
Deren pun mengangguk lalu kembali minum susunya, "Kita akan melakukan itu sayang. Sekarang menurutmu apa yang harus di lakukan?" tanya Deren karena dia harus meminta pendapat Violet dan Edgar. Bagaimanapun itu ada perusahaan ayah mereka, dia hanya menantu.
Violet hanya diam saja karena dia juga bingung, "Apa kau ingin mengambil perusahaan mereka?" tanya Deren yang hanya melihat sang istri diam saja.
Violet menggeleng, "Aku tidak ingin perusahaan mereka yang di bangun dengan hasil tipuan. Siapa yang tahu selain ayah siapa lagi yang di tipu. Aku hanya ingin mereka merasakan bagaimana perasaan ayah saat itu yang harus rela menutup perusahaan yang dia bangun sejak remaja. Aku ingin mereka merasakan itu. Hanya sebatas itu saja, mereka yang meracuni ayah aku tidak akan membalasnya. Biar itu jadi urusan mereka dengan tuhan." Ucap Violet.
Deren pun mengangguk mengerti, "Itu gampang sayang. Terus bagaimana jika Edgar ingin mengambil perusahaan itu." ucap Deren.
Violet seketika menatap sang suami, "Apa kau belum mengatakan ini kepada Edgar suamiku?" Tanya Violet heran karena dia pikir suaminya itu sudah mengatakan hal ini kepada adiknya tadi
Deren menggeleng, "Aku belum mengatakan apapun kepadanya. Tadi aku hanya memintanya datang ke perusahaan besok dan baru besok aku akan mengatakan semua ini." Jawab Deren.
Violet pun mengangguk mengerti, "Terus kenapa mengatakan ini lebih dulu padaku?" tanya Violet ingin tahu alasan sang suami.
Deren yang mendengar pertanyaan sang istri tersenyum lalu menarik kembali istrinya kepada pelukannya, "Itu karena kau istriku. Selain itu kau juga bertanya apa yang aku bicarakan dengan Edgar tadi dan juga kau berhak tahu lebih dulu dari Edgar karena kau kakaknya. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini dulu kepadamu karena aku tidak ingin melihat kau bersedih lagi tapi sepertinya ini memang sudah waktunya aku menceritakan semuanya. Jadi tadi saat kau menanyakannya aku pun dengan mudah menjawabnya. Jadi apa pendapatmu jika Edgar ingin mengambil perusahaan itu?" Tanya Deren setelah menjawab pertanyaan istrinya.
"Huh, jika Edgar ingin mengambil perusahaan itu maka aku akan mendukung adikku karena dia memang berhak mewarisi itu walau aku adalah anak pertama." jawab Violet.
__ADS_1
Deren tersenyum mendengar jawaban istrinya, dia bangga istrinya menekan egonya untuk adiknya, "Aku gak apa-apakan jika tidak memiliki perusahaan itu? Kau tetap akan menerimaku kan suamiku?" tanya Violet kemudian.
Deren yang mendengar pertanyaan sang istri langsung mengecup kening istrinya, "Kau bicara apa sayang. Aku mencintaimu bukan karena harta tapi karena dirimu. Aku tidak masalah mau kau punya perusahaan atau apa. Aku juga mendapatkan semua informasi ini karena menyelidiki perusahaan itu saja karena masalah penculikan tidak ada satupun dalam otakku bahwa ini akan menambah pundi-pundi kekayaanku. Aku hanya mencoba membantu mengembalikan sesuatu ke tempat seharusnya mana itu terkait dengan keluarga istriku. Jadi aku tidak akan tinggal diam. Untuk masalah ini aku hanya akan jadi pembantu saja yang membantu dari belakang, semua tergantung dirimu dan Edgar karena kalian lah yang berhak untuk itu semua." ucap Deren.
Violet pun tersenyum mendengar jawaban suaminya yang selalu saja membuatnya semakin mencintai suaminya itu dengan segala kebijaksanaannya dan keputusannya yang lebih pertimbangan. Untuk itulah kenapa dia tidak bisa membenci suaminya itu karena cinta di hatinya sangat besar.
"Aku lebih suka kau tidak bekerja sayang. Biar aku yang bekerja dan kau di rumah menikmati hasil usahaku. Tapi aku tahu kau adalah wanita yang akan merasa bosan dengan aktivitas yang hanya itu-itu saja. Selain itu juga aku tahu kau sangat menyukai bertemu dan berbagi pengetahuan dengan anak-anak itu. Jadi satu yang perlu kau ingat bahwa aku selalu mendukung apapun keputusannya." lanjut Deren.
Violet pun tersenyum, "Apa aku berhenti saja bekerja dan fokus di rumah?" tanya Violet.
"Iya, aku menyukai itu sayang tapi aku tidak akan memaksamu." ujar Deren.
Deren pun mengangguk, "Aku percaya dengan semua keputusan yang kau ambil sayang. Aku tahu istriku ini akan mengambil keputusan yang benar untuk semuanya." Ucap Deren.
"Terima kasih suamiku, kau mempercayai aku. Aku sangat senang kau selalu ada untukku. Aku mencintaimu suamiku." bisik Violet.
Deren yang mendengar itu tersenyum senang, "Aku juga mencintaimu sayang. Sangat mencintaimu." Balas Deren. Cinta memang tidak harus selalu di ungkapkan jika sudah saling memahami dan saling mengetahui satu sama lain. Tapi ungkapan cinta bisa menjadi suatu energi sendiri yang bisa menjadikan cinta semakin kuat. Ibaratnya mengungkapkan cinta itu sebagai charge yang berfungsi menambah daya.
__ADS_1
***
Keesokkan siangnya, kini Deren sedang menunggu Edgar di ruangannya karena mereka sudah melakukan kesepakatan bahwa akan bicara nanti siang saja karena Deren pagi tadi masih melakukan rapat sementara Edgar juga masih ada satu urusan yang tidak bisa di tinggalkan.
Kini Edgar sudah tiba di kantor kakak iparnya itu yang ternyata sudah ada Max yang menunggu menyambutnya, "Selamat datang tuan Edgar. Silahkan ikut saya. Tuan sudah menunggu di ruangannya." Ucap Max begitu melihat adik nyonya-nya sudah datang.
Edgar pun mengangguk lalu segera mengikuti Max menuju lift khusus Presdir dan menekan angka tiga puluh. Tidak lama mereka sudah tiba di lantai tiga puluh dan segera keluar begitu pintu lift terbuka, "Silahkan masuk tuan." ucap Max mempersilakan Edgar untuk masuk.
Edgar pun mengangguk lalu dia segera masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan Presdir itu yang sudah pasti dia tahu siapa pemilik ruangan itu, "Masuklah adik ipar. Silahkan duduk." sambut Deren lalu segera menghentikan pekerjaannya dan menyambut adik iparnya itu.
Edgar pun hanya mengangguk dan membalas sambutan kakak iparnya lalu segera duduk di sofa yang sudah tersedia di ruangan itu. Deren juga segera ikut duduk berhadapan dengan adik iparnya, "Max, ambilkan dokumennya." ucap Deren kepada sang asisten.
Max pun segera melakukan perintah tuan-nya itu dan mengambilkan dokumen yang dimaksud lalu segera menyerahkannya kepada Deren. Setelah itu Max segera keluar memberikan waktu untuk tuan dan adik iparnya bicara.
Edgar yang di tinggalkan berdua dengan kakak iparnya sementara Deren hanya diam saja membaca dokumen di hadapannya menjadi gugup dan tegang karena suasana ini sangatlah serius seperti menemui klien saja padahal mereka sudah saling mengenal dan bahkan kadang-kadang dia bercanda dengan kakak iparnya itu tapi kenapa sekarang seperti ruang sidang saja.
Deren segera menutup dokumen yang dia pegang lalu menyerahkannya kepada Edgar, "Bacalah dan pahami isinya. Ohiya jangan tegang, ini bukan ruang sidang." ucap Deren mencoba mengubah suasana karena dia sendiri juga paham suasana tadi terlihat aneh.
__ADS_1
Edgar membaca dokumen itu dengan seksama lalu seketika dia kaget, "Apa maksudnya ini kakak ipar?"