
Ibu Anggi tersenyum menatap putry dan menantunya, "Ibu tahu." ujarnya
Violet dan Deren yang mendengar respon yang diberikan ibu Anggi seketika membulatkan mata mereka dan segera duduk di sofa yang berhadapan dengan ibu Anggi, "Kok bisa ibu udah tahu padahal kami belum mengatakan apapun?" ujar Violet.
Ibu Anggi lagi-lagi tersenyum mendengar ucapan putrinya, dia tahu pasti putri dan menantunya itu kaget akan respon yang dia berikan tadi, "Ya ibu tahu kalian mau bicara tentang foto itu kan?" Ucap ibu Anggi.
Deren dan Violet mencerna ucapan ibu Anggi itu lalu kemudian pasangan suami istri saling memandang, "Apa ibu sudah mengetahui tentang foto itu?" tanya Violet.
Ibu Anggi mengangguk, "Yaa ibu mengetahuinya kemarin saat tidak sengaja melihat-lihat foto masa kecilmu. Ibu juga kaget saat melihat anak kecil itu tapi selanjutnya ibu tersenyum bahagia dan senang karena ternyata takdir yang membawa kalian sudah ada sejak kecil." ucap ibu Anggi tersenyum bahagia karena masih tidak menyangka bahwa dulunya mereka yang datang menyumbang ke panti asuhan itu sekarang salah satu anak di sana menjadi menantunya dengan membawa takdir yang berbeda.
Violet mengangguk mengerti, "Jadi ibu yang meletakkan album ini di kamarku?" tanya Violet karena dia memang ingat dengan betul bahwa album foto masa kecilnya tersimpan di lemari ibunya dan tidak mungkin bisa tiba-tiba ada di kamarnya.
Ibu Anggi mengangguk tersenyum, "Ibu juga ingin kalian menyadarinya sendiri. Jadi kemarin setelah ibu mengetahui hal itu, ibu segera meletakkan album itu di kamarmu." jawab ibu Anggi.
"Terima kasih bu." ucap Deren yang dari tadi hanya diam saja mendengar ibu dan istrinya itu bicara.
"Jangan berterima kasih nak. Ibu akan selalu melakukan yang terbaik untuk anaknya." timpal ibu Anggi.
"Ibu setelah mengetahui bahwa aku anak panti itu apa ibu tetap menerimaku sebagai menantumu?" tanya Deren yang langsung mendapat tatapan tak suka dari Violet. Dia tidak suka jika suaminya itu merendahkan dirinya seperti itu.
"Honey bicara apa kau?" ucap Violet sedih. Deren segera melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
__ADS_1
"Ibu bukan orang gila harta nak. Ibu sudah tahu statusmu yang memang anak angkat di keluarga Robert dan kenyataan yang ibu sadari kemarin tidak mengubah apapun karena sejujurnya ibulah yang berterima kasih padamu karena sudah menerima Violet dengan baik nak. Kami mungkin dulunya sering kesana berbagi rezeki tapi kini kami bukanlah siapa-siapa lagi sedangkan keluargamu menerima kami dengan baik. Jadi jangan pernah menanyakan sesuatu seperti itu lagi karena kita tidak bisa memilih takdir hidup kita." Jawab ibu Anggi.
Deren segera mendekat ke arah ibu Anggi, "Terima kasih ibu dan maafkan diriku yang sudah mengajukan pertanyaan itu." Ucap Deren yang berlutut di depan ibu Anggi.
Ibu Anggi tersenyum, "Ibu akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian nak. Jagalah Violet dengan baik walau usianya sudah hampir tiga puluh tapi dia tetaplah gadis manja. Sifat itu hilang karena kepergianmu saat itu maka kembalikan lagi dia seperti dulu nak. Lia yang sering menganggumu." ucap Ibu Anggi tulus lalu meminta Deren berdiri.
Deren mengangguk tersenyum dia juga sepertinya ingin melihat sifat ceria istrinya itu lagi, sikapnya yang suka mengganggunya.
Deren menatap Violet yang hanya diam menyimak ucapan ibu dan suaminya. Setelah itu keduanya segera pamit untuk ke mansion.
***
Violet yang mendengar pertanyaan suaminya seketika menatap sinis suaminya, "Apakah aku gak boleh menatap suamiku sendiri? Apa aku salah melakukan itu? Baiklah mulai saat ini aku tidak akan menatapmu lagi." ucap Violet lalu dia segera memalingkan wajahnya menatap luar.
Deren gelagapan mendengar balasan sang istri, "Sayang, maksudmu bukan seperti itu. Maaf yaa, kamu boleh menatapku sesukamu. Tapi aku mohon jangan marah yaa. Maafin suamimu ini." Ucap Deren merasa bersalah. Percayalah Violet mendengar itu mencoba menahan senyumnya karena dia hanya ingin mengerjai suaminya tidak benar-benar marah seperti anggapan sang suami. Mana mungkin dia marah kepada suaminya itu.
Violet yang sudah tidak bisa menahan tawanya apalagi masih mendengar kata maaf berulang kali yang terdengar dari bibir sang suami seketika tertawa menghentikan aktingnya, "Hahahhahah, aku bercanda suamiku. Aku hanya ingin mengerjaimu saja. Maaf yaa! Salah sendiri juga melarangku menatapmu." ucap Violet.
Deren pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan istrinya itu. Tadinya dia berpikir bahwa istrinya itu benar-benar marah tidak tahunya hanya mengerjainya saja, "Maaf yaa suamiku." Kini giliran Violet yang meminta maaf karena sudah mengerjai suaminya itu.
Deren hanya diam saja dan menghentikan mobilnya. Violet yang menyadari mobil berhenti, "Kok berhenti?" ucap Violet bermaksud untuk melihat ke luar tapi belum juga dia menengok sang suami segera menahan tengkuknya dan melabuhkan ciuman lembut di bibir sang istri.
__ADS_1
Setelah sekitar tiga menit larut dalam ciuman lembut itu keduanya segera melepasnya, "Lain kali jangan ulangi lagi seperti itu yaa sayang. Aku pikir tadi kamu benar-benar marah." ucap Deren setelah menyudahi ciumannya dan sambil melap sisa saliva mereka di bibir sang istri.
Violet mengangguk saja, "Ayo kita turun." ajak Deren kemudian.
Violet hanya membulatkan matanya lalu dia segera menatap sekeliling yang ternyata mereka sudah ada di halaman mansion. Dia pikir suaminya itu menghentikan mobilnya belum tiba di mansion karena dia tidak menyadarinya, "Ayo sayang turun atau mau ku gendong." tanya Deren membukakan pintu sang untuk istrinya itu dan menatap istrinya yang masih terbengong.
Violet segera tersadar begitu mendengar ucapan suaminya lalu segera turun. Keduanya segera masuk sambil bergandengan tangan. Deren sudah meminta bodyguard untuk membawakan barang istrinya masuk ke dalam.
Begitu masuk ke dalam para maid langsung menyambut kepulangan tuan dan nyonyanya mereka itu, "Selamat datang kembali di mansion ini nyonya." ucap para maid.
Deren yang mendengar hanya istrinya yang di sambut, "Ehm, apa kalian hanya menyambut istri saya saja?" tanya Deren hingga membuat para maid itu saling memandang takut. Deren sebenarnya hanya ingin mengerjai para maidnya itu. Dia senang jika mereka menyambut istrinya dengan baik.
"Maaf tuan. Kami juga menyambut anda tuan." ucap para maid.
"Sudahlah kalian terlambat." balas Deren.
Violet yang menyadari bahwa suaminya hanya mengerjai para maid itu pun segera mencubit pinggang sang suami, "Jangan mengerjai mereka suamiku. Sudahlah para mbak kalian bisa kembali bekerja lagi. Terima kasih sudah menyambut kami." ucap Violet yang langsung dituruti oleh para maid itu.
"Sayang, kenapa mereka sangat patuh padamu." ujar Deren.
Violet hanya mengedikkan bahunya lalu dia tidak menyadari bahwa sang suami sudah menggendongnya menuju kamar. Violet pun hanya bisa pasrah akan hal itu dan setibanya di kamar terjadilah ritual panas pada siang hari itu.
__ADS_1