Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
48


__ADS_3

Deren pun tersenyum karena sudah berpikir yang tidak-tidak, “Syukurlah!” ucap Deren refleks.


“Apa yang harus di syukuri karena itu?” tanya Violet dan Deren yang baru sadar bahwa dia keceplosan pun langsung menggeleng, “Gak ada apa-apa kok.” jawab Deren sambil di dalam hati merutuki dirinya.


Setelah lima belas menit kemudian akhirnya makanan mereka sampai dan di antar oleh Albert tapi Violet ternyata pergi ke toilet sendiri walau Deren sudah menawarkan bantuan untuk menemani tapi dia menolak.


“Dimana Violet?” tanya Albert.


“Ouh dia sedang di toilet.” Jawab Deren.


“Anda orang beruntung tuan.” Ujar Albert sambil menata pesanan Deren dan Violet di meja.


“Beruntung?” beo Deren.


Albert mengangguk, “Karena anda adalah pria pertama yang dia ajak kemari walau dulu dia memiliki kekasih tapi tuan Morgan tak pernah dia ajak kesini andalah yang pertama. Jadi menurut saya anda special. Tuan mungkin bertanya-tanya kenapa saya sangat akrab dengannya tapi percayalah saya hanya menganggap dia seorang adik tidak lebih dan seperti seorang kakak yang berharap adiknya bahagia maka saya sangat berharap bersama anda dia bahagia walau saya tahu kalian menikah dengan cara yang unik tapi satu hal yang pasti dia tidak akan menerima seseorang yang menurutnya--” ucap Albert terpotong karena Violet datang.


“Albert apa yang kalian bicarakan?” tanya Violet.


Albert hanya tersenyum, “Gak ada kok girl. Ohiya selamat menikmati dinner kalian. Aku permisi tidak akan mengganggu.” Ucap Albert lalu segera berlalu meninggalkan mereka.


Violet segera duduk, “Apa yang dia katakan kepadamu?” tanya Violet.


Deren menggeleng, “Gak ada sesuatu yang penting kok.” jawab Deren tersenyum walau dia sudah dibuat penasaran dengan kelanjutan omongan Albert itu.


Violet pun hanya mengangguk karena dia merasa gak ada sesuatu yang patut dia khawatirkan. Deren dan Violet menikmati dinner mereka itu dengan damai dan khidmat.


***

__ADS_1


“Biar aku yang membayar kau pergilah lebih dulu ke mobil.” Ucap Deren.


“Ehh aku masih ingin berpamitan dengan Albert.” Ucap Violet segera mendekati Albert.


“Apa kau akan pulang girl?” tanya Albert.


Violet mengangguk, “Aku akan pulang aku pasti datang kesini lagi.” Ucap Violet tersenyum.


“Gak usah girl aku tidak ingin kau datang kesini karena jika kau datang kesini itu berarti kau memiliki masalah sedang aku berharap kau tidak akan menemui masalah lagi dalam kehidupanmu.” Ucap Albert tulus.


Violet tersenyum, “Semoga saja permintaanmu itu dikabulkan Albert.” Jawab Violet, “Semoga saja walau aku tahu itu gak mungkin dan kau akan melihatku lagi disini Albert.” Lanjut batinnya.


Violet segera pergi duluan ke mobil sementara Deren setelah menyelesaikan pembayaran segera mendekati Albert, “Tuan Deren!” ucap Albert sopan.


“Aku penasaran dengan kelanjutan perkataanmu tadi Albert.” Ucap Deren to the point.


“Baiklah aku akan datang untuk menagih janjimu itu.” ucap Deren.


“Saya menunggunya tuan.” Balas Albert. Deren pun mengangguk lalu dia segera pamit keluar dari café itu menuju mobilnya di mana Violet menunggu.


Sementara Albert menatap punggung Deren sambil tersenyum, “Aku harap kalian bahagia terutama kau girl.” Gumamnya.


***


Dua bulan berlalu dengan sangat cepat tidak terasa usia pernikahan Violet dan Deren memasuki bulan kelima dan perceraian yang sempat dikatakan Deren tidak lagi di ucapkan karena seminggu setelah makan malam di café kerinduan Deren meminta sesuatu kepada Violet yang langsung di turuti Violet tanpa banyak bertanya saat itu.


Violet entah kenapa dia langsung saja menyetujui permintaan Deren itu secepatnya saat itu mungkin terdorong oleh perasaannya ataukah ada hal lain.

__ADS_1


Flash back on


“Vio, saya mau bicara serius sama kamu.” Ucap Deren saat Violet mengantarkan minuman ke ruang kerja Deren. Violet yang saat itu melihat keseriusan di wajah Deren tiba-tiba merasa bahwa ada sesuatu yang akan terjadi dan jantungnya berdetak sangat cepat.


“Iya apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Violet tidak kalah serius walau dia sendiri menyembunyikan ketakutan yang menghantuinya beberapa minggu ini.


“Saya tahu mungkin kau sangat menginginkan perceraian kita. Saya bukan tidak ingin memberikan kebebasan itu untukmu tapi bercerai di usia pernikahan dua bulan sepertinya akan menimbulkan banyak pertanyaan di luar sana untukmu apalagi kau harus menyandang gelar janda di usiamu yang belum genap 29 tahun. Perceraian ini sangat berpengaruh untuk kita walau untuk saya tidak begitu berpengaruh tapi untukmu kau adalah seorang wanita pasti akan menjadi omongan diluaran sana. Jadi bisakah kau bertahan sedikit lagi setidaknya sampai usia pernikahan kita setengah tahun atau mungkin setahun baru berpisah tapi jika kau ingin tetap berpisah saat ini maka akan saya berikan.” Ucap Deren.


Violet yang mendengar itu seperti nafasnya terasa sesak dan air mata rasanya akan jatuh di pipinya tapi berusaha dia tahan dengan kuat, “Lalu apa yang anda inginkan? Apa anda masih ingin mengikat saya?” tanya Violet.


“Saya bukan ingin mengikatmu Violet hanya saja saya memikirkanmu karena ini sangat berpengaruh untukmu. Apa kau sudah siap menerima perlakuan sosial di luaran sana dengan status barumu?” tanya Deren.


“Baiklah anggap saja saya menyetujui permintaanmu mari kita jalani pernikahan ini setengah tahun atau mungkin setahun seperti keinginanmu. Aku menerimanya karena sejujurnya aku juga belum siap menyandang gelar itu tapi jika belum genap setengah tahun aku sudah siap menyandang gelar itu aku akan meminta untuk di ceraikan.” Ucap Violet.


“Baiklah aku setuju.” Ucap Deren.


Setelah itu Violet pergi dari ruang kerja itu dan air mata langsung menetes di pipinya, “Ada apa denganmu Vio? Kenapa sakit sekali?” gumam Violet meremas dadanya. Dia segera berlari menuju kamar mandi di kamar utama dan menyalakan air agar tidak ada yang tahu bahwa dia sedang menangis di dalam sana.


Flash back off


Violet menatap foto akad mereka di mana di sana ada mommy Grysia yang tersenyum walau sedang sakit, “Mom aku merindukanmu!” ucap Violet entah kenapa setiap mengingat perjanjian kedua mereka itu Violet selalu meneteskan air mata apalagi sebentar lagi usia pernikahan mereka setengah tahun dan masih saja belum siap menerima gelar janda di usianya ini.


“Aku harus siap kapanpun dengan status itu. Vio kau harus kuat kau tidak boleh mengikat Deren dalam pernikahan ini karena mungkin dia sangat menginginkan perpisahan ini. Seandainya saja dia--” gumam Violet terpotong dengan masih memandang foto akad.


“Mom aku merindukanmu dan maafkan aku jika tidak bisa menepati janji yang kubuat untukmu untuk selalu menjaga Deren dan Carra tapi jangan khawatir saat Edgar dan Carra menikah nanti aku akan menjadi kakak ipar terbaik untuknya. Aku akan menjaganya dengan baik!” gumam Violet.


“Aku sudah bosan dengan pernikahan ini mom aku mohon bebaskan saja aku, izinkan aku pergi.” Ucap Violet meneteskan air matanya. Tanpa Violet sadari di balik pintu ada seseorang yang mendengar kalimat terakhirnya itu.

__ADS_1


__ADS_2