Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
60


__ADS_3

Keesokkan paginya Violet terbangun saat matahari sudah terlihat, dia bahkan tidak sempat sholat subuh. Violet segera bangkit dari tempat tidurnya sambil memijat kepalanya yang terasa nyut-nyutan, “Aku telat bangun! Ouh yaa Allah maafkan aku yang tidak sempat melakukan kewajibanku.” Gumam Violet lalu dia segera bangun dari ranjang lalu menatap sekeliling mencoba mencari Deren yang mungkin sudah kembali saat dia tertidur atau bagaimana tapi sayang kamar itu tetap sama seperti dia menutup mata semalam. Gak ada yang berubah menandakan bahwa tidak ada yang masuk.


Violet yang mungkin sedikit kecewa akan hal itu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum mungkin bergabung dengan yang lain sarapan. Sekitar 30 menit Violet akhirnya selesai mandi dan memakai pakaiannya. Dia hanya memakai skin care saja tanpa make up, dia segera keluar.


“Kakak, kau baru bangun? Ahh,, sangat di sayangkan kau tidak melihat matahari terbit tadi, sangat cantik kak.” Sambut Carra begitu dia melihat Violet keluar.


Violet melihat adik iparnya itu tapi sebelum itu matanya sempat bertatapan dengan Deren yang bicara dengan adiknya. Ada rasa lega dalam hatinya melihat Deren yang baik-baik saja dan tidak terbukti dugaannya semalam yang mengatakan Deren memanggil gadis makam itu. Setelah itu dia kembali menatap adik iparnya itu dengan senyuman bersalah, “Maaf kakak terlambat bangun!” ucap Violet merasa bersalah.


“Gak usah minta maaf kak, kita bisa melihatnya lain waktu. Ini juga gara-gara kakak yang melarangku membangunkanmu dan kenapa juga dia tidak membangunkanmu. Kakak memang menyebalkan! Tapi gak masalah aku jadi punya alasan lagi mengajakmu kesini kakak ipar untuk melihat matahari terbit lagi dan saat itu kau harus berjanji untuk menemaniku melihatnya.” Ucap Carra dengan ciri khasnya.


Violet pun tersenyum lalu mengangguk walau dia tidak yakin bisa mewujudkan hal itu, “Yaa sudah kita sarapan dulu. Lalu setelah itu kita akan berenang bersama kakak ipar. Kau harus ikut.” Ucap Carra.


“Kalian belum sarapan?” tanya Violet.


“Kami menunggumu kak.” Timpal Edgar berdiri segera mendekati kakak dan kekasihnya itu.


“Sudah ayo kita sarapan.” Ajak Deren. Lalu ke empat orang itu segera keluar dari teras penginapan yang menghubungkan penginapan yang di tempati Deren dan Violet dengan Edgar dan Carra.


Carra dan Edgar pergi di depan lebih dulu sementara Violet dan Deren berjalan beriringan di belakang. Violet mencuri pandang kepada Deren sambil dalam hatinya ingin bertanya di mana laki-laki itu tidur semalam, “Kenapa mencuri pandang? Kau bebas memandang kapan pun. Aku ini suamimu!” ucap Deren datar tapi percayalah dia sama dengan Violet yang mencuri pandang juga memandang istrinya itu.


Violet hanya diam saja karena menurutnya susah untuk melupakan apa yang terjadi antara mereka semalam tapi mungkin dia akan mencoba melupakannya karena laki-laki yang sudah memaksanya saja bersikap biasa seperti tidak ada yang terjadi lalu kenapa dia tidak melakukan hal yang sama walau dalam hatinya memuji acting suaminya itu yang mungkin jika menjadi actor akan mendapatkan penghargaan sebagai actor terbaik.


***


Kini mereka sudah selesai sarapan dan bersiap-siap untuk berenang. Edgar dan Carra sudah siap dengan pakaian renang mereka sementara Violet masih tetap memakai pakaiannya tadi.

__ADS_1


“Kak, apa kau benar tidak ikut kami berenang? Asik loh kak.” Ucap Carra.


“Maafkan kakak Carra, kakak memang gak bisa berenang.” Ucap Violet.


“Ahh kakak gak asik.” Ujar Carra manyun.


Violet yang melihat itu segera memeluk adik iparnya itu, “Maaf sayang tapi kakak memang gak bisa. Kamu berenanglah bersama Edgar, dia jago berenang. Kakak akan menunggu kalian di sini.” Ucap Violet lembut.


“Baiklah!” balas Carra tersenyum lalu mengecup pipi Violet dan segera menggandeng lengan kekasihnya.


“Ayo sayang!” ajak Carra kepada Edgar. Lalu sepasang kekasih itu segera berenang menikmati air laut yang sudah lumayan hangat.


Sementara Deren segera melepas pakaiannya yang menutupi pakaian renangnya itu lalu dia segera menggandeng Violet, “Apa yang kau lakukan?” tanya Violet yang sudah di seret oleh Deren.


“Jika kau memang ingin berenang, gak usah mengajakku. Biarkan aku di sini.” Tolak Violet sambil melepas genggaman tangan Deren.


“Kenapa?” tanya Deren menatap Violet.


“Aku takut. Aku gak bisa berenang.” Balas Violet.


“Aku akan mengajarimu berenang. Aku akan memegangmu.” Ujar Deren.


“Tapi--”


“Percayalah, aku akan menjagamu. Kau pasti akan menyesal karena tidak ikut berenang. Aku janji akan menjagamu dan tidak akan melepasmu. Aku akan menjagamu.” Ujar Deren meyakinkan Violet.

__ADS_1


Violet tampak berpikir lalu dia menatap Deren, “Bagaimana?” tanya Deren. Violet tersenyum lalu mengangguk.


Deren pun tersenyum lalu keduanya segera masuk ke dalam air dan mereka bermain bersama hingga sekitar 10 menit berlalu pasangan suami istri itu bermain air dan Violet pun tertawa bersama suaminya. Edgar dan Carra yang memang jado berenang tersenyum melihat Deren yang bisa mengajak Violet bergabung berenang.


“Bagaimana asik kan?” tanya Deren dan Violet mengangguk tersenyum.


Seperti janjinya Deren menjaga Violet dan mengajarkan dasar-dasar renang, “Aku sudah bisa Deren!” ucap Violet antusias penuh dengan senyuman layaknya seorang anak yang baru saja bisa berenang.


Deren yang melihat itu tersenyum dan kembali membantu Violet berenang dan menjaga gadis itu dengan baik. Sekitar setengah jam suasana itu tercipta hingga tiba-tiba ada seorang gadis dengan pakaian renang seksinya mendekat.


“Deren sayang kita ketemu lagi. Aku tidak menyangka kau ternyata ada di pantai ini.” sapa Eliza yang mendekat ke arah pasangan itu.


“Liza? Kau di sini?” tanya Deren kaget.


“Mungkin ini yang di namakan dengan jodoh. Kita ketemu lagi setelah di makam itu. Apa aku bisa bergabung dengan kalian?” Eliza mengatakan itu sambil menatap Deren.


“Tentu saja kau bisa bergabung karena ini memang tempat umum.” Tidak ada yang salah dengan perkataan Deren kan.


Violet yang mendengar hal itu entah kenapa hatinya kesal melihat penerimaan Deren itu. Seketika otaknya berpikir akan kejadian semalam yang menanyakan kemana Deren tidur dan tidak kembali apa dia memanggil wanita ini untuk menemaninya semalam setelah mendapat penolakan darinya. Pantas saja Carra dan Edgar tidak menanyakan apapun tadi karena mereka memang gak tahu apapun, jika Deren tidur di penginapan mereka pasti Carra dan Edgar sudah memburu pertanyaan padanya tapi tadi kedua adiknya itu biasa saja.


Banyak pikiran yang berputar di otaknya hingga rasanya dia menyesali menangisi kelakuannya yang menampar pria ini semalam, seharusnya dia menampar pria ini berulang kali. Dengan rasa kesal atau apapun itu dia segera melepas tangan Deren yang menahan tubuhnya, “Lepas!” ujar Violet.


Deren sempat menolak tapi Violet bersikeras hingga berkata, “Lepaskan aku brengsek! Lepaskan aku dari pernikahan yang bagai di neraka ini.” ucap Violet kesal bercampur air mata jatuh ke pipinya.


Deren yang tidak tahu apa yang membuat Violet marah pun bingung, “Hey Vio jangan kesana!” ucap Deren yang melihat Violet semakin berjalan ke tengah laut.

__ADS_1


__ADS_2