
Singkat cerita, kini Deren sudah ada di parkiran mall dengan bersandar di mobilnya menunggu sang istri yang katanya sedang menuju pintu keluar. Tidak lama Violet sudah terlihat dengan paperback di tangannya dan beberapa paperback yang lain di tangan Doni dan Arini.
Deren segera melambaikan tangannya kepada sang istri, Violet yang melihat itu tersenyum kini segera berlari kecil mendekati suaminya dan begitu sampai dekat suaminya langsung saja dia memeluk suaminya itu lalu menyalaminya. Deren tersenyum lalu membalas dengan mengecup kening sang istri, "Apa sudah lama sampainya?" tanya Violet masuk ke mobil dengan di bukakan oleh sang suami.
Deren menggeleng, "Baru kok sampai mungkin sekitar lima menit yang lalu. Saat tadi menghubungimu itu baru saja sampai." Jawab Deren jujur karena dia memang baru tiba.
Violet pun mengangguk, "Syukurlah aku tidak membuat suami tampanku ini menunggu terlalu lama." ucap Violet sambil menyentuh dagu sang suami begitu Deren masuk ke mobil.
Deren pun tersenyum, "Gak apa-apa sayang menunggu. Suamimu ini akan menunggu dan terus menunggu dan tidak akan bosan jika yang ku tunggu adalah istri cantik dan sebaik dirimu." Ujar Deren.
Violet pun tersenyum, "Dasar gombal tapi aku tetap menyukainya." Ucap Violet.
"Bukan gombal itu sayang memang kenyataannya." Ujar Deren.
Violet pun mengangguk-ngangguk, "Ya ya aku percaya suamiku ini gak pernah bohong kok. Aku mencintaimu." Ucap Violet memegang dagu sang suami lalu dia segera menatap keluar menatap Doni dan Arini yang baru saja selesai memasukkan paperback belanjaannya di bagasi mobil suaminya itu.
"Doni, antar Arini ke rumahnya dengan selamat sampai tujuan. Jangan di apa-apain anak orang." ucap Violet. Doni mengangguk sementara Arini pun menunduk malu.
“Kami duluan Doni, Arini.” Ucap Deren.
Doni dan Arini mengangguk, “Hati-hati di jalan tuan, nyonya.” Ucap Doni dan Arini bersamaan. Deren dan Violet pun mengangguk lalu Deren segera menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran mall itu.
__ADS_1
“Mereka lucu suamiku.” Ucap Violet tersenyum.
“Kenapa lucu?” Tanya Deren.
“Doni dengan terang-terangan sudah menunjukkan perasaannya sedangkan Arini dia malu mengakui bahwa sebenarnya dia juga sudah tertarik dengan Doni. Aku tahu dia mengagumi Ronal tapi itu hanya sebatas kagum saja. Jika bersama Doni kedekatan mereka yang tercipta karena pertengkaran dan perdebatan saat bertemu sebenarnya itu membuat perasaan itu tumbuh dalam hati mereka hanya saja Arini tidak ingin mengakuinya.” Ucap Violet.
“Iya memang begitu wanita. Gengsian!” sindir Deren.
Violet tertawa mendengar sindiran suaminya itu yang dia tahu suaminya tujukan kepadanya, “Bukan gengsi suamiku tapi masa iya sang pria saja belum juga mengungkapkan perasaannya masa iya kita koar-koar akan perasaan kita. Kan malu. Perempuan itu sangat menjaga harga diri suamiku. Jadi jangan salahkan mereka. Ingat hanya sedikit wanita yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan cinta lebih dulu dan aku tidak termasuk pada golongan wanita itu. Aku ini menjunjung harga diriku.” Ucap Violet.
Deren pun tersenyum lalu dia menggenggam tangan istrinya, “Aku tahu sayang dan aku pun gak mau harga dirimu jatuh hanya karena mengungkapkan cinta lebih dulu. Aku saja yang pengecut karena tidak cepat mengungkapkan perasaanku. Itu kebodohan terbesarku. Aku mencintaimu selalu sayang.” Ucap Deren.
***
Malam harinya, setelah isya setelah Violet selesai dengan ritual perawatannya dan tinggal tidur dia segera bergabung dengan sang suami yang sudah lebih dulu di ranjang yang sibuk dengan ponselnya sambil membaca berita-berita bisnis. Violet segera bergabung dengan suaminya dan dia berbaring dengan berbantalkan lengan sang suami lalu ikut membaca berita bisnis di ponsel sang suami.
Deren segera menyudahi bacaannya dan segera memeluk istrinya itu erat sambil menciumi dan menghirup rambut sang istri, “Sayang, belanja apa tadi di mall?” Tanya Deren karena dia memang gak mengetahui apa yang di beli istrinya itu. Semua barang belanjaan istrinya langsung di letakkan di walk in closet dan istrinya itu belum membukanya.
Violet yang mendengar perkataan suaminya tersenyum, “Kenapa, penasaran yaa?” Tanya Violet dengan senyum menggoda suaminya.
Deren pun tertawa lalu mengecup pipi sang istri, “Tenang saja suami tampanku. Aku tidak menghabiskan uangmu kok mungkin hanya sekitar satu digit saja yang hilang.” Ujar Violet.
__ADS_1
Deren yang mendengar itu segera memeluk erat istrinya, “Uang gak jadi masalah untukku sayang. Mau kau habiskan semua uangku pun gak masalah asal kau bahagia.” Ucap Deren.
“Ish kau gak asik honey. Seharusnya kau itu marah karena aku sudah menghabiskan uangmu ini justru begini padahal aku sudah berusaha dengan keras untuk menguras kantongmu tapi sepertinya usahaku itu sia-sia. Ahh jadi malas jadinya.” Ucap Violet pura-pura merajuk.
Deren yang melihat itu menjadi gemas hingga menggigit pipi istrinya saking gemasnya, “Sakit, suamiku.” Ucap Violet.
Deren pun tertawa, “Salah sendiri menggemaskan begitu. Aku gak bisa marah kepadamu sayang. Aku itu sangat menyayangimu hingga tidak tega memarahimu. Perlu kau tahu ada saat aku pernah marah padamu saat itu setelah dari sana aku menyalahkan diriku karena sudah memarahimu maka dari itu aku tidak bisa marah padamu. Lagian juga apa yang aku miliki itu adalah milikmu. Semua hasil usahaku adalah milikmu dan anak-anak kita nanti.” Ucap Deren mengelus perut sang istri sambil berharap semoga saja Allah yang maha pengasih segera memberikan pengganti akan anak yang sudah dia ambil kembali.
Violet yang mendengar itu tersenyum lalu dia mengecup bibir suaminya itu sekilas, “Kau gak asik suamiku. Sudahlah apa sekarang sudah gak penasaran lagi apa yang aku beli?” Tanya Violet segera bangun.
Deren pun ikutan bangun dan memeluk istrinya itu dari belakang, “Penasaran sayang. Ayo kita lihat apa yang kau beli.” Ucap Deren berbisik.
Violet tersenyum lalu dia segera melepas pelukan suaminya dan turun dari ranjang, “Ayo!” ajak Violet mengulurkan tangannya kepada sang suami.
Deren pun turun dari ranjang dan segera menggenggam tangan istrinya lalu keduanya segera meninggalkan ranjang mereka menuju walk in closet untuk mengambil belanjaan sang istri. Setelah itu Deren dan Violet kembali dengan paperback di tangan mereka. Keduanya memutuskan untuk melihat hasil belajaan Violet di kamar saja.
Violet mulai melihat paperback itu satu persatu lalu segera memberikan satu paperback untuk suaminya, “Itu untukmu suamiku. Semoga kau suka.” Ucap Violet. Deren pun menerimanya lalu segera membukanya ternyata isinya beberapa kaos yang memang sesuai dengan seleranya.
“Terima kasih sayang. Tapi kenapa kok membelikan kaos untukku tidak setelan?” Tanya Deren.
“Karena mas sudah punya banyak setelan banyak dan aku bingung mau menambah setelan model apa lagi untukmu jadi aku beli saja kaos. Selain itu juga kenapa aku membelikan kaos karena suamiku tampanku ini akan terlihat semakin tampan dengan pakaian kasual daripada setelan jas.” Ujar Violet tanpa menatap sang suami dan sibuk dengan paperback-nya.
__ADS_1