Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
13


__ADS_3

Deren hanya menatap tajam asistennya itu, “Max itu hanya basa basi saja. Aku tidak ingin harga diriku terluka. Ayo pulang.” Ajak Deren.


Max pun hanya tertawa, “Tapi sepertinya tuan harus menunggu sedikit lagi jika memang tidak ingin harga diri anda terluka.” Ucap Max masih tertawa.


“Kenapa?” tanya Deren.


“Karena dia ada di bawah dan saya yakin dia baru pergi setelah menyetujui tempat pertemuan kalian.” Jawab Max.


“Dia ada di bawah? Maksudmu di gedung ini?” tanya Deren kaget.


Max pun mengangguk, “Yah di perusahaan ini tuan.” Jawab Max.


“Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Jika tahu begitu aku tidak perlu berbohong.” Ucap Deren.


“Maaf tuan, saya baru menerima info-nya saat tuan sudah membohonginya.” Balas Max tersenyum.


“Ahh sudahlah. Kalau begitu aku akan menunggu sebentar.” Ucap Deren duduk di sofa di ruangannya. Tapi tidak sampai 5 menit dia duduk di sana dia segera berdiri.


“Tuan anda mau kemana?” tanya Max basa basi.


“Tentu saja menemuinya. Aku tidak ingin dia menunggu terlalu lama. Jika kau tidak ingin ikut lebih baik kau di sini saja.” Ucap Deren berlalu meninggalkan asistennya itu.


Max yang di tinggalkan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya menertawakan presdirnya itu.


***


Singkat cerita, kini Deren dan Violet sudah ada di sebuah café yang di pilih oleh Violet sendiri.


“Maaf sudah membuat anda menunggu.” Ucap Deren.


Violet pun hanya tersenyum, “Emm,, gak apa-apa kok tuan, saya juga belum lama di sini.” Jawab Violet.


“Tuan apa tidak ingin memesan dulu.” Lanjut Violet.


“Cappucino saja.” Jawab Deren.


Violet pun mengangguk lalu segera memanggil pelayan untuk memesankan Deren cappucino karena dia sudah memesan yang tentu saja pesanannya tidak jauh-jauh dari coklat dan susu.

__ADS_1


“Ada apa anda memanggil saya kesini? Apa anda berubah pikiran atau bagaimana?” tanya Deren setelah pelayan itu pergi.


“Sa-saya menerima tawaran anda tapi dengan syarat.” Ucap Violet.


“Apa syaratnya?” tanya Deren.


“Selama menjadi istri anda saya hanya sebagai istri anda jika di depan keluarga saja selain itu kita hanya memiliki hubungan kerja sama dan seperti perkataan anda sebelumnya jika suatu saat nanti satu di antara kita menemukan seseorang yang kita cintai maka kita akan berpisah dan anda yang harus menjelaskannya kepada seluruh keluarga. Lalu juga kita tidak boleh saling mengatur satu sama lain. Saya tetap ingin bekerja sebagai guru TK. Apa bisa?” tanya Violet.


“Apa hanya itu? Tidak ada yang lain lagi?” tanya Deren balik.


Violet pun menggeleng, “Baiklah. Deal!!” ucap Deren menjabat tangan Violet. Violet pun membalasnya sambil berdoa semoga keputusannya ini adalah keputusan terbaik.


“Besok kita akan menandatangi perjanjiannya dan lusa kita akan menemui mommy saya.” ucap Deren.


“Lusa? Apa tidak terlalu cepat?” tanya Violet kaget.


“Saya tidak punya banyak waktu Violet.” Balas Deren. Violet yang mendengar namanya di sebut oleh Deren untuk pertama kalinya pun seperti merasa ada sesuatu di hatinya.


“Emm tuan bagaimana jika mommy anda tidak menerima saya?” tanya Violet ragu.


“Lalu saya harus memanggil dengan sebutan apa?” tanya Violet.


Deren pun hanya mengangkat bahunya, “Terserah dirimu memanggil saya dengan nama juga boleh atau bisa juga dengan panggilan sayang.” jawab Deren.


“Emm dengan nama anda saja.” Ucap Violet cepat karena tidak ingin harus memanggil Deren dengan sebutan sayang.


“Apa kau tahu nama saya?” tanya Deren.


“Deren.” Jawab Violet singkat.


“Nama lengkap?” tanya Deren. Violet segera menggeleng karena dia memang hanya tahu nama yang di kenalkan oleh Carra dan saat Deren memberikan kartu namanya tidak ada namanya di sana hanya nama perusahaannya saja. Sedangkan Violet tidak suka membaca majalah hingga memang tidak kenal siapa itu Deren.


“Ouh astaga jika begini kita langsung ketahuan mommy. Nama saya saja kau tidak tahu. Apa kau tidak pernah membaca majalah bisnis atau sejenisnya?” tanya Deren sedangkan Violet pun hanya menggeleng.


“Baiklah jika begitu untuk saat ini kau tahu nama saya dulu. Ingat nama lengkap saya adalah Deren Brillian Robert. Ingat jangan sampai lupa. Untuk informasi lainnya akan saya berikan besok untuk kau hafal agar kau tidak akan ketahuan saat mommy menanyai tentangku.” Ucap Deren meminum cappucino-nya yang sudah di antar oleh pelayan.


Violet pun hanya mengangguk, “Emm,, lalu apakah saya juga harus melakukan seperti yang anda lakukan yaitu mencatat semua identitas saya?” tanya Violet.

__ADS_1


“Gak usah saya sudah tahu luar dalamnya dirimu.” Jawab Deren tanpa filter hingga membuat Violet sedikit malu.


Mereka pun hanya menghabiskan minuman mereka di sana, “Biar saya yang bayar tuan.” Ucap Violet saat Deren akan membayar.


Deren pun membiarkannya, “Terima kasih atas traktirannya.” Ucap Deren setelah Violet membayar.


“Hmm gak usah, tuan sudah dua kali mentraktir saya itu pun makanan mahal jadi minuman tadi tidaklah seberapa.” Jawab Violet.


“Jangan memanggilku tuan lagi. Biasakan memanggilku dengan namaku atau sayang juga boleh. Aku tidak ingin saat nanti bertemu mommy kau keceplosan memanggilku tuan.” Ucap Deren saat mereka sudah di parkiran.


Violet pun hanya mengangguk, “Ayo kamu biar saya antar.” Ucap Deren.


“Gak usah saya akan pulang sendiri. Saya bawa kenderaan kok. Anda pulanglah dulu itu juga sudah sore. Saya pamit!” ucap Violet lalu dia segera menghampiri vespanya.


Setelah itu Violet segera pergi meninggalkan Deren yang sudah naik ke mobilnya untuk pulang ke rumahnya.


***


Keesokan paginya, Deren seperti biasa pasti sudah berkutat dengan dokumennya sementara Violet sibuk mengajar anak didiknya.


“Max, apa sudah kau siapkan semuanya? Aku tidak ingin ada kesalahan.” Ucap Deren.


“Sudah tuan. Ini silahkan anda baca dulu.” Ucap Max menyerahkan dokumen kepada Deren.


Deren pun segera menerimanya lalu membacanya, “Okay, perfect!” puji Deren.


Siang harinya, Deren segera pergi untuk menemui Violet.


“Anda sudah di sini?” tanya Violet melihat Deren sudah ada di depan sekolahnya.


“Pertanyaan macam apa itu. Jika kau sudah melihat saya ada di sini itu berarti benar ada di sini. Saya ini masih hidup belum jadi roh.” Jawab Deren.


Violet pun hanya menghela nafasnya lalu kembali menemani anak didiknya yang belum di jemput oleh orang tua mereka. Sementara Deren hanya tersenyum melihat Violet.


Sekitar 30 menit akhirnya semua anak didik Violet sudah di jemput, “Kamu ikut saya, biar anak buah saya yang mengantarnya.” Ucap Deren mendekati Violet.


Violet pun hanya mengangguk lalu segera menyerahkan kunci vespanya kepada anak buah Deren yang sudah mendekati mereka. Setelahnya Violet segera ikut mobil Deren dan Deren segera melajukannya menuju restoran terdekat.

__ADS_1


__ADS_2