Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
18


__ADS_3

“Apa hubungannya dengan anda?” tanya Morgan menatap Deren.


Deren pun segera menatap balik Morgan dengan tatapan dinginnya, “Kau tak perlu tahu hubungan saya dengannya tapi satu hal yang harus kau ingat jika kau berani menyentuhnya dan tidak menuruti permintaannya kau akan berhadapan dengan saya.” ucap Deren lalu berlalu pergi meninggalkan Morgan.


“Ohiya satu lagi proposal kerja samamu masih saya seleksi.” Lanjut Deren menengok Morgan sekilas lalu segera pergi meninggalkan Morgan yang menggenggam tangannya erat.


“Sial, aku melupakan itu.” Ucap Morgan kesal karena dia melupakan sudah mengajukan proposal kerja sama ke perusahaan milik Deren.


“Viola sebenarnya apa hubungan kalian? Kenapa kau bisa mengenal tuan Deren? Apa karena ini kau ingin melupakanku dan tidak ingin menerimaku kembali? Tapi tidak mungkin Violet menerimanya.” Ucap Morgan bertanya-tanya karena dia yakin Violet tidak akan mungkin menerima pria kaya lagi sebagai kekasihnya atau calon suaminya karena dia sangat hafal sifat Violet jika dia trauma akan sesuatu maka hal itu tidak akan lagi dia lakukan sedangkan Deren adalah pria kaya yang bahkan sepuluh kali lebih kaya keluarganya.


***


“Maaf membuatmu menunggu!” ucap Deren mengatakan maaf untuk pertama kalinya kepada seorang wanita selain mommy-nya dan Carra.


Violet yang menutup matanya pun segera menatap Deren, “Gak apa-apa kok. Ohiya apa urusannya sudah selesai?” tanya Violet.


Deren pun hanya mengangguk lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan taman itu, “Mau pergi ke suatu tempat dulu atau langsung pulang?” tanya Deren tanpa menatap Violet.


“Langsung pulang saja.” Jawab Violet.


Deren pun hanya mengangguk lalu segera melajukannya menuju rumah Violet. Sekitar 30 menit akhirnya mereka tiba di rumah Violet.


Violet pun segera turun, “Terima kasih sudah mengantar saya pulang.” Ucap Violet segera berlalu tapi di tahan oleh Deren, “Apa kau tidak ingin mengajak saya mampir? Saya belum berkenalan loh dengan ibumu. Sepertinya Carra juga di sini.” Ucap Deren sambil menatap mobil yang sangat dia hafal yang dia yakini milik Carra karena dia yang membelikan mobil itu untuk Carra.

__ADS_1


Violet pun menatap arah tatapan Deren dan baru menyadari bahwa itu memang mobil Carra, tiba-tiba dia teringat, “Vespaku!” ucap Violet baru mengingat bahwa dia meninggalkan vespa kesayangannya itu di sekolah TK.


Deren yang melihat ekspresi Violet dia ingin tertawa tapi di tahannya, “Tenanglah, vespamu itu sudah aman. Lihatlah!” tunjuk Deren ke arah vespanya yang sudah terparkir dengan indah di halaman rumahnya.


“Kok bisa di sini? Apa tuan yang membawanya kesini?” tanya Violet menatap Deren.


“Menurutmu? Makanya jika pergi itu jangan tinggalkan barang di suatu tempat untung saja anak buah saya mengantarnya kesini jika tidak kau pasti akan kehilangan vespamu itu.” Ucap Deren.


Violet pun cemberut, “Terima kasih!” ucap Violet dan di balas anggukan oleh Deren.


“Saya mau masuk, boleh yaa! Kan saya sudah janji mau mampir, saya juga ingin ketemu ibumu sekalian Carra.” ucap Deren segera berlalu meninggalkan Violet yang masih terdiam di pinggir mobil Deren.


“Eehh,, tunggu dulu tapi kok vespa itu bisa ada di sini? Bagaimana anak buah anda membawanya kan kuncinya ada sama saya.” tanya Violet setelah berhasil menyamai langkah Deren.


Deren pun hanya mengangkat bahunya, “Saya gak tahu, apa perlu saya tanyakan kepada anak buah saya bagaimana mereka membawanya kesini?” tanya Deren menatap dekat Violet hingga mata mereka saling ketemu.


Deren yang di tinggalkan hanya tertawa melihatnya lalu segera menyusul Violet dan untuk bagaimana vespa Violet itu bisa ada di sini tanpa kunci tentu saja itu bukan hal mudah untuk anak buah Deren yang memang sudah memiliki kunci cadangannya, itu pun atas perintah Deren untuk membuat duplikat kunci Violet untuk mencegah hal seperti ini terjadi.


“Kak Vio kau sudah pulang? Sama sia--” ucap Carra terhenti begitu melihat sang kakak yang mengikuti dari belakang Violet.


Violet pun hanya diam saja tanpa menjawab lalu segera mendekati sang ibu lalu menyalaminya dan mencium kening sang ibu, “Kakak kenapa kau bisa di sini? Apa kau pulang bareng kak Vio?” tanya Carra penuh selidik menatap sang kakak. Edgar juga tidak kalah menatap Violet.


“Jangan menatap kakak begitu!” ucap Deren dan Violet berbarengan dan tentu saja ucapan mereka itu tertuju kepada adik masing-masing.

__ADS_1


Carra dan Edgar yang mendengar itu pun hanya melongo sementara Deren dan Violet juga hanya saling memandang sekilas, “Ibu, kenalkan dia tuan Deren kakaknya Carra, tadi kami ketemu di taman kota dan tuan Deren menawarkan untuk pulang bersama dan tidak menyangka ternyata Carra juga di sini jadi sekalian mampir. Udah ahh Vio mau ganti pakaian dulu.” Ucap Violet menjawab pertanyaan sang ibu walau ibunya itu hanya diam saja dari tadi lalu setelah menyelesaikan ucapannya dia segera berlalu menuju kamarnya meninggalkan empat orang itu.


“Eeh nak ayo duduk. Carra ajaklah kakakmu duduk nak.” ucap Ibu Anggi ramah.


“Biarkan saja ibu, biarkan dia duduk sendiri. Jika dia sudah lelah pasti akan duduk.” Ucap Carra lalu kembali duduk bersama sang kekasih di sofa di ruang tamu itu kembali membahas skripsi mereka bareng.


“Duduk nak, maaf kursinya cuma seadanya.” Ucap Ibu Anggi mempersilahkan Deren.


Deren pun hanya mengangguk lalu segera duduk, “Terima kasih bu!” balas Deren.


Ibu Anggi hanya tersenyum lalu segera ke dapur untuk membuatkan minuman kepada tamunya. Tidak lama ibu Anggi kembali dengan segelas tiga gelas teh dan kue kering hasil buatan Violet, “Ayo nak silahkan di minum. Ohiya maaf di rumah ini cuma tersedia itu saja.” Ucap Ibu Anggi.


“Gak apa kok bu ini juga sudah lebih baik.” jawab Deren tersenyum.


“Ibu punya Carra mana?” tanya Carra bergelayut manja di tangan ibu Anggi.


“Ini untuk kalian dan untuk camilannya ambil saja di dapur.” Ucap Ibu Violet menyerahkan dua gelas teh kepada Carra lalu segera kembali ke dapur.


“Kak, aku tahu kau pasti tidak suka kan dengan kue kering, sini biar aku saja yang makan. Aku sangat menyukai kue kering buatan kak Vio. Ini buatan kak Vio kan bu?” tanya Carra meraih toples kecil yang berisi kue kering itu tapi belum juga tangannya berhasil meraihnya Deren segera menjauhkan toples itu, “Carra ini untuk kakak loh, kau ambil sendiri.” Ucap Deren.


Carra pun hanya mencebikkan bibirnya, “Sudah sayang biar aku yang akan ambilkan kue buatan kakak kan banyak.” Lerai Edgar lalu segera berlalu ke dapur untuk mengambilkan buat sang kekasih.


“Dasar pelit!!” ucap Carra lalu segera kembali ke tempatnya.

__ADS_1


Deren tidak mempedulikannya lalu dia mencoba mengambil satu kue kering itu dan memasukkannya ke mulutnya. Begitu masuk ke mulutnya ternyata kue kering itu sangat pas di lidahnya dan tanpa sadar dia mengambilnya lagi hingga Violet keluar dari kamarnya dengan setelan casualnya hingga membuat tiga orang di ruangan itu mengalihkan pandangannya kepadanya.


“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Violet heran.


__ADS_2