Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
90


__ADS_3

Begitu Violet mengatakan ingin menemui Arini, Deren langsung saja mengangguk dan menyetujuinya lalu segera meminta Ronal agar Arini ke ruangannya.


Dan inilah sekarang Arini sedang ada di ruangan Deren duduk menunduk di hadapan suami istri itu. Arini tidak berani menatap keduanya karena entah kenapa menurutnya baik Deren maupun Violet sama-sama memiliki aura mengintimidasi dan jujurlah saat ini dia merasa terintimidasi, "Saya sudah membaca artikel yang kau buat. Dan menurut saya..."


"Nyonya saya tahu artikel itu masih kurang baik, saya akan memperbaikinya segera dan membuatnya dengan baik dan lebih menarik lagi." Potong Arini.


Violet tersenyum mendengar itu dan dia menyadari bahwa gadis di harapannya itu sedang gugup atau mungkin takut, "Saya belum selesai bicara. Jangan memotongnya." Ucap Violet dengan auranya yang mampu membuat orang merasa gugup padahal tidak ada suara tajam di sana, hanya ada ketegasan.


"Maaf nyonya." ujar Arini semakin menunduk.


"Kau membuatnya takut sayang." ucap Deren terkekeh.


"Salahnya sendiri memotong pembicaraanku. Aku belum selesai dan dia belum mendengar pendapatku tapi dia sudah memutuskannya sendiri bahwa artikel itu kurang baik dan menarik. Padahal menurutku artikel itu sudah sangat baik, hanya saja aku ingin memberikan saran kepadanya untuk menambahkan inisial namanya mungkin atau apa yang bisa di jadikan sebagai bukti bahwa dia ada penulis artikel itu." Ucap Violet lembut.


Arini yang mendengar itu terharu karena dia salah lagi memahami istri dari tuannya itu. Ternyata istri bosnya yang baru beberapa jam ini sangatlah baik. Tidak hanya baik tapi cantik juga. Sangat cantik.


"Apa kau menerima saran saya?" Tanya Violet.


Arini mengangkat kepalanya dan menatap Deren seolah meminta izin untuk itu, "Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Jawab saja pertanyaan istriku. Jika memang kau tidak menyetujui sarannya kau bisa menolak." ujar Deren cuek.


"Emang bisa tuan? Bukankah artikel itu akan menjadi milik perusahaan ini?" tanya Arini hati-hati.

__ADS_1


"Itu milikmu karena kau penulisnya. Kami hanya menerbitkannya tapi kaulah pembuatnya. Jadi lakukan menurutmu menarik tapi satu hal yang tidak boleh kau langgar jangan pernah membuat berita yang dapat merugikan perusahaan ini apalagi berita itu bohong. Kau hanya ditugaskan merilis artikel yang berguna untuk perusahaan dan real terjadi." Ujar Deren.


"Paham kan?" lanjut Deren.


Arini segera mengangguk mengerti, "Terima kasih tuan, nyonya atas semuanya. Terima kasih atas sarannya. Saya akan mengeditnya." Ucap Arini membungkuk berterima kasih.


"Editlah di sini, saya akan melihatnya sampai kau merilisnya." ucap Violet.


Arini pun hanya mengangguk lalu dia segera mengedit artikel itu untuk menambahkan namanya. Violet mengawasinya sampai rilis, "Ini kan jadi menarik. Ohiya fotonya kirimkan kepada saya. Foto yang kau ambil." ucap Violet mulai membaca artikel yang baru di rilis lima menit lalu tapi sudah ratusan orang yang membacanya bahkan Arini saja sampe kaget karena baru kali ini melihat view sebanyak itu hanya dalam beberapa menit di rilis dan terus meningkat. Arini yakin bahwa ini akan menjadi pencapaian terbesarnya sebagai penulis artikel.


Dalam waktu 30 menit artikel itu sudah banyak yang meneruskan dan sudah ada beberapa tv dan media yang mulai memberitakannya tapi tetap saja mereka masih penasaran dengan wajah asli calon istri Deren itu.


"Di blur saja sudah kelihatan cantiknya apalagi tidak di blur. Mungkin sangatlah cantik bagai bidadari."


"Ahh kak Ar sepertinya ingin bermain tebak-tebakkan."


Arini tersenyum membaca komentar-komentar yang di tinggalkan pembaca itu. Rata-rata dari mereka penasaran akan kecantikan Violet, "Aku yakin kalian akan syok nanti jika melihat secara langsung wujud nyonya Violet karena kecantikannya itu tidak membosankan. Ahh aku mengaguminya entah perawatan apa yang dia pakai untuk merawat tubuh dan wajahnya." Gumam Arini sambil terus membaca komentar-komentar itu dan jika ada komentar buruk yang lewat dia segera menghapusnya atau membalasnya dan tentu saja dengan akunnya yang lain.


Sementara Violet dan Deren setelah memastikan artikel rilis mereka segera menuju butik untuk melakukan fitting karena Carra dan Edgar sudah meneror mereka dari tadi.


Dan di sinilah Violet dan Deren berada di salah satu ruangan butik langganan mommy Grysia. Mereka lewat jalan VIP sehingga tidak ada yang melihat kedatangan mereka, "Kakak, kenapa lama datangnya sih? Kami sudah menunggu sekitar satu jam di sini." protes Carra begitu melihat kedatangan keduanya.

__ADS_1


"Gak usah protes masih untung kami datang. Sudahlah lebih baik segera tunjukkan gaun yang sudah kau pilih, awas saja jika tidak cantik dan terlalu terbuka. Lagian menunggu satu jam itu tidak lama." Jawab Deren tanpa rasa bersalah.


"Satu jam tidak lama? Kak, sejak kapan kau bersikap seperti itu? Bukankah dulu kau selalu mengatakan bahwa waktu adalah dolar." balas Carra tidak terima.


Sedangkan Violet dan Edgar hanya saling memandang karena mereka sudah biasa dengan perdebatan seperti ini yang selalu saja terjadi jika Deren dan Carra bertemu. Jarang sekali melihat mereka akrab tanpa ada perdebatan. Ahh mereka bisa akrab jika merencanakan kejutan untuk orang lain.


"Sudah sayang jangan berdebat dengan kakakmu. Lebih baik sekarang kita minta mereka untuk segera membawakan gaun dan jas untuk kakak dan kakak ipar agar waktu tidak semakin terbuang." ucap Edgar bijak.


"Tuh dengerin ucapan kekasihmu itu." timpal Deren lalu segera ikut duduk bersama sang istri.


Carra pun hanya bisa menghela nafasnya segera meminta karyawan butik itu untuk segera membawakan gaun dan jas yang sudah dia pilih sebelumnya. Tidak lama karyawan datang dengan dua buah gaun, dua kebaya modern serta dua tiga setelan tuxedo.


"Pilihlah kak yang mana yang kau suka." ucap Carra kepada Violet.


Violet berdiri lalu di bantu oleh karyawan butik itu mencobanya memakainya dan sekitar lima belas menit Violet keluar dengan gaun. Ketiga orang itu segera menatap Violet dengan kagum, "Kau sangat cantik kak. Gaun itu sangat cocok di tubuhmu." Ucap Carra berdiri mendekati Violet.


Deren tidak berhenti menatap istrinya yang terlihat sangat cantik hingga membuatnya ingin membatalkan resepsi pernikahan saja karena tidak ingin membagi kecantikan istrinya dengan yang lain, "Sayang, kau sangat cantik dengan gaun ini hingga membuatku ingin membatalkan resepsi pernikahan kita." ujar Deren.


"Jangan gila suamiku. Ini semua demi mommy. Selain itu juga kasihan para bawahanmu yang sudah bekerja keras agar resepsi pernikahan ini bisa terlaksana dalam waktu tiga hari." balas Violet.


"Salah sendiri kamu sangat cantik sayang." timpal Deren.

__ADS_1


"Aku tahu kak Violet itu cantik kak tapi sekarang kita lihat lagi dia mencoba gaun satunya baru memutuskan mana yang akan di ambil. Dan untukmu kak jangan mencoba membatalkan resepsi pernikahan." Ucap Carra.


Violet pun segera mencoba gaun yang satunya lagi dan lagi-lagi sangat cocok dan cantik di tubuhnya seperti kedua gaun itu sengaja di desain untuknya hingga membuat semuanya bingung memilih. Pada akhirnya Deren memutuskan untuk membeli kedua gaun itu, satu kebaya yang akan di pakai akad serta dua tuxedo untuknya.


__ADS_2