Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
154


__ADS_3

Kini Deren dan Violet sedang ada di supermarket untuk belanja. Deren sibuk memilih susu yang baik untuk ibu hamil. Violet hanya tersenyum memandangi apa yang di lakukan suaminya itu. Dia tahu Deren sedang berusaha mengungkapkan kebahagiaannya dan Violet tidak ingin menghancurkan momen suaminya itu.


Violet tahu walau suaminya itu menjadi sosok yang kuat dan menyembunyikan kesedihannya serta keinginannya untuk memiliki anak hanya karena menjaga perasaannya. Violet tahu suaminya itu sangat ingin memiliki anak apalagi mengingat usianya terlebih Carra adiknya saja sudah hamil dan pastinya rasa iri itu muncul hanya saja suaminya itu menyembunyikannya dengan baik. Jadi hari ini Violet ingin membebaskan suaminya itu mengekspresikan kebahagiaannya.


Deren sangat serius membaca kandungan susu untuk ibu hamil. Setelah selesai membaca semuanya dia pun memutuskan susu hamil yang mana yang akan dia ambil, "Sayang, kamu mau rasa apa?" Tanya Deren menatap Violet.


"Aku suka semuanya suamiku. Aku akan meminum apa yang kau pilihkan tapi kau tahu aku lebih suka coklat. Namun aku pasti akan bosan nanti jika hanya minum yang coklat saja makanya ambilkan saja yang kau inginkan." ucap Violet.


Deren pun mengangguk lalu segera memborong susu hamil itu. Semua rasa dia ambil tapi tentu saja rasa coklat lebih dominan karena memang sang istri yang menyukai coklat.


Setelah puas belanja susu ibu hamil. Deren segera menuju buah-buahan. Deren hari ini sangat antusias belanja. Violet hanya seperti pengikutnya saja karena Violet hanya memandangi dan mengikuti dari belakang saja saat Deren belanja. Jika biasanya wanita yang akan repot dan sibuk memilah memilih belanjaan maka kali ini itu tidak terjadi pada Violet karena Deren yang sudah melakukannya. Violet hanya memberi pendapat saja jika suaminya itu bertanya dan menanyakan pendapatnya.


Kurang lebih setengah jam mereka berada di supermarket itu. Deren setelah memastikan semua belanjaannya suah selesai dia segera membayarnya. Sementara Violet hanya menunggu saja saat suaminya itu membayar semua belanjaan di kasir. Tidak lama Deren selesai dan dia segera di bantu oleh pegawai supermarket itu membawa barang belanjaannya ke mobil karena saking banyaknya.


***


Sekitar lima belas menit kemudian akhirnya mereka tiba di mansion, "Jangan keluar dulu sayang. Tunggu aku membukakan pintu." ujar Deren saat Violet hendak membuka pintu mobil.


Violet pun menurut saja ucapan suaminya itu lagian dia juga bahagia d perlakukan seperti itu oleh suaminya. Wanita mana sih yang gak akan bahagia jika di manja dan di sayangi oleh suami.

__ADS_1


Violet segera turun begitu sang suami membukakan pintu mobil untuknya. Deren segera menuju bagasi mobil dan meminta bodyguard untuk membantunya membawa belanjaannya kecuali susu ibu hamil yang dia bawa sendiri.


Deren segera menggandeng Violet masuk ke dalam mansion dengan tangan sebelahnya membawa tas belanjaan yang berisi susu ibu hamil.


Carra dan Edgar yang mengetahui kakak mereka sudah pulang langsung menyambut di ruang tamu, "Kak, ayo duduk." ucap Carra meminta kedua kakaknya itu duduk.


Violet dan Deren pun menurut dan duduk di hadapan Carra dan Edgar itu. Deren meletakkan barang belanjaannya di meja yang ada di ruang tamu itu, "Ini apa kak?" tanya Carra sambil berdiri memeriksa barang yang Deren letakkan di meja di hadapan mereka.


"Susu ibu hamil? Ini untukku ya kak?" tanya Carra sambil mengeluarkan isi tas itu.


"Kak, tapi kok rasa coklat yang banyak? Kakak kan tahu aku tidak begitu suka coklat. Kenapa membelikanku susu hamil rasa coklat? Siapa yang akan meminumnya nanti?" lanjut Carra bertanya.


Deren dan Violet saling memandang satu sama lain lalu tersenyum. Setelah itu Deren segera memandang adiknya, "Itu bukan untukmu dek. Kakak gak membelikan susu hamil itu untukmu. Kau kan sudah memiliki suami maka jika ingin di belikan susu hamil minta saja sama suamimu itu." Ujar Deren.


"Tentu saja bukan untuk kakak lah. Emang kakak yang hamil. Kau ini ada-ada saja." ucap Deren kesal.


Violet hanya tersenyum melihat kekesalan di wajah suaminya itu lalu dia menatap Edgar yang ikut tersenyum juga menatapnya, "Terus siapa yang akan minum susu sebanyak ini jika ini bukan untukku dan juga bukan untuk program kehamilan?" tanya Carra.


"Tentu saja untuk kakak iparmu. Istri kakak ini? Kau kan tahu kakak iparmu ini pecinta coklat makanya susu hamilnya dominan coklat." jelas Deren lalu memeluk Violet dari samping dengan posesif.

__ADS_1


Carra dan Edgar yang mendengar ucapan Deren kaget lalu saling memandang, "Jadi ini untuk program kehamilan?" tanya Carra menatap Deren dan Violet dengan serius.


Violet mengangguk, "Ini memang susu hamil untukku dan itu bukan untuk program kehamilan karena kakak--"


"Karena istriku sudah mengandung dan hamil saat ini sudah delapan minggu." potong Deren senang melihat ekspresi kaget yang di wajah Carra dan Edgar.


"Beneran kak? Kau sedang hamil?" tanya Edgar.


Violet mengangguk tersenyum, "Benar dek. Kakak mengandung usia 8 minggu. Kami tidak melakukan program kehamilan lagi karena kakak memang sudah mengandung makanya kakak iparmu ini memborong susu ibu hamil." jawab Violet.


"Wah, aku masih gak percaya kak." ujar Carra masih kaget dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Jika kau tidak percaya maka lihat ini hasil USG-nya. Di sana terlihat dengan jelas. Ohiya berita bahagia lainnya yaitu istriku ini alias kakak kalian bukan hanya mengandung satu janin sekaligus tapi kemungkinannya triplets tapi yang terlihat dengan jelas baru dua janin. Untuk kepastian apa kakak kalian mengandung twins atau triplets sebulan lagi." ucap Deren senang lalu menyerahkan hasil USG kepada adiknya itu yang langsung di terima dan di baca dengan baik-baik.


"Wah, ternyata benar kak. Kau mengandung dan ini ada dua bulatan. Kak selamat untuk kalian. Akhirnya kita bisa hamil sama-sama." Ucap Carra lalu mendekati Violet dan memeluknya.


"Gak sama. Kakak iparmu usia kehamilannya lebih 3 minggu dari usia kandunganmu. Jadi tetap saja anak kami adalah yang tertua. Aku tidak mau anak kami jadi yang termuda." ucap Deren.


Carra yang mendengar ucapan kakaknya itu hanya bisa mendesis kesal, "Apa salahnya sih kak. Anakku yang lahir lebih dulu?" Ucap Carra.

__ADS_1


Deren menggeleng, "Pokoknya gak boleh, anakku harus lahir lebih dulu. Aku tidak mau anakku akan memanggil kakak kepada anakmu. Kau itu adikku maka anakmu pun harus menjadi adik dari anak-anakku." balas Deren. Carra pun hanya bisa kesal dan menatap sini kakanya itu.


Violet dan Edgar lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat perdebatan antara Carra dan Deren.


__ADS_2