Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
62


__ADS_3

“Kau tenang saja nak. Dia baik-baik saja tapi dia hanya ingin istirahat sebentar.” Jawab ibu Anggi.


Deren pun bernafas lega, “Syukurlah!” ucapnya.


“Ibu apa aku bisa masuk melihatnya?” lanjut Deren.


“Tentu saja nak kau bisa melihatnya. Ohiya berhubung kau sudah di sini untuk menjaganya. Ibu pamit pulang dulu ke rumah yaa nak. Ibu titip putri ibu itu. Ohiya dia belum makan nak.” ujar ibu Anggi.


“Ibu akan pulang naik apa?” tanya Deren.


“Ibu akan naik taxi saja nak. Kau temuilah dia ibu akan pergi dulu.” Ucap ibu Anggi.


“Aku akan menelpon Doni untuk mengantarmu bu. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa bu. Jadi jangan menolaknya. Sebentar aku telpon Doni dulu.” Ujar Deren segera menelpon bodyguard istrinya itu.


Ibu Anggi pun hanya bisa menurut saja apa kata menantunya. Setelah itu Deren segera masuk ke dalam, ibu Anggi juga ikut masuk hanya untuk mengambil tasnya dan segera keluar meninggalkan Deren dan Violet berdua karena ingin memberikan mereka waktu berdua dan lebih memilih menunggu di lobi rumah sakit.


Deren segera mendekati ranjang di mana Violet berbaring membelakanginya. Dia semakin mendekat dan satu tujuannya yaitu meminta maaf karena sudah membuat istrinya itu mengalami sakitnya lagi. Jika bisa jujur dia sangat senang begitu mendengar sang istri sudah sadar hingga dia rela kehilangan miliaran dollar yang dia hasilkan tapi dia juga takut jika istrinya itu akan menyalahkannya dan tidak memaafkan kesalahannya, “Vio!” panggil Deren lirih nyaris tidak terdengar.


“Vio, maaf! Maafkan aku yang tidak menepati janjiku untuk menjagamu. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu hingga membuatmu sakit seperti ini. Aku sungguh menyesal! Jika bisa maafkan kesalahanku. Jika waktu bisa di ulang aku tidak akan memaksamu berenang jika pada akhirnya aku tidak bisa menjagamu. Maafkan aku Vio!” ucap Deren menunduk dengan air mata yang menetes di pipinya menatap punggung istrinya yang membelakanginya.


“Maafkan semua kesalahanku Vio. Aku janji setelah kau sembuh aku akan memberikanmu kebebasan dan tidak akan mengikatmu lagi dalam pernikahan ini. Aku tahu kau mungkin tersiksa dan merasa bahwa pernikahan ini bagai di neraka. Aku memang egois karena memaksamu masuk dalam permasalahanku. Aku janji akan memberikan perpisahan yang kau inginkan itu. Aku janji tidak akan mengikatmu lagi tapi kau harus sembuh dulu. Cepatlah sembuh sayang.” ucap Deren.


“Ohiya cepatlah bangun. Kau harus makan makananmu.” Lanjut Deren lalu setelah itu Deren segera menuju sofa di ruangan itu dan menelpon Doni memastikan bahwa ibu mertuanya sudah sampai di rumah dan juga menelpon Max yang dia tinggalkan untuk menghendel meeting.

__ADS_1


Violet yang sebenarnya tidak tidur karena setelah mendengar suara Deren saat dia datang dia hanya berpura-pura tidur. Violet yang mendengar apa yang di ucapkan suaminya hanya meneteskan air matanya sambil memijat dadanya yang terasa sangat nyeri. Dia pernah mengalami patah hati tapi tidak sesakit ini. Saat Morgan memutuskan hubungan mereka dia memang menangis tapi tidak seperti ini rasa sakit yang kini dia alami. Setelah dia menangis semua rasa sakitnya hilang dan semuanya berganti dengan rasa benci kepada pria itu. Tapi untuk kali ini hatinya sangat rapuh entah kenapa dia tidak bisa membenci suaminya, jika dia melakukan itu hatinya justru terasa makin sakit.


“Ehh!” suara Violet yang memijat dadanya.


Deren yang mendengar itu segera memutuskan sambungan teleponnya dengan asistennya lalu segera mendekati Violet, “Ada apa sayang? Apa yang sakit? Kenapa menangis? Aku panggil dokter” ujar Deren beruntun begitu menyadari ada air mata di pipi istrinya. Deren hendak menekan tombol emergency tapi langsung di halangi Violet.


“Aku gak apa-apa.” Jawab Violet lemah.


“Gak apa-apa gimana? Kamu memijat dadamu begitu. Aku panggil dokter yaa.” Ucap Deren sedikit meninggi tapi di akhir kalimatnya kembali lembut karena baru menyadari bahwa nada suaranya sedikit keras.


“Jangan. Sungguh aku gak apa-apa.” Ucap Violet mencoba bangun yang langsung di bantu oleh Deren.


“Yakin?” tanya Deren memastikan.


Deren memandangi Violet dalam, “Jika tidak sakit lagi, kau makan yaa. Aku suapin. Mau yaa?” Ucap Deren menawarkan.


Violet pun hanya mengangguk lagi karena entah kenapa lidahnya mendadak kelu untuk bersuara. Mungkin karena perasaannya yang sedang tidak baik-baik saja hingga membuatnya tidak nafsu melakukan sesuatu.


Deren begitu Violet mengangguk langsung segera mengambil bubur yang memang di tempatkan di tempat hangat hingga tidak dingin itu. Dia segera duduk di samping ranjang Violet dengan mangkuk bubur di tangannya.


Deren segera menyuapkan bubur ke mulut Violet tapi Violet menolak, “Sini aku bisa sendiri.” Ucap Violet menolak.


“Biar saya suapin. Jangan menolak! Ayo aa buka mulutnya.” Ucap Deren juga bersikeras tetap mau menyuapi Violet.

__ADS_1


Violet pun akhirnya menyerah dan menerima suapan dari suaminya itu. Yah, suaminya suami kontraknya yang ternyata tanpa dia sadari sudah dia cintai sedalam itu hingga membuatnya sangat patah hati hingga tanpa sadar air matanya menetes tapi langsung di hapusnya. Namun tetap saja Deren melihatnya.


“Kenapa? Apa dadamu sakit lagi?” tanya Deren segera berdiri untuk memanggil dokter.


“Gak apa-apa kok. Tidak perlu memanggil dokter. Bisa ambilkan air itu.” tunjuk Violet.


“Ouh maaf aku melupakan airnya.” Ujar Deren merasa bersalah padahal Violet melakukan itu hanya untuk menyembunyikan perasaannya yang campur aduk ketika menerima perhatian dari suaminya itu.


“Ini minumlah.” Ucap Deren menyerahkan gelas air kepada Violet. Violet menerimanya lalu segera meminumnya.


Setelah itu Deren lanjut menyuapi istrinya itu, Violet juga mau tak mau menerima suapan dari Deren walau hati dan pikirannya sedang berperang di dalam sana. Ingin rasanya dia menangis dan berteriak bahwa saat ini hatinya sangat sakit sangat perih hanya memandang suaminya. Suami yang membuatnya mencintai dan patah hati dalam waktu bersamaan.


Violet yang beban pikirannya sudah full di pikirannya segera menolak begitu Deren menyuapi karena jujur saja rasa bubur itu terasa pahit. Bagaimana tidak terasa pahit jika baru saja sakit lalu di tambah dengan patah hati memang double kill sakitnya tapi jujur saja patah hati memang jauh lebih sakit dari pada sakit fisik.


“Sudah!” ucap Violet menolak suapan Deren.


“Kenapa? Ayo makan lagi tinggal sedikit kok.” bujuk Deren.


Violet menggeleng, “Gak, aku sudah kenyang. Sudah cukup.” Ucap Violet.


“Baiklah jika begitu. Ohiya jika kau ingin makan lagi segera bilang aku. Aku akan di sini menjagamu.” Ujar Deren tersenyum.


Violet hanya mengangguk saja dan kembali mencoba untuk menutup matanya walau bukan untuk tidur hanya untuk mengurangi gejolak batinnya saja. Deren yang melihat Violet menutup matanya pun tidak berniat mengganggu karena dia tahu istrinya itu baru saja tersadar.

__ADS_1


__ADS_2