Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
27


__ADS_3

Deren setelah selesai mengeringkan rambutnya segera mendekat menuju ranjang tapi belum juga dia duduk, “Kamu mau apa?” tanya Violet.


Deren mengabaikan pertanyaan Violet itu tapi langsung duduk di tepi ranjang sebelah Violet, “Kamu mau apa?” ulang Violet.


Deren pun segera menatap Violet, “Pertanyaan macam apa itu sayang? Bukankah setiap orang yang jika ke ranjang akan tidur dan kamu juga tidak sadar itu sudah larut. Aku mengantuk dan aku akan tidur.” Ucap Deren lalu langsung menyelimuti tubuhnya.


“Iya saya tahu tapi--”


“Tapi apa?” tanya Deren padahal mengerti apa yang di maksud Violet.


“Apa kita akan tidur bersama begini?” tanya Violet.


Deren pun membuka matanya, “Tentu saja kita akan tidur bersama karena kita ini suami istri. Selain itu juga aku tidak ingin nanti jika kita sudah di Mansion menimbulkan kecurigaan kepada Mommy jika pelayan mengetahui kita tidur terpisah dan pelayan itu melaporkan kepada mommy. Aku tidak ingin itu terjadi. Kita sudah menyepakati ini bahwa sandiwara ini harus di mainkan dengan sebaik mungkin.” Ucap Deren.


“Tapi--”


“Gak ada tapi-tapian Violet. Jika kamu mengkhawatirkan bahwa saya akan ngapa-ngapain kamu karena kita tidur berdua, segera hilangkan pikiran burukmu itu karena saya janji tidak akan melakukan itu. Tapi--” ucap Deren terpotong.


“Tapi apa?” tanya Violet.


“Tapi jika kau menginginkannya saya pasti tidak akan menolak.” Sambung Deren tersenyum menggoda.


“Itu gak akan terjadi. Huft dasar mesum!” ucap Violet lalu segera berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Deren pun tersenyum, “Saya hanya mesum kepadamu Violet dan perlu kamu tahu bahwa kamu itu istriku jadi tidak ada salahnya mesum kepada istri sendiri.” Ucap Deren.


“Yah benar saya memang istri anda tapi ingatlah bahwa itu hanya dalam kertas saja. Jadi jangan melewati batas!” balas Violet.


“Yaya saya janji saya tidak akan melewati batas tapi jika tidak khilaf dan perlu kau ingat berkas pernikahan kita itu asli.” Ucap Deren lalu segera menutup matanya dan mematikan lampu. Violet pun membiarkannya dan hanya memejamkan matanya dan anehnya mereka berdua langsung cepat tertidur seperi terhipnotis tapi mungkin mereka cepat tertidur karena kelelahan.

__ADS_1


***


Keesokan paginya setelah sarapan bersama di hotel mereka segera menuju rumah sakit sebentar menjenguk mommy Grysia lalu setelah itu menuju rumah Violet untuk pindah ke mansion Deren.


Dan kini Violet sudah ada di mansion yang sudah dua kali dia menginjakkan kakinya di sana dan untuk ketiga kalinya dia tidak menyangka memasuki mansion ini dengan status yang berbeda.


“Selamat datang nyonya, tuan!” sambut pelayan dan bodyguard Deren. Yah mereka sudah mengetahui pernikahan sang majikan.


“Tolong antarkan ini ke kamar saya!” pinta Deren lalu pelayan itu pun segera bergegas mengambil barang Violet dan segera mengantarkannya ke kamar Deren.


“Kamu ikutlah dengan mbak Ratih ke kamar saya. Saya harus ke kantor dan untuk sekolah kamu hari ini saya sudah minta izinkan. Kamu bisa masuk kembali besok!” ucap Deren lalu mengusap rambut Violet.


“Terima kasih!” jawab Violet lalu segera mengikuti kepala pelayan di mansion itu menuju kamar suaminya.


Sementara Deren segera melajukan mobilnya menuju perusahaan karena dia harus menghadiri rapat dengan klien dari Jepang.


***


“Terima kasih!” ucap Violet lalu segera memasuki kamar yang nuansanya itu di dominasi dengan warna hitam dan abu-abu khas pria.


“Menarik!” gumam Violet setelah puas memandang seluruh kamar milik suaminya itu.


“Nyonya!” panggil salah satu pelayan.


Violet segera menatap pelayan itu, “Ada apa?” tanya Violet.


“I-itu nyonya apa anda butuh bantuan untuk memasukkan pakaian anda?” tanya pelayan itu menunduk.


Violet pun tersenyum, “Jangan menunduk begitu saya tidak akan memakanmu. Emm,, untuk itu biar saya sendiri yang akan menyimpannya. Kamu sibuklah dengan urusanmu!” balas Violet.

__ADS_1


“Baik nyonya. Kalau begitu saya keluar dulu. Jika nyonya butuh apapun panggil saja kami.” Ucap pelayan itu.


Violet hanya mengangguk dan kini dia menatap barangnya yanh dia bawa dari rumahnya, “Ahh aku harus meletakkannya di mana?” tanya Violet bingung.


“Aku tanya kepada pelayan itu saja. Ahh sepertinya mereka tidak mengetahuinya karena Deren pasti tidak suka dengan barang-barangnya di pindahkan begitu saja. Lebih baik aku tunggu saja dia pulang baru mengatur barang-barangku.” Ucap Violet lalu langsung meraih ponselnya menelpon sang ibu yang sudah dia rindukan itu padahal baru beberapa menit yang lalu mereka berpisah.


Sekitar 30 menit dia mencurahkan kerinduannya itu lalu menutup sambungan telepon mereka, “Ahh aku harus melakukan apa yaa? Mau mengatur pakaian aku gak tahu di mana meletakkannya. Mau menelpon Deren aku yakin dia pasti saat ini sangat sibuk. Aku harus apa? Ahh bosan!” ucap Violet merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik Deren.


Tiba-tiba matanya melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.21 dia pun segera bangun dari ranjang, “Ahh lebih baik aku membuat makan siang saja. Aku bosan diam saja di sini!” ucap Violet lalu segera mengatur kembali seprai ranjang Deren lalu dia segera keluar menuju lantai satu mansion itu.


Begitu dia turun langsung saja pelayan mendekatinya, “Nyonya kenapa anda turun? Apa ada yang anda butuhkan?” tanya pelayan.


Violet pun tersenyum, “Gak ada kok. Tenang saja! Apa saya bisa ke dapur? Saya ingin ke dapur.” Ucap Violet.


“Dapur? Apa anda membutuhkan sesuatu nyonya? Biar saya ambilkan!” ucap pelayan itu.


“Sudah ku bilang aku tidak butuh apa-apa hanya saja aku ingin memasak makan siang.” Ucap Violet.


“Makan siang?” tanya pelayan itu dan Violet pun mengangguk.


“I-itu--” Mbak Ratih yang mendengar itu pun segera mendekati Violet dan dua pelayan yang bicara bersamanya.


“Mbak!” panggil kedua pelayan itu dengan tatapan memohon. Mbak Ratih pun mengerti lalu segera menyuruh kedua pelayan itu pergi.


“Nyonya butuh apa?” tanya Mbak Ratih.


“Saya hanya ingin memasak. Apa boleh mbak! Saya mohon, saya bosan di kamar karena tidak ada yang saya kerjakan sedangkan mommy, Carra dan Deren juga gak di sini. Yaa please mbak saya mohon bisa yaa! Izinkan saya ikut memasak!” bujuk Violet.


Mbak Ratih pun berpikir, “Nyonya saya bukannya tidak ingin tapi itu sudah jadi aturan dari tuan muda nyonya. Selain itu juga nyonya adalah istri dari tuan muda dan memasak adalah tugas kami.” Jawab mbak Ratih.

__ADS_1


“Mbak! Aku mohon! Mbak gak usah bilang sama Deren bahwa aku memasak dan jika ketahuan nanti aku sendiri yang akan menjelaskannnya tanpa melibatkan kalian. Aku janji tapi aku mohon izinkan aku memasak karena aku bosan mbak di kamar. Please!” mohon Violet.


Mbak Ratih pun hanya bisa menghela nafasnya karena ternyata nyonya barunya ini sangat keras kepala mirip sang tuan, “Baiklah!”


__ADS_2