Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
78


__ADS_3

Keesokkan paginya setelah subuh Deren sudah siap dengan pakaian kerjanya tentu saja dia segera bersiap-siap agar sarapan bersama sang istri. Para maid yang melihat tuannya itu sudah siap terheran-heran, “Tuan anda mau kemana?” tanya mbak Ratih.


Deren menghentikan langkahnya lalu memandang ketua maid itu, “Mbak mulai hari ini sampai beberapa hari kedepan kalian jika akan membuat sarapan maka buatlah untuk kalian saja karena aku akan makan di rumah istriku.” Ucap Deren tersenyum karena sebentar lagi dia akan menemui istrinya itu.


“Emang kenapa nyonya pergi ke rumahnya tuan? Apa kami membuat kesalahan hingga dia marah?” tanya mbak Ratih.


“Ini gak ada hubungannya dengan kalian karena ini memang dilakukan untuk suatu hal. Aku akan menjelaskan kepada kalian nanti, tidak sekarang karena sekarang aku harus menemui istriku. Aku sudah sangat merindukannya.” Ucap Deren segera berlalu meninggalkan para maid itu terheran-heran.


“Sepertinya dua hari ini tuan sedang bahagia. Wajahnya berseri-seri seperti orang yang sedang jatuh cinta.” Ucap salah satu maid.


“Kau benar bukan hanya tuan saja nyonya juga. Kemarin mereka bahkan sarapan sepiring. Tapi aku bingung kenapa nyonya pergi.” timpal lainnya.


“Sudah-sudah itu bukan urusan kita. Lebih baik kita fokus dengan pekerjaan kita.” Ucap mbak Ratih melerai pembicaraan itu walau dia sendiri juga bingung dengan apa yang sedang terjadi.


Para maid itu pun segera membubarkan diri dan mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Sementara Deren sedang memutar music di mobilnya dalam perjalanan menuju rumah sang istri. Jujur saja walau mereka baru berpisah beberapa jam dan semalam tertidur sambil video call dia tetap merindukan istrinya itu.


Sekitar 20 menit akhirnya Deren tiba di rumah sederhana milik mertuanya itu karena memang jalan belum begitu padat karena masih sangat pagi.


Begitu dia tiba dia langsung turun dan segera mengetuk pintu, Carra yang memang sudah tahu itu kakaknya yang mengetuk segera membukakan pintu, “Huh, ternyata kau kak. Apa segitu rindunya dirimu dengan kak Vio padahal semalam kalian saling telponan.” Ucap Carra yang memang mengetahui hal itu karena Carra itu tidur dengan istrinya.


Deren tidak meladeni adiknya itu karena tujuannya yaitu istrinya, “Dimana istriku?” tanya Deren.


“Tuh!” tunjuk Carra ke arah dapur lalu dia segera menuju kamar ibu Anggi untuk mandi meninggalkan pasangan itu yang dia tahu akan melepaskan kerinduan mereka.

__ADS_1


Violet yang melihat sang suami sudah datang segera melepas celemeknya dan mendekati suaminya, “Kau sudah datang? Sudah sana kau duduklah.” Ucap Violet segera menyalami tangan suaminya.


Deren mengabaikan perkataan sang istri dan justru memeluk istrinya itu erat lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya, “Suamiku lepaskan, aku belum mandi dan bau bumbu masakan. Kau sudah wangi dan rapi nanti pakaianmu lecet dan kotor.” Ucap Violet melepaskan pelukan mereka dan segera menarik sang suami duduk di ruang keluarga.


“Okay, kau tunggu di sini aku akan membuat sarapan dulu agar kita bisa cepat sarapan.” Ucap Violet lalu mengecup pipi suaminya karena dia tahu suaminya itu tidak ikhlas melepaskannya terbukti suaminya itu menggenggam lengannya.


Violet segera berlalu kembali ke dapur meninggalkan suaminya. Ibu Anggi yang melihat interaksi yang terjadi dengan putri dan menantunya tersenyum karena sepertinya tidak ada salahnya dia kembali merestui mereka untuk menikah lagi karena cinta di mata keduanya memang ada.


“Nak, lebih baik kau pulanglah ke Mansion. Kasihan dia, dia rela-rela datang kesini pagi-pagi sekali seperti ini hanya untuk menemuimu.” Ucap ibu Anggi kepada Violet.


“Aku akan hidup bersama dengannya di sisa hidupku bu jadi biarkan aku beberapa hari ini menikmati waktu bersama kalian. Dulu aku tidak sempat melakukannya karena pernikahan dadakan kami jadi kali ini biarkan seperti ini walau tidak menutup kemungkinan aku juga merindukannya.” Balas Violet.


Tidak lama setelah itu mereka segera sarapan bersama di meja makan itu dan Deren menunggu Violet agar pergi bersama menuju sekolahnya.


***


“Max, ke ruanganku sekarang.” Pinta Deren.


Tidak lama asistennya itu segera datang, “Iya ada apa bos?” tanya Max begitu dia masuk ke ruangan tuannya.


“Aku akan menjemput istriku sebentar jadi aku serahkan urusan kantor padamu sejenak.” Ucap Deren lalu dia segera berlalu setelah mengatakan itu.


Max yang melihat itu hanya menghela nafasnya karena tuannya itu sangat aneh hari ini. Tadi pagi saat datang dia cemberut karena mengatakan bahwa dia dan istrinya tinggal terpisah sampai akad kedua mereka nanti dan memintanya mempercepat akad mereka. Lalu kini tuannya itu kembali ceria hanya karena ingin menjemput istrinya.


Sekitar 15 menit Deren tiba di sekolah sang istri dan mendapati istrinya itu sudah menunggu. Violet segera mendekati mobil sang suami dan masuk menolak di bukakan sang suami.

__ADS_1


“Kita makan siang dulu setelah itu kau ikut aku ke kantor.” Ucap Deren.


“Haruskah aku ikut?” tanya Violet takut kejadian terakhir kali terjadi lagi.


Deren mengerti lalu segera menggenggam tangan sang istri, “Jangan khawatir ada aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu di hina oleh mereka.” ucap Deren tulus.


Violet pun mengangguk untuk apa dia takut jika suaminya saja mengatakan tidak akan terjadi apa-apa. Dia harus mempercayai suaminya karena suaminya pasti tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Mereka makan siang di ‘RResto’ yang tidak jauh dari perusahaan Deren agar mereka bisa cepat nanti jika harus ke perusahaan. Deren segera menempati ruangan VIP karena tidak ingin hal yang terjadi terakhir kali terulang lagi.


Singkat cerita kini mereka sudah selesai makan siang dan dalam perjalanan menuju perusahaan Deren. Deren segera memarkirkan mobilnya di basement perusahaan itu dan segera menuju lift yang ada di sana menuju ruangannya di lantai atas hingga membuat para pegawai perusahaannya itu tidak mengetahui kedatangan mereka.


“Ayo sayang, masuk!” ucap Deren mempersilahkan sang istri.


“Sayang, jika kau bosan kau bisa beristirahat di ruang pribadiku.” Lanjut Deren.


“Ahh nanti saja jika aku ingin tidur. Saat ini aku hanya ingin menemani suamiku ini bekerja saja.” balas Violet.


“Ya sudah terserah dirimu.” Ucap Deren segera duduk di kursi kebesarannya.


Violet tersenyum melihat suaminya itu, dia melihat ruangan suaminya itu yang estetik karena penataan ruangan itu begitu rapi hingga keindahannya tidak tertutupi. Matanya melihat seluruh ruangan itu hingga matanya melihat foto di meja suaminya. Dia mendekat ke arah meja dan mengambil foto itu lalu tersenyum karena foto itu adalah foto saat dia berada di ulang tahun Carra.


“Siapa yang mengambil foto ini? Apa suamiku ini seorang paparazzi?” tanya Violet.


Deren tersenyum mendengarnya, “Aku hanya padamu bisa bertindak sebagai paparazzi sayang.” balasnya.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Max mengetuk setelah di izinkan masuk dia masuk, “Tuan, di luar ada bodyguard dan pelayan yang menjaga nyonya besar meminta izin bertemu.” Ucap Max.


__ADS_2