
Max mencoba mencerna ucapan bosnya itu, "Maksud tuan kalian akan melakukan akad lagi begitu?" tanyanya kaget.
Deren hanya mengangguk karena entah kenapa dia malas dengan asistennya itu yang sangat cerewet hari ini, “Tapi kenapa? Bukankah tuan dan nyonya sudah menikah?” Tanya Max lagi masih bingung.
“Aku tidak akan mengatakan alasannya tapi aku hanya memintamu agar segera melaksanakan apa yang aku minta. Setelah aku menemui ibu mertua maka kami akan melakukan akad kedua kami. Hanya satu yang perlu kau ingat bahwa pernikahan kami ini bukan lagi tentang perjanjian. Pernikahan kami kali ini akan menjadi pernikahan yang sangat berarti untukku.” Ucap Deren.
Max pun mencoba memahami, “Jadi maksud anda kalian akan menikah dan menjadi pasangan suami istri pada umumnya?” Tanya Max lagi.
Deren mengangguk, “Yah, aku akan menikahinya dan hanya dia wanita yang akan aku nikahi menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Jadi aku minta kau mempersiapkannya dengan baik. Kau kan tahu walau tanpa aku katakan kau pasti mengerti bahwa aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya.” Ujar Deren.
Max tersenyum mendengar hal itu karena dia memang mengetahui hal itu, “Apa itu berarti tuan dan nyonya sudah saling mengungkapkan cinta sehingga ingin memulai pernikahan ini dengan awal yang baru?” Tanya Max lagi.
Deren lagi-lagi mengangguk, “Aku dan dia semalam sudah saling mengungkapkan cinta. Aku sangat mencintainya Max dan aku menyesali kenapa kami baru saling mengungkapkan cinta padahal kami sudah memiliki perasaan itu satu sama lain.” Ucap Deren.
“Saya ikut bahagia untuk anda dan nyonya tuan. Saya akan mengupayakan yang terbaik untuk akad kalian kali ini. Emm,, tuan apa anda ingin menemui ibu nyonya untuk mengatakan semuanya?” Tanya Max masih penasaran.
“Sepertinya kau semakin cerewet Max, kau ingin tahu semuanya tapi memang benar kami akan mengakui semuanya kepada ibu, Edgar dan Carra. Kami tidak ingin memulai hubungan kami dengan kebohongan. Sudahlah, aku harus pergi sekarang untuk menyelesaikan ini agar pernikahanku segera cepat dilaksanakan.” Ujar Deren lalu berdiri dan memakai jasnya.
Max tersenyum melihat itu, “Satu hal yang ingin saya katakan tuan, saya yakin alasan terbesar anda ingin mempercepat pernikahan kedua kalian ini karena anda sudah tidak tahan untuk menyentuh nyonya.” Ledek Max tertawa.
Deren yang mendengar hal itu menatap tajam ke arah asistennya, “Sialan kau!” ujar Deren lalu dia segera menyambar kunci dan ponselnya di meja berlalu meninggalkan Max yang masih tertawa. Hari ini suasana hatinya sedang baik sehingga dia akan memaafkan Max tapi sepertinya tetap harus sedikit di hukum agar asistennya itu tidak makin melunjak. Deren tersenyum licik memikirkan rencana untuk mengerjai asistennya itu.
__ADS_1
Sementara Max yang masih di dalam ruangan Deren segera keluar dan melihat punggung tuannya itu menghilang di balik lift tersenyum, “Aku ikut bahagia untukmu tuan, pantas saja hari ini kau terasa berbeda ternyata kau sudah mendapatkan cintamu. Aku harap kau selalu bahagia bersama nyonya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan kedua kalian ini.” Gumam Max tulus.
***
Deren kini sudah tiba di sekolah Violet dan tersenyum melihat istrinya itu yang sudah menunggunya. Deren segera turun dari mobil dan menghampiri istri cantiknya lalu segera melabuhkan kecupan di kening istrinya, “Iss dilihat orang nanti.” Ucap Violet malu lalu menyalami tangan suaminya.
“Tenang saja gak ada yang lihat kok. Apa istriku ini sudah lama menungguku? Maaf yaa sudah membuatmu menunggu.” Ucap Deren.
“Gak kok, anak-anak baru saja pulang. Jadi aku tidak lama menunggu.” Balas Violet.
“Ya sudah ayo kita pergi untuk menyelesaikan masalah kita agar pernikahan kita cepat dilaksanakan.” Ucap Deren.
“Dasar tidak sabaran.” Balas Violet lalu melenggang menuju mobil sang suami.
“Dasar mesum. Sudah sana ayo masuk dan kita temui ibu.” Ujar Violet malu karena entah kenapa suaminya itu selalu berhasil membuatnya memerah hanya dengan godaannya.
Deren pun mengangguk lalu segera menutup pintu mobil istrinya dan berlari ke pintu mobil lainnya dan segera duduk di depan kemudi lalu Deren segera melajukan mobilnya itu meninggalkan sekolah Violet menuju rumah mertuanya.
Sekitar 20 menit kemudian akhirnya Deren dan Violet tiba di rumah ibu Anggi mereka segera turun dan tentu saja dengan Violet yang di bukakan pintu oleh Deren, “Terima kasih suamiku.” Ujar Violet lalu dia menggandeng lengan suaminya masuk halaman rumahnya.
“Emm,, bukankah ini mobil Carra?” Tanya Violet mengenali mobil adik iparnya di halaman rumah ibunya itu.
__ADS_1
“Sepertinya mereka ada di sini.” Ucap Deren.
Violet mengangguk membenarkan, “Sepertinya kita memang di percepat untuk menjelaskan kepada mereka sehingga membuat mereka berada di satu tempat yang sama.” Ujar Violet.
“Kau benar sayan padahal rencananya kita akan menjelaskannya kepada mereka nanti tapi yaa sudahlah mereka sudah di sini kita tidak bisa apa-apa. Mungkin memang lebih cepat lebih baik.” Timpal Deren.
Lalu kedua orang itu segera masuk berhubung pintu rumah juga terbuka, “Assalamu’alaikum!” ucap Deren dan Violet bersamaan hingga membuat mereka saling berpandangan lalu keduanya tersenyum.
Carra dan Edgar yang sedang di ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu menatap siapa yang datang, “Wa’alaikumsalam. Kakak kalian kemari. Ayo masuk!” sambut Carra langsung berdiri dan menggandeng Violet masuk hingga membuat Deren hanya bisa menghela nafasnya kasar karena adiknya itu hanya menyambut Violet dan melupakannya selain itu juga dia tidak ingin gandengan tangan istrinya itu lepas darinya tapi yaa sudahlah adiknya itu tidak memahami apapun padahal memiliki kekasih. Entah apa yang membuat Edgar bertahan dengan gadis manja itu.
“Ibu, kak Vio datang!” ucap Carra sedikit berteriak.
Deren mendudukan dirinya di sofa di hadapan Edgar sang adik ipar, “Kalian kok bisa di sini?” Tanya Deren kepada adik iparnya.
Carra yang juga mendengar perkataan kakaknya itu menatap sinis kepada kakaknya, “Tentu saja kami di sini kak. Ini rumah Edgar dan aku adalah kekasihnya makanya aku ada di sini.” Balas Carra.
Deren hanya menghela nafasnya kasar, “Kakak tahu dan kakak tidak bertanya padamu.” Ujar Deren malas.
Carra yang mendengar itu pun hanya mendelik kesal, Violet hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu, “Sudah gak usah bertengkar. Kau juga suamiku kenapa bertengkar dengan adikmu.” Ucap Violet menatap Deren.
“Maaf sayang!” balas Deren.
__ADS_1
Edgar yang dari tadi diam hanya memperhatikan kini menyadari sesuatu yang berbada antara kakak dan kakak iparnya karena dia memang tahu walau kakak dan kakak iparnya itu sudah menikah tapi dia tidak pernah mendengar percakapan seperti tadi walau itu terdengar biasa aja untuk orang lain tapi menurutnya ada sesuatu di sini.