Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
55


__ADS_3

Sementara di Mansion kini Deren segera naik ke lantai dua untuk memastikan apa yang di katakan oleh adiknya karena entah kenapa dia penasaran ingin membuktikannya. Saat Deren membuka pintu dia melihat Violet yang sedang sibuk dengan ritual malamnya, walau Violet tidak begitu suka make up tapi dia tetaplah seorang wanita yang suka kecantikan dan melakukan perawatan menjaga kulitnya.


Deren menatap Violet dalam, Violet menyadari hal itu lalu dia segera berbalik menatap suaminya itu dengan bingung, “Ada apa? Apa ada yang salah? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Violet.


Deren segera tersadar lalu segera menggeleng, “Gak ada apa-apa kok. Ohiya Carra dan Edgar sudah pergi tadi. Mereka tidak sempat pamit padamu.” Deren segera duduk di ranjang sambil matanya menatap sekeliling mencari sesuatu.


Violet hanya mengangguk saja lalu kembali serius dengan perawatannya. Setelah selesai dengan perawatannya Violet tiba-tiba berdiri lalu segera menuju walk in closet sementara Deren dia sudah membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kakinya masih di lantai sambil mengumpati sang adik yang sepertinya membohonginya dan telah memberi harapan padanya setinggi langit itu.


Tiba-tiba ada sesuatu yang Violet letakkan di dada Deren yang terbaring, Deren yang serius dengan ponselnya kaget lalu dia segera bangkit dan memegang apa yang di dadanya itu lalu dia menatap Violet seolah bertanya, “Apa ini? Apa ini untukku?” Tanya Deren.


Violet hanya mengangguk cuek, Deren segera berdiri melihat respon Violet itu lalu segera memeluk Violet dari belakang sambil memegang apa yang di berikan Violet itu di tangannya, “Apa ini untukku?” tanya Deren berbisik.


“Bukankah Carra sudah mengatakannya? Aku yakin adikmu itu pasti sudah mengatakannya kepadamu. Bukalah. Semoga kau menyukainya.” Ujar Violet melepas pelukan Deren karena dia memang terbiasa akan hal itu.


Deren pun segera melepas pelukannya tapi segera menggenggam tangan Violet mengajaknya duduk di ranjang mereka. Violet hanya menurutinya saja dan Deren segera membuka apa yang dia berikan, “I-ini sangat bagus sesuai seleraku. Aku sangat menyukainya. Terima kasih sayang.” ucap Deren lalu segera mencoba pakaian yang di beli Violet itu yang memang sangat sesuai dengan gayanya. Percayalah saat ini hati Deren sedang bahagia karena ternyata istrinya itu memperhatikan penampilannya hingga begitu hafal dengan selera pakaiannya. Bisakah dia berharap lebih karena hal ini?


“Terima kasih.” Ucap Deren lalu mengecup kening Violet. Violet yang melihat itu hanya tersenyum sambil dalam hati dia bersyukur apa yang dia beli di sukai oleh laki-laki yang berstatus suaminya ini mungkin untuk beberapa hari kedepan.


“Syukurlah jika kau menyukainya.” Ucap Violet cuek lalu dia segera berbaring bersiap tidur.

__ADS_1


Deren yang mendengar itu hanya tersenyum karena ternyata istrinya itu masih saja cuek padanya tapi dia yakin bahwa Violet mungkin sudah sedikit menerima pernikahan ini atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Deren segera melipat kembali pakaian itu lalu dia letakkan di meja yang ada dalam kamar mereka lalu dia segera ikut berbaring di ranjang.


Deren menatap Violet yang sudah menutup matanya, “Kenapa kau membelikan aku pakaian itu?” tanya Deren.


Violet segera membuka matanya dan menatap Deren hingga mereka saling bertatapan, “Gak ada alasan khusus, aku hanya melihat itu sepertinya bagus untukmu jadi aku membelinya. Selain itu juga gak ada gunanya aku pergi ke mall jika tidak ada yang aku beli. Jadi daripada aku hanya membuat kakiku lelah pergi kesana dan tidak ada yang aku beli maka aku beli saja.” jawab Violet cuek lalu kembali menutup matanya karena sejujurnya dia tidak sanggup jika mereka saling bertatapan seperti itu.


Deren pun hanya tersenyum dan tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi yang mungkin akan membuat istrinya itu tidak nyaman walau dia masih belum puas akan jawaban istrinya, “Emm,, tapi aku kok gak menerima laporannya dari kartu yang aku berikan padamu. Apa kau tidak menggunakannya?” tanya Deren.


“Emm, aku menggunakan kartuku sendiri.” Jawab Violet.


“Kenapa tidak menggunakan kartu yang aku berikan?” tanya Deren.


Deren yang mendengar hal itu seketika menyunggingkan senyumnya, “Jadi itu hadiah untukku?” tanya Deren dengan nada menggoda.


Violet yang tersadar telah keceplosan pun hanya bisa mengutuk dalam hati, “Terserah apa katamu, aku malas bicara. Sudah jangan ganggu aku, aku mau tidur.” Ucap Violet lalu segera memiringkan tubuhnya hingga membelakangi Deren.


Deren tersenyum, “Terima kasih yaa sudah memberiku hadiah. Aku janji akan memakai apa yang kau beli itu.” ucap Deren tulus lalu dia segera membaringkan tubuhnya dengan benar berencana akan tidur karena saat ini dia sedang bahagia.


Sementara Violet masih saja mengutuk dirinya dalam hati, “Dasar bodoh kau Vio! Kenapa bisa keceplosan begitu? Aku yakin saat ini dia sedang di atas angin karena mengira aku memperhatikannya atau mungkin dia berpikir aku sudah mencintainya. Itu gak mungkin terjadi, aku gak mungkin mencintainya. Pernikahan ini hanyalah sandiwara.” Batin Violet mencoba menegaskan apa hubungan antara dirinya dan Deren.

__ADS_1


***


Tidak terasa hari ini sudah weekend dan Deren lebih dulu terbangun dari Violet. Deren tersenyum menatap wajah damai Violet yang terlihat sangat cantik di matanya. Menurutnya Violet tidak pernah jelek selalu saja cantik baik sedang tidur atau pun tidak.


Violet yang mendengar suara adzan segera terbangun dan membuka matanya hingga dia bertatapan dengan mata milik Deren, “Pagi!” ucap Deren.


“Pagi!” balas Violet.


“Selamat ulang tahun sayang!” ucap Deren.


Violet yang mendengar hal itu bingung, mungkin pengaruh dia baru bangun tidur dan nyawanya belum terkumpul atau dia memang tidak ingat hari ini, “Ulang tahun?” tanya Violet seperti orang bodoh.


Deren yang melihat kebingungan di wajah Violet tersenyum, “Apa kau lupa hari ini ulang tahunmu sayang.” ujar Deren.


Violet segera meraih ponselnya dan mengecek tanggal di ponselnya dan ternyata benar hari ini ulang tahunnya yang berarti hari ini dia genap berusia 29 tahun, “Terima kasih!” ucap Violet kemudian sambil menatap Deren.


Deren hanya mengangguk saja, “Aku tahu kau mungkin melupakannya. Ohiya ayo sana siap-siap sholat, nanti waktu subuhnya akan terlewat.” Ucap Deren segera bangkit lalu menuju kamar mandi lebih dulu.


Sementara Violet masih tidak percaya bahwa suaminya itu yang pertama kali mengucapkan ulang tahun padanya karena biasanya selama beberapa tahun ini setelah sang ayah meninggal ibunya yang akan mengucap pertama kali untuknya sewaktu dia bangun di pagi hari ulang tahunnya lalu di susul oleh Edgar lalu malamnya ibunya akan memasak makanan kesukaannya untuk merayakan ulang tahunnya di rumah. Jika sewaktu ayahnya masih hidup ibu dan ayahnya adalah orang pertama yang akan mengucapkan ulang tahun padanya dan malamnya mereka akan dinner di restoran.

__ADS_1


__ADS_2