
Violet segera menuju ke dapur dan kembali berkutat di dapur dengan di bantu oleh para pelayan untuk menyiapkan makanan Deren karena makan siang tadi sudah di habiskan oleh para pelayan dan bodyguard.
Setelah 30 menit akhirnya dia selesai memasak nasi goreng kecap ala Violet beserta lauknya telur dadar goreng serta rica bawang. Dia pun segera mempersiapkan makanan itu di nampan dengan di bantu pelayan lalu segera membawanya menuju ruang kerja di mana sang suami berada, “Mbak jika kalian ingin memakan nasi goreng itu makanlah!” pesan Violet lalu beranjak dari dapur.
Para pelayan pun segera mendekati panji yang berisi sisa nasi goreng buatan nyonya mereka itu lalu langsung mencicipinya, “Wow sangat lezat!”
“Kau benar ini sangat lezat seperti nasi goreng buatan koki professional.”
“Apa nyonya muda kita itu titisan koki professional? Kenapa masakan buatannya selalu saja lezat!”
Begitulah bisik-bisik para pelayan itu.
***
Kini Violet sudah tiba di ruang kerja sang suami tapi dia ragu untuk mengetuknya karena takut mengganggu.
“Ahh biarin saja dia marah aku kan hanya ingin mengantar makanan untuknya.” Ucap Violet setelah cukup lama berpikir.
Tok tok tok
“Masuk!” ucap Deren dari dalam mempersilahkan.
Violet pun segera membuka pintu ruang kerja suaminya, “Apa aku bisa masuk?” izin Violet.
Deren yang tengah fokus dengan dokumen mendengar suara yang membuatnya kesal tadi pun hanya menatap Violet sekilas, “Aku hanya ingin mengantar makanan ini untukmu.” Ucap Violet.
Tapi Deren hanya diam saja, Violet pun segera masuk dan meletakkan makanan yang di bawanya itu di meja sofa yang ada dalam ruangan itu, “Makanlah selagi panas! Semoga kau menyukainya!” ucap Violet segera berlalu menuju pintu tapi saat dia akan keluar, “Apa kau akan pergi begitu saja?” tanya Deren tapi tidak menatap Violet.
Violet pun tidak jadi keluar dan segera mendekati Deren, “Aku tahu kau sedang merajuk tapi walau begitu makanlah makanan itu. Aku tidak ingin kau sakit nanti karena belum makan siang.” Ucap Violet.
“Apa kau memperhatikanku?” tanya Deren menatap Violet dengan senyuman menggoda.
__ADS_1
Violet hanya menghela nafasnya, “Aku hanya tidak ingin nanti aku akan kerepotan lagi mengurusmu jika sakit selain itu juga aku tidak ingin di cap sebagai istri yang tidak memberi makanan kepada suaminya walau ini pernikahan kontrak tapi tetap saja aku memiliki tanggung jawab.” Balas Violet.
Deren pun menyembunyikan kekecewaan yang melandanya itu hanya karena ucapan Violet padahal itu memang kebenarannya, “Kalau begitu bisakah kau menyuapiku?” tanya Deren.
“Hey anda itu sudah besar dan juga sangat sehat masa iya harus di suapi.” Ucap Violet.
“Yaa sudah jika gak mau padahal aku sangat lapar sedang dokumen ini harus segera aku selesaikan.” Ucap Deren pura-pura sedih.
Violet pun hanya menghela nafasnya lalu segera mengambil piring yang berisi nasi goreng lalu menarik sofa kecil agar bisa di samping dekat dengan Deren yang bekerja, “Ayo makan! Aaa,,” ucap Violet lalu menyuapi suaminya itu.
Deren pun tersenyum lalu segera membuka mulutnya dan memakan nasi goreng itu dan begitu masuk ke mulutnya dia terdiam, “Kenapa? Apa gak enak?” tanya Violet karena dia memang tidak sempat mencicipinya tadi.
Deren menggeleng, “Gak ini sangat lezat kok.” ucap Deren jujur.
“Benar?” tanya Violet.
Deren mengangguk, “Jika kamu gak percaya cicipilah!” ucap Deren lalu langsung mengambil sendok dan menyuapi Violet. Violet pun mau tak mau membuka mulutnya, “Bagaimana lezat kan?” tanya Deren dan Violet pun hanya mengangguk.
Violet pun hanya mengangguk, “Akan aku usahakan. Ohiya besok apa bisa aku menemui ibuku?” izin Violet.
Deren pun menatap Violet, “Kita pergi bersama!” ucap Deren dan Violet pun hanya mengangguk lalu segera membuka pintu dan pergi dari ruang kerja Deren.
Deren pun menatap pintu ruang kerjanya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
Tiga hari berlalu dan kini Violet setelah pulang dari sekolah dan memasak nasi goreng untuk di antarkan ke kantor sang suami dia duduk bersama mommy Grysia di ruang tamu membahas resepsi untuk pernikahan mereka.
“Mom, lebih baik untuk resepsinya gak usah deh. Lagian walau tanpa resepsi juga kan aku sudah jadi menantumu!” ucap Violet.
Mommy Grysia menggeleng, “Gak, mommy tetap akan mengadakan resepsi untuk pernikahan kalian. Sudah cukup mommy melihat akad kalian yang sederhana.” Putus mommy Grysia.
__ADS_1
Violet pun hanya bisa diam menyetujui saja, dia memang tidak ingin melakukan resepsi mengingat pernikahan mereka ini yang hanya pernikahan kontrak. Semakin sedikit yang tahu maka semakin baik untuknya dan Deren jika nanti mereka berpisah kelak.
“Kamu bantu mommy memilih!” ucap Mommy Grysia.
Violet pun hanya mengangguk membantu memilih untuk resepsi pernikahannya yang memang akan di lakukan di tanggal yang sama yang sudah di sepakati sebelumnya untuk menjadi tanggal pernikahan mereka.
***
Kini Violet sedang berbaring di kamar, “Kok dia belum pulang?” ucap Violet bertanya-tanya setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 21.47.
Selama dia sudah tinggal di sini jika pun Deren lembur pasti sebelum pukul sembilan malam Deren sudah ada di rumah. Violet yang sedikit khawatir pun segera turun ke lantai satu, “Nyonya anda belum tidur? Apa anda membutuhkan sesuatu?” tanya pelayan yang melihatnya.
Violet menggeleng, “Saya gak butuh apa-apa. Ohiya apa Deren belum pulang?” tanya Violet.
“Tuan Deren sudah pulang kok nyonya tapi tadi saya lihat langsung masuk ke ruang kerjanya.” Jawab Pelayan itu.
Violet pun mengangguk mengerti, “Terima kasih!” ucap Violet lalu dia pun segera kembali ke kamar karena menurutnya mungkin Deren masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Tapi setelah 30 menit berlalu dia menunggu Deren belum juga kembali dari ruang kerjanya.
Violet pun memutuskan untuk menyusul Deren ke ruang kerjanya dengan membawa segelas kopi untuk suaminya itu.
Tok tok tok
“Masuk!” ucap Deren mempersilahkan.
Violet pun segera membuka pintu itu lalu segera masuk dan melihat Deren yang tengah berkutat dengan dokumennya, “Kopi!” ucap Violet.
Deren yang tadi hanya mengira pelayan yang datang pun begitu mendengar suara Violet langsung menatapnya, “Kenapa kamu kesini? Kenapa belum tidur?” tanya Deren.
“Apa pekerjaan ini sangat mendesak hingga harus di selesaikan secepatnya hingga membuatmu tidak sadar bahwa itu sudah pukul sepuluh. Bekerja sih boleh tapi harus memikirkan kesehatan juga.” Ucap Violet.
Deren pun menatap Violet lalu berdiri dan memeluk Violet dari belakang karena gadis itu sudah akan pergi, “Temani aku di sini sebentar saja!” bisik Deren.
__ADS_1