
Sementara di sisi Deren dia baru saja tiba di perusahaan yang langsung di sambut oleh Max dan Ronal, dua orang kepercayaannya.
“Max, apa semuanya sudah siap?” tanya Deren sambil berjalan menuju ruangannya walau dia sudah menerima laporan mengenai semua persiapan pernikahannya tapi dia tetap ingin memastikannya kepada asistennya itu.
“Sudah tuan. Tinggal menunggu untuk hari besoknya.” Jawab Max menyerahkan laporan terkait pesta pernikahan bosnya itu.
Deren mengangguk lalu segera duduk di kursi kerjanya, “Ronal, apa ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Deren.
“Undangan pernikahan anda sudah di sebar dan sekarang sudah ramai di bahas oleh semua media baik media elektronik ataupun cetak semuanya membahas pernikahan anda. Beberapa media juga sudah mengajukan untuk meliput pernikahan anda tuan. Selain itu juga saat ini semakin ramai yang bertanya-tanya soal nyonya karena terbongkarnya nama nyonya sebagai istri anda. Mereka semakin penasaran dengan wajah nyonya.” Ucap Ronal.
Deren pun mengangguk-ngangguk mengerti, “Sudah biarkan saja mereka semakin penasaran yang terpenting hal itu tidak mempengaruhi perusahaan dan keamanan istriku selalu terjaga dan terkait media itu tolak mereka semua biarkan Arini satu-satunya reporter yang meliput pernikahan kami.” Ucap Deren.
“Katakan hal itu kepada Arini hanya dia yang diperboleh meliputnya tapi hanya untuk pesta resepsinya. Untuk akadnya biarkan hanya kita-kita yang hadir tanpa ada media sedikit pun.” Lanjut Deren.
Ronal pun mengangguk mengerti lalu dia segera keluar dari sana untuk melaksanakan tugasnya yang lain. Sementara Max yang masih di dalam ruangan Deren menatap tuannya itu dalam, “Jangan menatapku seperti itu Max, kau membuatku takut karena bisa saja berpikiran bahwa kau menyukaiku seperti gosip yang beredar.” Ucap Deren tanpa menatap asistennya itu.
“Jangan mengatakan hal menjijikkan itu tuan karena saya ini normal. Saya hanya tidak menyangka bahwa tuan akan menikah dan hidup bahagia dengan gadis yang anda cintai. Gadis yang dulunya anda jebak agar bisa terikat dengan anda kini dia dengan suka rela menikah dengan anda. Saya ikut bahagia untuk anda tuan.” Ucap Max tulus. Di antara dia dan Ronal sudah tentu saja dialah orang yang paling tahu dengan Deren karena dia selalu bersama Deren.
__ADS_1
“Terima kasih Max. Aku akan berdoa semoga kau dan Ronal segera menemukan pasangan yang akan kalian cintai yang bahkan tidak rela untuk kalian tinggalkan sedikit pun bahkan melihat setetes air matanya saja kau tidak akan rela. Max, aku juga berterima kasih untukmu karena kau selalu ada untukku dan selalu memprioritaskan aku di atas masalah pribadimu. Setelah aku menikah aku akan memberimu waktu agar bisa berkencan dengan seorang gadis. Carilah istri untukmu.” Balas Deren tulus.
“Saya masih ingin sendiri tuan dan saya senang bekerja untuk anda.” Timpal Max.
“Baiklah terserah padamu tapi jangan sampai kau tidak menikah, Max.” ujar Deren.
“Tuan, kenapa anda masih masuk kerja hari ini sementara besok sudah pernikahan anda?” tanya Max mengalihkan pembicaraan karena dia tidak ingin menjadi topic pembicaraan.
“Masih ada beberapa dokumen yang harus aku periksa Max karena jika aku melakukan cuti maka mungkin itu lebih dari seminggu. Aku akan memastikan sebelum aku cuti semua masalah yang harus aku tangani sudah selesai agar aku bisa meninggalkan kalian dengan tenang.” Balas Deren.
Deren terkekeh akan hal itu, “Dia saja belum mengajukan cuti Max. Aku baru mengantarnya tadi. Kami itu pasangan yang gila kerja Max.” ucap Deren menertawakan dia dan sang istri yang sepakat akan melakukan cuti saat hari menikah. Max yang mendengar itu pun ikut tersenyum karena ternyata seperti itulah pasangan yang bisa saja memiliki satu atau dua kesamaan.
***
Malam harinya, “Nak, kau sudah melakukan cuti kan?” tanya ibu Anggi pada putrinya.
Violet mengangguk, “Sudah bu. Kau tidak perlu khawatir. Aku di beri cuti sebulan bu karena selama ini aku tidak pernah mengambil cutiku hingga aku di beri cuti sebulan oleh kepala sekolah.” Jawab Violet.
__ADS_1
Ibu Anggi pun menghela nafasnya lega karena dari kemarin dia menanyakan pada putrinya itu apa sudah melakukan cuti atau tidak tapi sampai tadi masih saja masuk, “Syukurlah, ibu pikir kau tidak akan meminta cuti dan akan mengajar dengan memakai kebaya dan gaun nikahmu itu.” balas ibu Anggi.
Violet terkekeh mendengarnya, “Maaf ibu, aku hanya tidak ingin meninggalkan anak didikku.” Ucap Violet segera memeluk sang ibu.
“Yah sepertinya anak didikmu itu lebih penting untukmu daripada suamimu. Ingat nak lebih baik setelah kau menikah berhentilah bekerja di sana, ibu pikir Deren pasti tidak akan keberatan.” Ucap ibu Anggi yang memang sudah mendapat pesan dari Deren untuk membujuk Violet berhenti mengajar.
“Tentu saja dia tidak keberatan bu karena itu adalah keinginannya tapi aku keberatan. Aku sudah terbiasa mengajar mereka dan mendengar coletehan anak-anak itu. Aku menyayangi mereka bu layak anakku. Aku bisa menemukan kebahagiaan hanya dengan melihat mereka dan seketika kesedihanku akan hilang jika bertemu dengan mereka. Aku pasti akan memperhatikan kewajibanku sebagai seorang istri tanpa harus melepas pekerjaanku jadi guru mereka. Percayalah aka nada saatnya aku berhenti mengajar tapi tidak sekarang.” Ujar Violet.
Ibu Anggi pun mengangguk mengerti karena dia tahu apa yang di rasakan putrinya itu. Dia yang bercita-cita menjadi pengusaha harus rela mengubur mimpinya dan menerima takdir mengajar para anak TK itu lalu ketika dia sudah nyaman dan menemukan kebahagiaan dengan pekerjaannya itu sudah tentu memintanya berhenti akan sulit dia lakukan, “Baiklah ibu mengerti nak. Ibu paham dan percaya bahwa kau akan bisa menjalankan peranmu dengan baik baik sebagai seorang ibu maupun sebagai seorang guru. Kau itu putri kebanggaan ibu. Ibu sangat bahagia dengan pernikahanmu ini karena kau menemukan suami sebaik Deren yang tulus mencintaimu.” Ucap Ibu Anggi.
“Ini semua berkat doa ibu. Aku bisa memperoleh suami seperti Deren berkat doa ibu dan perbuatan baikku mungkin.” Timpal Violet.
Tiba-tiba Edgar datang dari kamarnya dengan ponsel di tangannya, “Kak, tuh suamimu sudah merindukanmu.” Ujar Edgar menyerahkan ponselnya kepada sang kakak.
Violet menerimanya dengan bingung, “Gak usah bingung kak, dia sudah menelponmu tapi tidak kau jawab.” Ujar Edgar. Violet pun seketika tersadar bahwa ponselnya tertinggal di kamar. Yah, Deren tadi setelah pulang dari makam mengunjungi mommy Grysia dan daddy Robert bersama Violet untuk meminta restu segera menuju Mansion bersama Carra dan sudah sepakat akan bertemu nanti di hotel saat akad.
Violet segera berdiri menuju kamar sambil berbicara dengan sang suami. Edgar dan ibu Anggi pun membiarkannya saja karena mereka mengerti bahwa Deren sangat bucin kepada kakaknya. Violet dan Deren saling menelpon sekitar satu jam setelah sepakat dengan semua persiapan akad besok pagi yang akan di laksanakan pukul 09.00 lalu pukul 10.00 dilanjutkan dengan resepsi di tempat yang sama.
__ADS_1