianku. Kamu bisa masuk jika ingin melihat." ucap Deren diakhiri dengan godaan.
Violet yang mendengar itu hanya mendelik kesal, "Jangan suka aneh-aneh deh suamiku. Cepat keluar aku menunggumu di bawa sarapan sudah siap." ucap Violet hendak membuka pintu keluar.
Tapi belum Violet membukanya Deren dengan cepat memeluknya dari belakang entah sejak kapan dia di sana, "Ayo kita turun sama-sama." ucap Deren setelah melepas pelukannya lalu segera menggengam tangan istrinya dan mereka keluar bersama.
Violet pun membiarkan saja suaminya itu menggenggamnya karena dengan genggaman tangan suaminya dia merasakan ada kenyamanan yanv menjalar ke hatinya. Mereka sambil bergenggaman tangan turun dari lantai dua dengan menggunakan tangga sambil tersenyum satu sama lain.
Kini keduanya sudah tiba di meja makan dan segera duduk di sana. Deren tersenyum melihat sarapan hari ini dan seketika dia merasa sangat kelaparan hanya dengan mencium aroma masakan Violet. Ini akan menjadi sarapan pertama mereka setelah saling mengungkapkan rasa cinta.
__ADS_1
Violet yang melihat ekspresi suaminya hanya tersenyum lalu mulai menyendokkan nasi goreng untuk suaminya, "Silahkan di makan suamiku nasi goreng cinta spesial buatan Violet." ujar Violet meletakkan piring di hadapan suaminya. Deren menerimanya dengan tersenyum.
Violet pun hendak mengambil makanan sarapan untuknya namun belum dia mengambil Deren langsung menahan gerakan tangan istrinya itu, Violet pun menatap suaminya bingung, "Ada apa? Apa nasi gorengnya masih kurang?" tanya Violet lembut.
Deren menggeleng, "Ini sudah cukup, aku hanya ingin kita sarapan berdua. Maksudnya sarapan di piring yang sama. Mau yaa? Jika tidak maka aku gak akan sarapan." ucap Deren merajuk layak anak kecil marajuk kepada ibunya karena tidak dibelikan mainan.
Violet tersenyum memandang ekspresi suaminya itu lalu dia segera meletakkan piringnya kembali dan mendekatkan kursinya dengan suaminya lalu sebelum dia duduk dia mengecup kening suaminya, "Dasar manja tapi aku menyukainya. Kau hanya boleh manja padaku saja suamiku. Jangan perlihatkan ekspresi macam tadi kepada orang lain." ujar Violet lalu segera duduk.
Deren yang mendengar penuturan dan kepemilikan yang diucapkan sang istri tersenyum hangat layaknya seperti baterei yang baru saja selesai di cas. Dia menemukan energinya dan energi itu adalah Violet satu-satunya wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya hingga tidak memiliki waktu untuk berpaling dari istri cantiknya itu, "Aku juga menyukai keposesifanmu itu istriku. Aku ini telah jatuh dalam pesonamu hingga untuk melihat yang lain saja tidak mungkin kulakukan. Kamu adalah satu-satunya wanita yang kucintai yang akan menjadi ibu dari anak-anak kita kelak. Aku tidak akan berpaling darimu." ucap Deren.
Deren pun mengangguk saja dan menerima suapan dari sang istri. Lalu keduanya sarapan bersama dalam satu piring dan satu sendok yang sama. Mereka saling suap-suapan satu sama lain.
Sekitar hampir setengah jam mereka sarapan, kini Deren dan Violet sedang ada di kamar.
"Aku mandi dulu. Suamiku jika kau ingin pergi duluan saja, aku akan pergi dengan Doni." ucap Violet sebelum masuk ke kamar mandi.
Sekitar setengah jam Violet baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan hanya memakai batrobe. Violet kaget melihat Deren masih ada di kamar itu karena dia pikir suaminya itu sudah pergi. Violet pun segera berlari menuju walk in closet. Deren yang melihat hal itu hanya tersenyum, "Masih saja malu padahal aku ini suaminya tapi dia sangat seksi seperti itu padahal memakai batrobe, entah bagaimana jika hanya memakai handuk. Aku bisa gila nanti, aku harus mempercepat akad kedua kami. Jika tidak maka aku akan selalu tersiksa melihat pemandangan seperti itu terus." gumam Deren sambil berusaha mengendalikan hasratnya yang mulai naik hanya dengan melihat istrinya itu.
__ADS_1
Tidak lama Violet keluar dengan pakaian formalnya untuk mengajar lalu dengan handuk di tangannya untuk mengeringkan rambutnya segera menuju meja rias, "Kenapa belum pergi suamiku?" tanya Violet.
Deren meletakkan tab dan ponsel di tangannya di meja di dalam kamar itu lalu dia berdiri segera mendekati istrinya, "Aku menunggumu. Kita akan berangkat bersama menggunakan mobilku. Mulai saat ini aku akan mengantar jemput dirimu. Kau tidak bisa menolak." ucap Deren sambil mencium rambut Violet untuk menghirup aroma sampo yang menguar dari rambut sang istri. Lalu dia segera mengambil handuk dan mulai membantu mengeringkan rambut istrinya. Dia terlihat telaten melakukannya seperti seorang profesional saja. Violet membiarkan suaminya itu mengeringkan rambutnya dia memilih menyibukkan diri dengan ritual perawatannya.
Deren setelah menyelesaikan mengeringkan rambut Violet segera berlalu menuju walk in closet entah untuk mengambil apa. Violet sedikit merias wajahnya dan begitu Deren kembali dengan dasi di tangannya Violet berbalik, "Bagaimana penampilanku suamiku?" tanya Violet.
"Cantik sangat cantik. Kamu selalu cantik sayang." ujar Deren sambil memberikan das yang dia pegang kepada istrinya lalu segera menunduk di hadapan istrinya itu.
Violet yang mengerti apa yang diminta suaminya pun segera memasangkan das untuk suaminya itu, "Okay, dah selesai. Kamu sudah rapi dan tampan seperti biasanya suamiku." ucap Violet sambil menepuk kemeja suaminya.
Deren tersenyum lalu mendekatkan wajahnya hingga cup satu kecupan mendarat di bibir Violet. Kecupan yang lembut layaknya ciuman yang lembut tapi tidak lama, "Jangan terlalu merah sayang." ujar Deren begitu melepas kecupannya.
Violet pun hanya menatap suaminya itu sinis dan berbalik untuk melihat bibirnya, "Iss sudah hilang semua suamiku. Sepertinya mulai sekarang aku harus menggunakan yang waterproof." ucap Violet jengkel pasalnya dia tidak memakai lipstik yang terlalu merah dan itupun tidak waterproof hingga mudah saja terhapus.
"Kamu sudah cantik walau tanpa itu sayang. Aku hanya tidak mau ada yang melirik dan menikmati kecantikan istriku." ucap Deren.
"Terserahlah!" jawab Violet lalu dia segera mengambil tasnya dan keluar meninggalkan suaminya itu.
__ADS_1