Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
40


__ADS_3

Kini sudah menunjukkan pukul 19.41 tapi Deren belum juga pulang dari kantornya, Violet yang sudah menunggu dari tadi sebelum magrib selalu melihat ke arah pintu gerbang berharap sang suami segera pulang. Violet bahkan sudah menunggu hampir dua jam bahkan dia sudah selesai melaksanakan sholat isya tapi suaminya itu belum juga pulang.


Violet yang setelah memasak sangat bersemangat kini moodnya berubah sendu bahkan dia yang sudah kelaparan dan cacing di perutnya meminta untuk di isi belum juga menyentuh makanan yang di sajikan di atas meja karena moodnya sudah hilang.


“Nyonya, apa tidak lebih baik anda makan terlebih dahulu saja? Kasihan makanannya sudah dingin atau kami akan memananaskannya untuk anda?” tanya Mbak Ratih yang memang mengetahui bahwa majikannya itu belum makan dari tadi siang.


Violet memandang ketua maid itu lalu menggeleng, “Gak usah mbak, aku belum lapar. Aku akan menunggunya pulang dan makan bersama dengannya. Jika mbak dan para maid lainnya sudah ingin istirahat, istirahat saja biar nanti aku sendiri yang akan memanaskan makanan itu jika dia sudah pulang.” Balas Violet.


“Baiklah jika begitu nyonya tapi jika anda membutuhkan sesuatu panggil saja kami.” Ujar Mbak Ratih lalu dia segera pamit ke belakang.


Violet hanya mengangguk lalu mengambil ponselnya sambil memandangi nomor ponsel suaminya itu. Ingin rasanya dia menelpon suaminya, dia ingat bahwa semenjak mereka menikah dia tidak pernah menelpon sang suami, terakhir kali dan untuk pertama kalinya dia menelpon sang suami adalah saat dia akan menyetujui perjanjian pernikahan mereka. Pikiran Violet sedang berperang antara menelpon suaminya atau tidak tapi entah kenapa dia tidak memiliki keberanian menelpon suaminya itu karena dia takut jika nanti dia mengganggu pekerjaan suaminya. Akhirnya dia memutuskan menunggu saja tanpa menelpon di ruang keluarga mansion itu.


***


Sementara di sisi lain, Deren dan Max baru saja selesai lembur membahas cabang perusahaan yang ada di London.


“Akhirnya selesai juga.” Ucap Deren lalu memandang jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 20.22.

__ADS_1


“Max, aku pulang dulu. Kau juga pulanglah, gunakan mobil lain yang ada di basement. Aku akan menyetir sendiri. Aku sudah terlambat pulang.” Ucap Deren segera berdiri lalu memasang jasnya dan meraih kunci mobil dan ponselnya.


Max yang melihat Deren pergi hanya bisa menggelengkan kepalanya karena dia sudah mulai terbiasa akan sikap tuan mudanya itu yang sudah berubah dan selalu memastikan bahwa dia sudah pulang sebelum pukul 21.00 padahal sebelum dia menikah lembur sampai pagi pun bukan masalah untuknya.


“Aku harap kau bahagia tuan!” gumam Max membersihkan dokumen lalu setelah itu dia pun segera bersiap pulang.


Kurang lebih 30 menit akhirnya Deren tiba di Mansion dia segera turun dari mobil begitu tiba dan menyerahkan kunci mobil kepada pengawal yang berjaga agar mobilnya di tempatkan di parkiran mansion itu. setelah itu Deren segera berlari masuk dan dia menemukan keheningan di Mansion itu.


“Apa mereka sudah tidur?” tanya Deren pada dirinya sendiri.


Dia pun melihat sekeliling dan matanya tertuju pada seseorang yang tertidur di sofa dengan posisi duduk dan tentu saja dia langsung mengenali siapa itu karena dia tahu bahwa adiknya itu menginap di rumah Edgar. Jadi sudah pasti wanita itu adalah istrinya. Deren segera mendekati Violet yang tertidur menunggunya.


“Apa kau menungguku?” ujar Deren duduk di samping istrinya sambil tetap menatap wajah Violet yang hanya bisa dia nikmati saat istrinya itu tidur karena jika dalam keadaan sadar maka dia tidak berani menatap istrinya sedekat ini. Selain takut kena semprot istrinya dia juga menjaga harga dirinya sebagai laki-laki yang di puja oleh banyak wanita di luaran sana, terkesan egois memang tapi itulah dirinya.


Deren semakin mendekatkan wajahnya dekat dengan wajah Violet tapi saat dia ingin mengecup bibir merah muda milik istrinya itu Violet terbangun, “Kau sudah pulang?” tanya Violet kaget karena wajah mereka sangatlah dekat, dengan gerakan cepat dia segera memundurkan wajahnya.


Deren pun kembali menegakkan tubuhnya dan bersikap cool, “Seperti yang kau lihat aku di sini hal itu berarti aku sudah pulang. Apa kau pikir ini hanya rohku saja.” ucap Deren dingin.

__ADS_1


Violet pun hanya menghela nafasnya, “Aku tahu, aku hanya memastikannya saja. Ohiya lebih baik kau segeralah membersihkan diri dan kita makan bersama tapi jika kau sudah makan ma--”


“Aku belum makan malam. Aku akan membersihkan tubuhku dulu.” Jawab Deren cepat lalu segera berdiri dan menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Violet pun ikut berdiri juga lalu menuju meja makan untuk menghangatkan makanan itu kembali.


Setelah sekitar 20 menit kemudian Deren sudah turun dengan pakaian casualnya hanya memakai kaus dan celana selutut yang semakin menambah ketampanan laki-laki itu. Deren segera duduk di salah satu kursi meja makan itu sambil melihat hidangan di sana dan dia baru menyadari bahwa hidangan itu adalah makanan kesukaannya. Dia menatap Violet yang juga sudah duduk sambil mengambilkan piring dan sendok untuknya.


“Kau yang memasak ini semua?” tanya Deren.


Violet tersenyum lalu mengangguk, “Aku memasaknya tadi tapi sudah dingin dan aku baru saja menghangatkannya. Semoga rasanya tidak berubah dan sesuai seleramu.” Balas Violet segera memberikan steak itu kepada suaminya.


Deren menatap steak di hadapannya dan dia mengingat bahwa steak ini seperti buatan mommynya, “Aku belajar dari mommy, katanya kau sangat menyukai steak buatannya dan aku baru mempelajari dan memasaknya untuk pertama kali tadi semoga hasilnya lumayan dan kau menyukainya.” Ucap Violet.


Deren tersenyum menatap Violet lalu mengambil steak itu dan mulai memotongnya lalu dia memasukkan steak itu ke mulutnya. Violet memandang suaminya dengan tegang apalagi melihat ekspresi suaminya, “Jika memang tidak sesuai seleramu gak usah di makan. Maaf aku baru pertama kali mencoba memasaknya dan sudah berani menghidangkannya untukmu.” Ucap Violet menunduk.


Deren tersenyum, “Ini enak kok sangat enak sama persis seperti buatan mommy. Terima kasih sudah membuatkannya untukku.” Ucap Deren tulus.


Violet mengangkat wajahnya dan menatap Deren balik, “Sungguh? Apa benar itu sangat lezat? Kau tidak membohongiku kan hanya untuk menyenangkan hatiku?” tanya Violet.

__ADS_1


Deren lagi-lagi tersenyum, “Untuk apa aku membohongimu? Gak ada manfaatnya untukku. Selain itu juga apa hak yang ku miliki hingga aku harus berbohong untuk menyenangkan hatimu.” Ujar Deren kembali memasukkan steak itu ke mulutnya. Dia memang tidak berbohong, steak itu sangat lezat dan sama persis seperti buatan Mommy Grysia.


“Kau benar. Kita tidak memiliki hak satu sama lain.” Ucap Violet tersenyum kecut sambil menahan sesuatu di dalam hatinya. Sesuatu yang terasa nyeri tapi dia tidak tahu apa penyebabnya.


__ADS_2