Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
68


__ADS_3

Deren yang mendengar hal itu tersenyum, “Ternyata istriku ini sangat pencemburu yaa!” ujar Deren mencubit pipi istrinya gemas.


“Sakit suamiku!” ujar Violet.


“Maaf sayang bagaimana kamu menggemaskan aku kan jadi gak tahan.” Ucap Deren sambil mengusap lembut pipi istrinya yang tadi di cubitnya.


“Gemas sih gemas tapi jangan cubit juga lah.” Timpal Violet.


“Maaf sayang.” Ujar Deren sambil memegang kedua kupingnya.


Violet yang melihat itu seketika tertawa, “Kau sangat lucu suamiku.” Ujar Violet.


“Sayang jangan tertawa. Aku tidak rela jin mendengar tawamu.” Ucap Deren.


“Dasar pencemburu!” ledek Violet.


“Aku memang pencemburu sayang sangat pencemburu. Aku mengakui hal itu. Jadi kau harus siap dengan keposesifanku nanti.” Ucap Deren.


“Aku juga pencemburu suamiku. Aku juga tidak ingin apa yang kumiliki di sentuh oleh orang lain. Jadi kau juga harus siap menerima keposesifanku juga.” Balas Violet.


“Aku menerimanya. Aku sangat menyukai hal itu. Aku menantikannya. Kita melakukan akad besok saja yaa! Jangan lama-lama aku tidak tahan.” Ucap Deren.


“Jangan terburu-buru suamiku. Aku ingin akad kedua kita ini tidak ada kebohongan lagi. Aku ingin mengatakan semuanya kepada Edgar, Carra terlebih ibu. Aku harap kau menyetujuinya.” Ucap Violet.


Deren pun mengangguk karena dia juga menginginkan hal itu, “Baiklah jika begitu. Kita akan mengakui itu besok di depan mereka.” Ucap Deren.


“Dasar tidak sabaran.” Ucap Violet.


“Aku tidak ingin kehilanganmu sayang. Aku tidak ingin kau menjadi milik orang lain. Bukankah sudah ku katakan aku ini sangat posesif jadi kau harus terbiasa mulai sekarang dengan hal itu.” ucap Deren.

__ADS_1


Violet pun hanya menghela nafasnya, “Terserah padamu saja suamiku. Aku mengikuti apa maumu. Tapi bagaimana jika setelah mendengar pengakuan kita mereka tidak akan menyetujuinya.” Ujar Violet.


“Aku pastikan mereka pasti akan mengerti.” Ucap Deren.


Violet pun hanya mengangguk saja, “Sudahlah jangan bahas itu, sekarang lebih baik kita tidur karena itu sudah malam. Tidur larut malam tidak baik untuk seorang wanita karena itu akan mempengaruhi kualitas sel telur.” Ucap Deren entah benar atau tidak.


Violet yang mendengarnya hanya menatap Deren, “Ilmu dari mana itu? Masa sih ada yang seperti itu?” Tanya Violet.


Deren tidak menjawabnya tapi langsung menggendong Violet keluar dari ruang kerjanya. Violet yang kaget dengan apa yang di lakukan Deren sedikit berteriak, “Suamiku apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Aku berat suamiku.” Ucap Violet.


“Kamu sangat ringan sayang. Sudah diam aku pasti akan menurunkanmu tapi nanti sudah tiba di kamar.” Ujar Deren mulai menaiki tangga. Violet yang menyadari hal itu segera mempererat pegangannya karena dia pikir suaminya itu akan menggunakan lift tapi ternyata tangga.


“Jangan takut sayang, aku tidak akan membiarkanmu jatuh. Aku sudah bersiap untuk menggendongmu seperti ini jadi jangan takut.” Ucap Deren saat sudah tiba di lantai dua dan segera menuju di mana kamar mereka berada lalu setelah sampai di sana Violet segera di letakkan di ranjang dengan sangat hati-hati seperti Violet adalah barang yang mudah pecah.


“Apa kita akan tidur seranjang?” Tanya Violet.


“Tentu saja.” Jawab Deren singkat.


“Aku janji tidak akan melakukan itu sampai akad kedua kita di lakukan. Aku hanya ingin memelukmu saja ketika tidur. Tidak lebih!” ucap Deren memotong pembicaraan istrinya karena dia tahu apa yang akan di ucapkan istrinya itu.


“Emang sanggup tidur berdua? Bukankah tadi kamu mengatakan akan--”


“Aku pastikan sampai akad kita nanti aku masih bisa menahannya. Jadi jangan khawatir sayang. Boleh yaa hanya meluk saja. Please!” mohon Deren.


Violet yang melihat ekspresi memohon suaminya itu pun tersenyum lalu mengangguk karena sejujurnya dia juga ingin hal itu tapi gengsi. Biasalah itu adalah sifat perempuan jadi jangan heran lagi.


Akhirnya malam itu mereka tidur seranjang dengan berpelukan tanpa melakukan hal lain seperti janji Deren hanya memeluk saja.


***

__ADS_1


Keesokan subuh saat adzan berkumandang, Violet perlahan membuka matanya dan yang dia lihat pertama kali suaminya yang menatapnya dengan senyuman, “Pagi sayang!” ucap Deren lalu mengecup kening Violet walau sebenarnya dia ingin mengecup bibir istrinya itu.


Violet tersenyum, “Pagi!” balas Violet malu karena suaminya itu terlihat sangat tampan walau baru bangun tidur dan dia yakin saat ini tampilannya sangat jelek dengan rambut berantakan.


“Kamu cantik sayang. Sangat cantik.” Ucap Deren seolah mengerti apa yang di pikirkan istrinya. Violet yang mendengar hal itu tersentak karena suaminya bisa membaca apa yang dia pikirkan.


Setelah itu Deren segera turun dari ranjang dan segera menggendong Violet ke kamar mandi untuk bersiap-siap melakukan sholat subuh.


Untuk pertama kalinya mereka sholat berjamaah karena biasanya mereka selalu sholat sendiri-sendiri. Setelah selesai sholat Violet segera mencium tangan suaminya dan Deren mengecup kening istrinya itu.


“Suamiku, aku akan turun ke bawah. Kamu mau aku masakin apa?” Tanya Violet setelah mengatur alat sholat yang mereka gunakan.


“Emm,, aku ingin makan nasi goreng saja seperti buatanmu saat itu saat kita baru beberapa hari menikah.” Jawab Deren.


Violet pun mengangguk saja, “Baiklah aku akan membuatkannya untukmu suamiku nasi goreng special penuh cinta buatan Violet.” Ujar Violet lalu segera berlalu keluar kamar meninggalkan Deren yang gemas dengan tingkah istrinya.


“Dia sebenarnya umur berapa sih? Kenapa sangat menggemaskan jadi pengen cium kan jadinya.” Ucap Deren lalu segera menepuk kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotornya karena jika tidak akan berakibat fatal nanti yang membuatnya harus berakhir di kamar mandi. Deren pun segera berdiri menuju ruang gym-nya untuk berolahraga dan menghilangkan pikiran kotornya.


Sementara Violet kini sudah tiba di dapur, “Selamat pagi mbak-mbak!” sapa Violet tersenyum kepada para maid.


Para maid yang melihat Violet heran karena mereka tidak tahu bahwa nyonya muda mereka itu sudah pulang yang mereka tahu nyonya mereka itu sedang sakit dan berada di rumah ibunya, “Nyonya sudah pulang?” Tanya mbak Ratih.


Violet tertawa mendengar pertanyaan ketua pelayan itu, “Tentu saja aku sudah pulang mbak. Apa mbak pikir ini hanya rohku?” Tanya Violet balik.


Mbak Ratih menggeleng, “Bukan begitu nyonya hanya saja kami tidak mengetahui kapan nyonya datang.” Ucap mbak Ratih yang di angguki oleh para maid yang lain.


Violet tersenyum, “Aku pulang semalam saat sesudah isya. Saat saya datang para mbak sudah gak ada dan Mansion gelap serta sunyi seperti tidak ada penghuni.” Ujar Violet.


“I-itu kami di pinta oleh tuan untuk segera beristirahat nyonya. Maaf kami tidak menyambut nyonya pulang.” Ucap salah satu maid.

__ADS_1


“Gak apa-apa kok, saya ngerti. Sudahlah lebih baik sekarang beberapa mbak bantu saya untuk memasak nasi goreng. Yang lain bekerja sesuai tugasnya.” Ucap Violet mulai mengambil bumbu-bumbu dari kulkas.


Para maid pun segera mengangguk begitu Violet memberi perintah dan segera melaksanakan tugas mereka dengan bersemangat karena sejujurnya mereka juga rindu nyonya mereka itu. Akhirnya Violet dan beberapa para maid pun mulai mengeksekusi bahan makanan untuk di jadikan masakan enak.


__ADS_2