Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
23


__ADS_3

“Gawat tuan nyonya dia--” ucap pelayan itu terbata.


“Cepat katakan ada apa dengan mommy?” tanya Deren khawatir.


“Nyonya kena serangan jantung lagi tuan tapi tenang saja nyonya sudah di bawah ke rumah sakit.” Jawab pelayan itu.


“Di bawah kemana? Rumah sakit mana?” tanya Deren


“Rumah sakit Robert tuan.” Jawab pelayan itu.


Deren pun langsung memutuskan sambungan telepon itu lalu menggenggam tangan Violet erat dan menariknya pergi dari sana. Violet pun hanya mengikuti langkah cepat Deren karena menurutnya sepertinya Deren saat ini sedang khawatir.


Kini mereka sudah tiba di parkiran dan Deren segera mengambil mobilnya, “Naik!” ucap Deren kepada Violet.


Violet menolak, “Sini biar saya saja yang menyetir, katakan saja di mana rumah sakitnya. Saya tahu kau sangat khawatir saat ini jadi lebih baik saya yang menyetir.” Ucap Violet.


“Kamu yakin?” tanya Deren.

__ADS_1


Violet mengangguk dengan cepat, “Jangan khawatir saya bisa menyetir, saya juga punya surat izinnya.” Jawab Violet.


Deren pun mengangguk lalu dia segera berpindah ke kursi di samping kemudi lalu Violet segera masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sementara Deren dia hanya menutup matanya karena saat ini yang ada dalam pikirannya hanya mommy-nya, dia tidak ingin kehilangan mommy-nya itu, “Tenang saja saya yakin mommy wanita kuat dia pasti akan baik-baik saja.” Ucap Violet menatap Deren sekilas sekaligus menenangkan laki-laki itu walau dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi dia yakin pasti ini karena mommy Grysia yang masuk rumah sakit.


Sekitar 20 menit akhirnya mobil Deren memasuki halaman rumah sakit karena memang rumah sakit Robert itu tidak jauh dari mall tadi, “Kita sudah sampai.” Ucap Violet.


Deren pun segera membuka matanya lalu dia segera turun begitupun dengan Violet hingga tiba-tiba, “Terima kasih sudah ada di samping saya menghadapi ini. Terima kasih sudah menjadi supir saya untuk hari ini.” ucap Deren memeluk Violet erat.


Violet sebenarnya ingin marah karena di peluk dengan tiba-tiba tapi dia masih sadar jika pria di hadapannya ini masih dalam keadaan sedih, “Sudahlah ayo kita masuk temui mommy.” Ucap Violet sambil menepuk bahu Deren.


Deren pun membalas pelukan adiknya itu, “Ada apa dengan mommy? Apa kau sudah tahu keadaannya?” tanya Deren lembut.


Carra hanya menggeleng, “Dokter belum keluar kak, aku hanya takut jika mommy akan pergi menyusul daddy.” Ucap Carra masih menangis.


Deren pun segera melepas pelukannya dan menghapus air mata Carra, “Jangan menangis, mommy pasti baik-baik saja. Kita tunggu dokter dulu!” ucap Deren bersamaan dengan dokter keluar.


Deren pun segera mendekati dokter itu sementara Carra langsung memeluk Violet dan menangis dalam pelukan Violet. Entah apa yang di katakan dokter kepada Deren karena tanpa berkata apa-apa dia langsung masuk ke dalam ruangan sang ibu bersama dengan dokter yang keluar tadi hingga Carra, Edgar dan Violet tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Sekitar 30 menit berlalu Deren keluar dengan langkah cepat mendekat ke arah Violet yang duduk di kursi tunggu bersama Carra yang sudah berada dalam pelukan Edgar lalu tiba-tiba dia berlutut di hadapan Violet dengan wajah yang penuh dengan bekas air mata dan mata yang memerah, “Violet, maukah kau menikah denganku hari ini, saat ini?” tanya Deren dengan tatapan memohon hingga membuat Violet kaget setengah mati. Tidak hanya Violet yang kaget tapi Carra dan Edgar pun sama kagetnya dengan Violet karena mereka hanya tahu bahwa kedua kakaknya itu hanya akan bertunangan dulu itupun masih 10 hari lagi.


Violet pun hanya diam menatap Deren karena dia tidak tahu harus menjawab apa, jika mau di katakan dia pasti akan menolak ini dengan lantang karena sesuai kesepakatan mereka lebih dulu melakukan pertunangan dan itu masih 10 hari lagi dan barulah menikah 3 bulan lagi tapi kini laki-laki itu berlutut di hadapannya memintanya menikah hari ini tentu saja ini tidak masuk di akalnya dan ingin sekali di tolaknya tapi saat melihat wajah Deren yang memohon dengan isyarat dan mulutnya tanpa suara seolah membentuk kata please. Violet pun menghela nafasnya dalam lalu dia mengangguk, “Aku bersedia!” jawab Violet akhirnya karena dia mengerti pasti laki-laki itu punya alasannya melakukan ini.


Deren pun bernafas lega dan langsung memasangkan cincin yang baru mereka beli tadi ke jari manis Violet lalu memeluk Violet erat, “Terima kasih! Aku berterima kasih padamu! Sangat!” bisik Deren pelan di telinga Violet. Violet pun hanya diam saja tanpa membalas pelukan Deren. Sementara Edgar dan Carra hanya diam saja menatap keduanya dengan seribu pertanyaan di kepala masing-masing terutama Edgar dia menatap Violet dalam seolah meminta penjelasan atas semua yang terjadi. Violet hanya membalas dengan senyuman tatapan adik laki-lakinya itu karena dia pun gak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kita akan menikah di sini malam ini, di ruangan mommy!” ucap Deren melepas pelukannya.


“Kamu tidak keberatan kan?” lanjut Deren bertanya.


Violet hanya mengangguk lalu Deren pun tersenyum tipis dan segera pergi dari sana untuk menelpon anak buahnya untuk mempersiapkan pernikahan dadakannya.


Carra pun segera mendekati Violet dan memeluknya karena sebentar lagi Violet akan menjadi kakak iparnya, “Selamat untuk pernikahan kalian kak, aku ikut bahagia untuk kalian walau pernikahan ini dadakan. Aku memang kaget tapi aku yakin kak Deren punya alasannya sendiri. Terima kasih sudah mau menikah dengan kakakku.” Ucap Carra lalu melepas pelukannya karena ternyata ada suster yang keluar dari ruangan sang mommy menyuruhnya untuk masuk menemui sang mommy. Dia pun segera masuk ke ruangan itu meninggalkan kedua kakak beradik di luar.


Cukup lama keheningan terjadi hingga, “Kak, kau yakin menerima pernikahan ini? Bukan aku tidak setuju kak, aku tahu tuan Deren orangnya baik hanya saja ini terlalu dadakan bahkan yang aku tahu kalian hanya akan bertunangan dulu tapi hari ini kalian akan menikah bahkan ibu gak tahu bahwa putrinya akan menikah.” Ucap Edgar.


Violet pun baru ingat bahwa dia memang belum bicara dengan sang ibu menerima lamaran ini dengan cepat, “Kau tenang saja Edgar aku akan menjelaskannya kepada ibu kalian.” Bukan Violet yang menjawab melainkan Deren yang baru selesai menelpon anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2