
Deren yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafasnya, “Baiklah jika memang itu yang kau inginkan, aku akan segera memberikannya! Aku akan meminta Max menyuruh pengacara agar surat perceraian kita segera dibuat. Aku akan membebaskanmu! Aku harap kau bahagia!” ucap Deren lalu segera keluar dari ruangan itu menuju ruang kerjanya.
Violet yang di tinggalkan di kamar segera saja jatuh tersungkur, “Bukankah kau yang sangat menginginkan ini? Bukankah kau sangat ingin perceraian ini? Jika saja kau mengatakan bahwa menginginkan pernikahan ini karena menyukaiku mungkin aku akan bertahan--” tangis Violet.
“Jangan menangis Vio, ini adalah pilihan yang terbaik. Kenapa kau menangis, kau tidak boleh jatuh cinta padanya. Perceraian ini memang akan ada cepat atau lambat, bukankah ini memang resiko dari menerima perjanjian ini. Semakin cepat perceraian ini terjadi maka lebih baik. Selain itu kau memang tidak pantas menjadi istrinya pendamping dari seorang presdir yang sangat di segani. Jangan bermimpi terlalu tinggi Vio apalagi bermimpi untuk menjadi nyonya Deren. Itu tidak akan terjadi.” Batin Violet sambil air matanya jatuh bercucuran di wajahnya. Percayalah tidak ada tangis lebih menyakitkan dari tangis tanpa suara.
“Ini yang terbaik untuk semuanya Vio, kau memang tidak pantas untuk semua ini. Setidaknya kau sedikit bangga pernah menjadi istri dari orang nomor satu di Negera ini.” gumam Violet sambil menghapus air matanya dan berusaha bangkit lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya tapi lagi-lagi dia menangis di kamar mandi.
Sementara Deren yang perasaannya sedang kacau sampai di ruang kerjanya dia segera menelpon Max, “Max, temani aku ke klub! Jangan tanya kenapa dan aku tunggu dalam waktu 15 menit kau sudah tiba di Mansion, tidak boleh terlambat walau satu detik saja.” ucap Deren to the point begitu sambungan telepon tersambung dan sebelum Max menjawab sambungan telepon itu segera terputus hingga membuat Max di seberang mengumpati bosnya ini. Tapi lagi-lagi Max hanya bisa menuruti perintah bosnya itu tanpa bertanya dan saat ini dia sudah berada di mobil menuju Mansion tuannya dengan kecepatan di atas rata-rata dan untunglah dia tiba hanya dalam waktu 13 menit saja.
Deren yang sudah menunggu asistennya di pintu utama Mansion segera mendekat begitu mobil Max masuk, “Ke klub D” ucap Deren begitu masuk ke mobil sang asisten.
Max pun hanya bisa menghela nafasnya tapi lagi-lagi dia segera melajukan mobilnya menuju klub tapi dia menatap sekilas wajah sang bos dan baru menyadari ada bekas air mata di pipi bosnya itu.
Tidak sampai 20 menit mereka tiba di sebuah klub yang memang sangat terkenal dan kedua pria itu segera masuk dan langsung saja kedatangan keduanya menjadi pusat perhatian, “Max, pesankan ruang khusus untukku, jangan ada yang menganggu!” pinta Deren.
Max pun hanya mengangguk dan langsung melaksanakan perintah bosnya itu dan tidak lama kini Deren dan Max sudah ada di dalam ruangan khusus berdua dan mereka hanya minum minuman bersoda saja, “Sebenarnya apa yang terjadi denganmu bos? Apa karena berita hari ini atau karena saham perusahaan yang turun?” tanya Max yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Bisa di katakan seperti itu.” jawab Deren.
__ADS_1
“Tapi bukankah saham perusahaan sudah stabil dan berita itu sudah hilang. Saya sudah memastikannya sendiri bahwa semuanya sudah hilang.” Ujar Max bingung.
“Vio ingin bercerai!” ucap Deren sambil minuman minuman kaleng itu.
“Nyonya meminta bercerai? Tapi kenapa? Apa karena--”
Deren mengangguk, “Yah dia merasa bersalah karena berita itu saham perusahaan turun.” Jawab Deren sendu.
“Lalu apakah anda akan menyetujui perceraian itu?” tanya Max penasaran karena dia memang satu-satunya yang tahu akan perjanjian yang terjadi antara Deren dan Violet.
“Menurutmu?” tanya Deren balik menatap asistennya. Max tersenyum lalu kedua laki-laki itu segera mengangkat kaleng masing-masing dan meminumnya.
Keesokan paginya Violet terbangun pukul 06.02 untung saja dia sudah kedatangan tamu semalam jadi tidak berdosa karena melewatkan kewajibannya. Violet mengernyapkan matanya dan menyadari bahwa dia hanya tidur sendiri dan berusaha mengingat-ngingat.
“Ahh sepertinya dia tidak pulang kesini semalam.” Gumam Violet yang baru mengingat bahwa saat dia sudah lelah menangis dan tertidur Deren tidak juga pulang ke kamar mereka itu.
Violet segera turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi membersihkan diri tapi sebelum itu dia merapikan tempat tidur terlebih dahulu.
Satu jam kemudian, kini Violet berada di meja makan tapi dia tetap tidak menemukan Deren di sana, “Nyonya, ini minuman untuk anda!” ucap salah satu maid yang mengantarkan ramuan jahe untuknya meredakan nyeri haidnya.
__ADS_1
“Terima kasih yaa! Ohiya apa kalian melihat tuan?” tanya Violet.
“Tuan tadi pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor dengan di jemput oleh tuan Max, nyonya!” jawab maid itu.
“Ouh sepertinya saya masih tertidur. Yaa sudah kamu kembali bekerja.” Ucap Violet lalu segera meminum minuman herbal itu agar nyerinya segera reda.
Setelah sarapan Violet segera pamit kepada para maid dan bodyguard menuju sekolah dan tentu saja di antar oleh Doni bodyguard yang memang di tugaskan menjaganya.
“Doni, apa kau melihat tuan pergi pagi tadi?” tanya Violet saat mereka sedang dalam perjalanan.
“Iya nona! Tuan di jemput oleh tuan Max karena ada rapat penting pagi ini.” jawab Doni.
Violet pun hanya mengangguk saja tidak berniat bertanya lagi karena dia yakin jika dia bertanya lebih lanjut pun Doni pasti tidak mengetahuinya karena laki-laki itu hanya di tugaskan untuk menjaganya saja atau mungkin lebih tepatnya mengawasinya, hingga kini Violet masih belum bisa menerima akan hal itu walau akhir-akhir ini dia sudah bisa memakluminya sedikit.
Entahlah apa yang terjadi padanya, kadang dia senang akan perhatian dan penjagaan Deren tapi kadang dia juga merasa terkekang akan hal itu. Dia memang sudah dewasa dalam segi usia dan keras kepala karena sebagai anak pertama tapi percayalah dia adalah seorang putri yang sangat di manjakan oleh ayahnya sewaktu dia hidup, selama ayahnya hidup apapun permintaannya selalu dituruni. Setelah sang ayah meninggal hal itu menjadi pukulan terberat untuknya hingga dia di tuntut untuk selalu tampil sempurna karena dia ingat permintaan terakhir ayahnya yang memintanya untuk menjaga ibunya dan sang adik. Hal itulah yang mengubahnya menjadi sosok yang keras kepala dan tidak ingin keputusannya diubah tapi percayalah dia hanya menyembunyikan sosoknya yang rapuh.
“Doni, kau bisa menunggu di sini atau mungkin kopi di depan sana juga bisa.” Ucap Violet segera turun dari mobil.
“Baik nyonya kalau begitu saya akan ngopi di depan saja.” balas Doni.
__ADS_1
Violet hanya mengangguk lalu segera masuk menuju sekolah tempat dia mengajar dan selama kurang lebih lima jam dia berada disana. Bermain, bernyanyi, menulis, membaca bersama anak-anak kecil itu membuatnya melupakan masalahnya.