Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
152


__ADS_3

Kini Deren dan Violet sudah ada di kamar mereka setelah selesai sarapan. Violet sibuk dengan urusannya merapikan kamar itu sedangkan Deren dia duduk di sofa sambil mengamati sang istri. Setelah Violet menyelesaikan pekerjaannya, Deren pun segera mendekati istrinya itu yang kini sedang merapikan alat-alat kecantikannya.


Deren langsung memeluk istrinya itu dari belakang, “Sayang, aku mau bicara.” Ucap Deren.


Violet pun tersenyum menatap suaminya itu lalu dia segera menyudahi pekerjaannya, “Mau bicara apa Mas?” tanya Violet.


“Sayang, jangan pura-pura tidak tahu. Kau tahu pasti apa yang ingin aku bicarakan.” Ucap Deren menatap mata istrinya itu dalam lalu membawa Violet untuk duduk di ranjang.


Kini mereka saling berhadap-hadapan, “Ada apa? Apa Mas gak mau atau gak setuju dengan program itu?” tanya Violet.


Deren menggeleng, “Bukan seperti itu sayang. Aku sangat menyukai dan menyetujui kita melakukan program kehamilan.” Ucap Deren.


Violet tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, “Lalu apa yang membuatmu ragu suamiku?” tanya Violet lagi.

__ADS_1


“Aku gak ragu sayang. Aku juga sangat ingin memiliki anak. Tapi aku gak mau dengan melakukan program ini kau hanya terpaksa karena di minta oleh Carra. Kau terpaksa melakukan program ini karena di tuntut agar segera memiliki anak dan memberikan keturunan untukku. Aku takut kau tidak nyaman dengan semua ini. Aku tidak ingin memaksamu sayang. Kita bisa menunggu sampai keturunan itu datang menghampiri kita. Tidak perlu melakukan program. Aku tidak mau kau tidak nyaman sayang.” ucap Deren mengutarakan segala kekhawatirannya.


Violet yang mendengar ucapan suaminya kembali tersenyum. Violet segera mendekati suaminya itu mengikis jarak antara mereka, “Mas, sudah selesai kan bicaranya? Sudah selesai kan mengutarakan kekhawatiran?” tanya Violet menatap suaminya itu dalam.


Deren pun mengangguk, “Baiklah. Karena mas sudah selesai maka sekarang dengarkan apa yang aku katakan. Mas, terlalu berpikiran banyak. Seperti yang sudah aku katakan tadi di meja makan bahwa aku memang sudah memikirkan program kehamilan ini maka seperti itulah yang aku pikiran selama seminggu terakhir ini hanya saja aku belum sempat membicarakannya denganmu. Aku tidak terpaksa sama sekali dengan rencana program ini karena aku memang ingin melakukannya. Perlu kau garis bawahi suamiku, aku tidak melakukan ini hanya karena permintaan Carra atau karena tuntutan aku yang harus memberimu keturunan. Tapi aku memikirkan rencana program ini karena memang itu sudah jadi keinginanku. Aku juga sangat ingin memiliki anak, Mas. Kau memang selalu melimpahkan cinta dan kasih sayangmu untukku dan tidak pernah membuatku merasa kesepian. Kau selalu saja memastikan bahwa aku tidak merasa kesepian.” ujar Violet.


“Jangan kau pikir aku tidak tahu apa alasanmu sebenarnya melarangku pergi ke kantor mommy dan menempati ruangan di sana serta justru memintaku untuk menempati ruangan yang sama denganmu di kantormu dan selalu menemaniku ke manapun aku pergi. Aku tahu kau melakukan itu semua hanya karena tidak ingin membuatku merasa kesepian atau sendiri yang nantinya akan membuatku teringat akan anak kita. Tapi tetap saja suamiku walau kau sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatku tidak merasa kesepian tetap saja hatiku terasa sepi. Aku tetap saja kesepian. Maka untuk itu aku ingin memiliki anak, aku ingin mendengar tangisannya yang meminta untuk di susui olehku atau meminta perhatianku. Jadi bisakah suamiku kau menghilangkan semua kekhawatiranmu itu terkait kenyamananku? Aku sangat ingin melakukan rencana program kehamilan ini dan aku butuh dukunganmu untuk itu.” lanjut Violet.


Deren yang mendengar penuturan panjang sang istri pun hanya bisa terharu sepertinya memang benar dia yang terlalu berpikir lebih. Dia hanya memikirkan kenyamanan istrinya itu tanpa mengetahui apa sebenarnya yang di inginkan oleh istrinya itu. Deren segera melabuhkan kecupan lembut di bibir istrinya, “Aku selalu mendukung apapun keputusanmu sayang. Kita akan melakukan program ini. Maafkan aku yang tidak pernah bertanya apa sebenarnya keinginanmu dan rencanamu terkait ini hanya karena aku yang tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman dan teringat kembali akan anak kita yang pergi.” ucap Deren setelah melepas kecupannya itu.


Deren pun mengangguk, “Ya sudah ayo kita berangkat saja ehh kita siap-siap dulu.” Ujar Deren. Lalu setelah itu sepasang suami istri itu segera bersiap untuk menuju rumah sakit.


***

__ADS_1


Singkat cerita, kini Violet dan Deren sudah tiba di rumah sakit milik keluarga Robert itu dan keduanya segera menuju ruangan dokter Riana karena Carra memang sudah membuat temu janji untuk mereka di sana.


Begitu tiba di ruangan dokter Riana mereka langsung di sambut oleh perawat yang membantu dokter Riana, “Selamat datang tuan dan nyonya Robert. Tuan dan Nyonya sudah bisa masuk ke dalam, dokter Riana sudah menunggu. Nona Carra sudah membuat temu janji sebelumnya sehingga tuan dan nyonya tidak perlu mengantri.” Jelas perawat itu.


Deren pun mengangguk, “Ayo sayang. Kita masuk.” Ajak Deren segera menggandeng lengan istrinya itu.


Violet menggeleng, “Suster, kami akan masuk sesuai nomor antrian saja. Sini berikan nomor antriannya.” Pinta Violet.


Perawat yang mendengar itu pun heran lalu menatap Deren meminta persetujuan. Deren pun hanya mengangguk saja akhirnya perawat itu pun memberikan nomor antrian kepada Violet.


“Terima kasih suster. Ayo suamiku kita duduk di sana menunggu.” Ajak Violet. Deren pun hanya mengikuti istrinya itu lalu duduk dengan dua pasang suami istri yang juga mengantri dan mendengar pembicaraan Deren dan Violet dengan perawat itu.


“Sayang, kenapa kita harus mengantri? Kita kan sudah membuat temu janji sebelumnya. Kita tidak melanggar aturan sayang.” ucap Deren setelah mereka duduk.

__ADS_1


Violet tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, “Kau benar suamiku. Kita memang tidak melanggar peraturan yang sudah di buat tapi aku ingin merasakan bagaimana mengantri itu, aku ingin menikmati waktu menunggu memeriksa seperti ini bareng suamiku. Selain itu kasihan mereka yang sudah datang lebih dulu tapi hanya karena kita sudah membuat temu janji kita di dahulukan. Itu memang sudah peraturannya dan kita tidak bersalah tapi hati nuraniku merasa kasihan. Bagaimana jika di antara pasangan itu mereka sangat memiliki kesibukkan banyak tapi mereka justru mendapatkan nomor antrian lama. Kan kasihan suamiku.” Ucap Violet.


Deren yang mendengar jawaban yang keluar dari mulut istrinya itu tersenyum, “Aku memang tidak salah memilih istri sayang. Kau sangat perhatian kepada semua orang walaupun kau terlihat cuek. Aku bangga memilikimu sebagai istriku sayang. Aku menjadi suami yang paling bahagia karena memiliki istri seperti dirimu.”


__ADS_2