Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
81


__ADS_3

Singkat cerita kini Deren dan Violet dalam perjalanan pulang menuju rumah ibu Anggi. Saat sudah tiba dan Violet hendak turun Deren menahannya, "Suamiku, ayo lepas." ucap Violet.


Deren menggeleng, "Gak mau sayang, aku gak mau pisah sama kamu. Kamu ikut ke mansion yaa." bujuk Deren.


Violet menghela nafasnya kasar dan menepuk keningnya. Violet segera menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya, "Suamiku ini sudah jadi keputusan kita. Kita akan segera menikah bukan? Jadi biarkan aku dalam beberapa hari ini tinggal bersama ibu dan Edgar yaa." ucap Violet.


Deren pun hanya bisa cemberut, "Tapi sayang kita belum membaca surat dari mommy. Aku ingin kita membacanya bersama-sama walau surat itu sendiri-sendiri." ucap Deren. Yah, memang keduanya belum membuka surat dari mommy Grysia dan sepakat akan membuka dan membacanya bersama. Setelah Soraya dan Bima pergi Deren kembali bekerja dengan di bantu Violet sedikit yang hanya dia mengerti saja.


Violet menghela nafasnya kembali, "Baiklah begini saja, kau ikut aku ke dalam dan kita akan membacanya bersama di kamarku. Setelah itu kau harus pulang yaa suamiku. Gak usah alasan lagi. Sudah ahh buka pintunya aku mau turun." ucap Violet.


Bukannya membuka pintu Deren tetap menahan tangan sang istri, "Bisakah aku menginap saja?" tawar Deren.


Violet lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya karena suaminya itu yang sepertinya tidak ingin berpisah darinya, "Terserah padamu saja suamiku. Tapi jika Carra melarangmu aku gak akan membelamu, awas saja jika bawa-bawa aku nanti. Cari sendiri alasan yang akan kau berikan pada Carra. Sekarang buka pintunya suamiku." Ucap Violet.


Deren tersenyum lalu segera membuka pintunya tapi percayalah otak pintarnya sedang berpikir alasan apa yang akan dia berikan kepada adiknya itu agar luluh dan mengizinkannya menginap di rumah sang istri.

__ADS_1


Setelah mendapatkan sedikit ide Deren segera keluar menyusul sang istri yang sudah masuk lebih dulu ke rumah mertuanya itu.


Deren segera masuk dan menyalami tangan mertuanya yang memang sedang duduk di ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu. Deren menatap sekeliling mencari sang istri.


Ibu Anggi yang menyadari hal itu tersenyum mengerti, "Dia ada di kamarnya nak. Temuilah." Ucap ibu Anggi lembut.


Deren yang mendengar ucapan mertuanya kaget, "Apa bisa aku masuk ke kamarnya bu?" tanya Deren.


Ibu Anggi mengangguk, "Tentu saja nak. Itu kamarnya. Kau kan suaminya jadi bisa masuk walau kalian ingin melakukan akad lagi." ucap ibu Anggi karena dia tahu bahwa putri dan menantunya itu masih sah sebagai suami istri walau Deren sudah mengucapkan kata pembebasan itu beberapa kali namun itu hanya jatuh sebagai talak satu saja belum talak tiga jadi sebenarnya Deren cukup merujuk istrinya itu tidak harus mengulang akad apalagi Deren mengatakan hal itu tidak ada niatan sama sekali untuk menceraikan Vioket tapi jika itu sudah jadi keputusan keduanya maka dia hanya bisa mendukung. Mungkin keduanya ingin memiliki moment pernikahan yang benar-benar di selimuti cinta bukan karena pemenuhan perjanjian.


Deren dengan langkah semangatnya dan penuh dengan kebahagiaan segera membuka kamar sang istri yang berhubung tidak di kunci itu. Dia melangkah masuk ke kamar istrinya itu yang ukurannya minimalis hanya 3x3 meter dengan kamar mandi di dalam. Tapi dia menemukan kedamaian di sana karena walau ukuran kamar itu minimalis tapi tertata sangat rapi pantas saja kamarnya selalu rapi karena ternyata dia dan Violet sama-sama memiliki sifat rapi.


Deren mengagumi kamar itu, semua penataan dan pencahayaan kamar itu sangat bagus. Deren menatap ranjang istrinya uang berukuran queen itu 160x200. Dia tersenyum melihat pakaian yang di pakai istrinya tadi terletak di ranjang itu. Dia sudah tahu sang istri sedang mandi karena ada suara gemericik air dari kamar mandi. Deren yang menunggu istrinya mandi dan sudah puas melihat kamar sang istri memilih berbaring di ranjang sambil menghirup aroma tubuh sang istri yang tertinggal di ranjang itu.


Sekitar 15 menit kemudian, Violet keluar dari kamar mandi dan kaget mendapati sang suami di kamarnya walau dia sudah menduga suaminya itu akan ada di sana tapi tetap saja dia tidak menyangka suaminya bisa dengan mudah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Violet mengabaikan suaminya itu dan memilih mengambil pakaian di lemarinya. Deren yang merasa istrinya mengabaikannya dan tidak terpengaruh dengan keberadaanya dan tetap santai dengan batrobenya yang entah kenapa penampilan istrinya itu memancing hasratnya, "Sayang, apa kau berniat menggodaku? Kenapa hanya memakai batrobe?" tanya Deren.


Violet menatap suaminya itu sambil memegang pakaiannya di dada, "Huh, aku gak tahu kau ada di sini suamiku. Aku tidak bermaksud menggodamu sama sekali, kau saja yang masuk ke kamarku tanpa izinku. Jadi jangan salahkan aku, masih untung aku memakai batrobe entah bagaimana jika hanya memakai handuk." ujar Violet.


Deren semakin mendekat ke arah sang istri, "Jangan mendekat suamiku, aku tahu mungkin penampilanku seperti ini sudah membangkitkan hasratmu maka dari itu biarkan aku mengganti pakaian. Okay, jangan menyiksa dirimu." ucap Violet lalu dia segera berlari menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Deren yang melihat itu tertawa gemas dengan tingkah sang istri, "Kenapa dia bisa menggemaskan dan sexy di saat yang bersamaan begitu. Ahh aku semakin mencintainya. Aku harus mempercepat pernikahan kami karena jika tidak maka aku akan semakin menderita melihatnya begitu. Seharusnya aku tidak menyetujui untuk melakukan akad lagi hanya ku rujuk saja dia. Ahh memang penyesalan datang di akhir. Sudahlah." Gumam Deren lalu segera berbaring kembali ke ranjang milik sang istri sambil menenangkan hasratnya yang sempat naik.


Tidak lama Violet segera keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkapnya. Dia hanya tersenyum melihat sang suami yang berbaring di ranjangnya sambil menutup mata itu. Dia tahu suaminya itu sedang berusaha mengendalikan hasratnya. Violet paham akan kondisi sang suami tapi mereka sudah menyepakati untuk mengulang akad nikah. Jadi harus bersabar.


Violet duduk di lemari rias kecilnya lalu segera mengeringkan rambutnya. Deren yang menyadari sang istri sudah keluar segera bangun dan mengambil alih mengeringkan rambut istrinya, "Suamiku biar aku saja. Kamu istirahat saja." ucap Violet.


Deren menggeleng, "Biarkan aku merasakan bagaimana memanjakan istri sayang. Jadi lebih baik kamu diam saja." balas Deren.


Violet pun hanya bisa pasrah saja dan membiarkan suaminya itu mengeringkan rambutnya, "Okay, sudah kering." ujar Deren setelah memastikan seluruh rambut istrinya sudah kering.

__ADS_1


Violet tersenyum dan menatap sang suami penuh cinta, "Terima kasih honey." balas Violet.


__ADS_2