
Keesokkan paginya saat jam menunjukkan pukul 09.00 kini Violet dan Deren sudah ada di bandara untuk keberangkatan mereka menuju Paris. Mereka di antar oleh Max dan Ronal serta Ibu Anggi, Carra dan Edgar.
"Sayang, jaga diri kalian baik-baik di sana dan bersenang-senanglah di sana. Ibu mendoakan yang terbaik untuk kalian." ucap ibu Anggi menatap sang putri dan menantunya.
Violet tersenyum lalu segera memeluk sang ibu, "Ibu juga jaga diri baik-baik di sini. Edgar, Carra kakak titip ibu yaa." ucap Violet setelah melepas pelukannya dan menatap adik dan adik iparnya.
Carra segera mendekat kepada Violet, "Kakak jangan pikirkan apapun karena kami pasti akan menjaga ibu. Kakak pikirkan saja bagaimana caranya setelah pulang dari Paris nanti sudah ada calon keponakanku di sini." Ucap Carra.
Violet pun tersenyum, "Akan kakak usahakan." Jawabnya lalu memeluk adik iparnya itu.
Setelah selesai berpamitan, begitu juga dengan Deren. Dia juga sudah berpamitan dengan mereka. Kini Violet dan Deren segera masuk ke dalam. Mereka menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Robert jadi tidak butuh tiket. Tidak lama mereka masuk ke dalam pesawat pribadi yang mewah itu, pesawat segera lepas landas.
Singkat cerita kini setelah kurang lebih 17 jam mengudara kini Violet dan dan Deren sudah tiba di bandara internasional Charles de Gaulle. Keduanya langsung turun dari pesawat begitu mendarat lalu Deren sedikit bicara dengan pihak bandara terkait pesawat pribadinya yang memang sudah pihak bandara tahu karena Max sudah mengurus semua ini hingga Deren pun hanya mengatakan beberapa kata saja.
Setelah semua urusan selesai keduanya segera keluar dari bandara dan ternyata sudah di jemput oleh bodyguard-nya yang di minta oleh Deren menjemput dari perusahaan cabang yang ada di negara ini. Sekitar 15 menit saja keduanya tiba di Hotel yang berdekatan dengan menara Eiffel. Keduanya langsung di arahkan ke kamar hotel yang memang sudah Deren pesan sebelumnya dan di sinilah mereka berada di sebuah kamar paling mewah di hotel itu yang biaya per satu harinya saja bisa merogoh kocek besar tapi tentu saja bagi Deren itu bukan masalah karena itu sudah dia rencanakan sejak lama.
Begitu masuk kamar itu Violet langsung tersenyum melihat balkon hotel yang langsung menyuguhkan pemandangan menara Eiffel. Suaminya memang sudah memperhitungkan semuanya. Violet menuju balkon menghirup udara malam Paris sebanyak-banyaknya di sana sambil menatap indahnya menara Eiffel dengan lampunya karena mereka tiba di Paris pass malam waktu setempat. Violet dan Deren memang tiba di kota itu saat baru saja jam menunjukkan isya waktu setempat.
__ADS_1
Deren yang melihat sang istri di balkon tersenyum, dia memang tadi keluar untuk bicara sedikit dengan layanan hotel. Dia memesan makanan untuk keduanya begitu dia masuk dia melihat sang istri di balkon. Deren segera mendekati istrinya dan memeluk dari belakang, "Kamu suka?" tanya Deren berbisik.
Violet tersenyum lalu mengangguk, "Suka pemandangannya atau--" Ucap Deren masih dengan memeluk sang istri dari belakang.
Violet berbalik lalu melabuhkan ciumannya lembut di bibir sang suami, "Suka keduanya baik pemandangannya dan orang di hadapanku ini." Ucap Violet setelah melepas ciuman singkatnya yang sebenarnya Deren tidak ikhlas saat ciuman itu terlepas.
Deren tersenyum mendengar itu lalu segera melabuhkan kecupan di kening istrinya, "Sudah bisa menggombal yaa sekarang. Belajar dari siapa sih?" tanya Deren gemas sambil memperbaiki rambut sang istri.
Violet yang mendengar hal itu bersikap seolah-olah sedang berpikir keras, "Emm, aku gak ingat entah belajar dimana dan sama siapa tapi yang pasti dia adalah guru yang hebat hingga membuatku jatuh cinta kepadanya." Ucap Violet.
Deren yang mendengar itu semakin gemas dan memeluk istrinya lagi, "Aku juga mencintaimu sayang." Balas Deren.
Deren pun tertawa, "Kau ini sangat pintar menyindir sayang. Aku tahu akulah guru yang kau maksud. Aku yakin." ucap Deren narsis.
"Dasar narsis!" Ucap Violet lalu melepaskan pelukan di antara mereka dan dia berlalu dari balkon segera masuk kamar meninggalkan suaminya di balkon yang juga segera mengekorinya.
"Tapi biar narsis begini kamu suka kan? Cinta kan?" tanya Deren mengekori sang istri yang sepertinya ingin membersihkan dirinya karena membuka koper dan mengambil pakaian.
__ADS_1
"Sayang, jawab dong!" ucap Deren yang tidak mendapat jawaban dan merasa di abaikan sang istri.
"Gak tuh!" ucap Violet singkat dan segera meletakkan pakaian yang akan dia gunakan di ranjang.
Deren yang lagi-lagi merasa di abaikan menjadi tidak tahan dan segera menarik sang istri yang hendak ke kamar mandi ke pelukannya, "Jawab yang benar sayang." Ucap Deren cemberut.
Violet yang melihat ekspresi suaminya tersenyum, "Apa masih butuh jawabannya? Bukankah Mas sudah tahu apa jawabannya? Jika aku tidak suka, tidak cinta bagaimana mungkin aku sekarang bersama denganmu di sini berbulan madu. Aku mencintaimu Honey." Bisik Violet lembut di telinga sang suami. Violet memang mulai membiasakan memanggil suaminya itu dengan panggilan kesayangan. Sebisa mungkin dia tidak akan memanggil suaminya dengan namanya karena bagaimana pun suaminya adalah imamnya penuntunnya dan juga usia mereka yang memang suaminya lebih tua 4 tahun beberapa bulan dengan umurnya.
Perasaan Deren langsung menghangat begitu mendengar bisikkan lembut istrinya di telinganya. Bukan saja menghangat hatinya tapi sudah ada sesuatu dalam dirinya yang sepertinya bangkit tapi dia mencoba meredamnya karena dia tahu istrinya itu sedang lelah. Dia tidak mungkin melakukan itu saat mereka lelah karena mengudara tadi, untung saja istrinya tidak mengalami jet lag tapi tetap saja dia tahu istrinya itu lelah. Dia sendiri juga merasa begitu walau bisa saja seorang lelaki tetap melakukan hubungan intim dalam keadaan lelah tapi dia tidak akan melakukan itu kepada istri yang dia cintai dan dia sayangi.
Deren segera menggendong sang istri menuju kamar mandi, "Honey, turunkan aku!" ucap Violet. Deren menulikan telinganya dan baru menurunkan istrinya di bathup. Deren segera memutar air hangat untuk istrinya.
"Honey, sana keluar. Aku mau mandi." usir Violet yang sedang duduk di bathup yang mulai terisi air hingga pakaian yang dia pakai mulai basah.
"Aku ikut mandi yaa. Kita mandi bersama. Menghemat waktu karena aku sudah memesan makanan tadi dan sepertinya sebentar lagi akan di antar. Selain itu juga kita belum melakukan sholat kan? Jadi kita mandi bersama." Ucap Deren mulai melepas atasan yang dia pakai.
Violet hanya bisa menatap suaminya, "Yakin cuma mandi aja kan?" Tanya Violet memastikan.
__ADS_1
Deren yang mendengar pertanyaan sang istri tersenyum, "Iya sayang hanya mandi, aku tahu kau masih lelah. Aku juga begitu." jawab Deren.
Violet pun mengangguk saja lalu keduanya pun mandi bersama dan seperti perkataan Deren mereka hanya mandi saja. Violet memang sudah tidak merasa malu lagi untuk mandi bersama karena sepertinya dia sudah biasa akan hal itu.