Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
140


__ADS_3

Setelah acara haru yang terjadi di kamar dan riasan Carra yang sedikit berantakan kembali di perbaiki. Kini Carra turun menemui sang suami yang sudah menunggunya dengan di apit oleh ibu Anggi dan Violet.


Begitu tiba di tempat akad semua tamu undangan memandangi ketiga wanita yang masuk ke tempat akad itu. Edgar dan Deren pun memandang ke arah orang yang datang tentu saja dengan perasaan masing-masing. Jika Edgar meneteskan air matanya terharu karena gadis yang dulunya hanya kekasihnya kini sudah resmi menjadi istrinya berbeda dengan Deren yang memandangi adiknya itu yang kini sudah menjadi seorang istri dan memandangi Violet istri cantiknya dengan tatapan terpesona lagi dan lagi. Deren merasa ini seperti suasana akad pernikahannya saja dia merasa seperti menyambut sang istri karena istrinya itu sangat cantik dengan kebayanya. Sama cantiknya dengan sang adik yang juga dengan kebayanya.


Edgar segera menyambut Carra yang kini sudah dekat dengannya dan Violet menyerahkan tangan Carra kepada Edgar. Carra segera menyalami tangan Edgar penuh hormat tanda dia menghormati suaminya itu yang di balas oleh Edgar dengan kecupan di kening Carra lembut. Percayalah itu adalah kecupan pertama mereka karena walau keduanya sudah menjalin hubungan sejak lama tapi tidak pernah ada kissing maupun kecupan antara mereka. Selama mereka menjalin hubungan hanya pegangan tangan dan berpelukan itu pun pelukan dilakukan saat-saat tertentu seperti saat Carra sedih kehilangan mommy-nya saat itu. Edgar sangat menjaga Carra karena dia sudah di ajari untuk menghormati wanita dan juga bahwa ada kakaknya yang harus dia jaga yang akan menerima karma perbuatannya atau bisa juga terjadi pada putrinya nanti dan Edgar tidak ingin itu terjadi pada kakaknya maupun putrinya yang tidak menghormati wanita justru melecehkan mereka. Selain itu juga Edgar memiliki seorang ibu jadi pantang baginya melakukan hal tidak senonoh pada wanita karena dia juga lahir dari seorang wanita jadi sama saja jika dia memperlakukan wanita dengan buruk maka sama saja memperlakukan ibunya seperti itu.


Setelah saling menyalami satu sama lain kini keduanya saling bertukar cincin nikah. Percayalah itu cincin baru lagi bukan cincin pertunangan mereka. Edgar ingin memberikan yang terbaik kepada istrinya, kepada gadis yang menerima semua kekurangannya, gadis yang tidak pernah membedakannya dengan pria kaya di luar sana, gadis yang tidak pernah menuntut apapun padanya. Dia ingin memberikan semuanya kepada gadis itu.


Setelah bertukar cincin kini keduanya menandatangani dokumen pernikahan mereka lalu setelah itu tentunya berfoto. Semua kejadian harus di foto agar bisa menjadi kenangan nanti dan juga bisa diceritakan kepada anak cucu kita nanti.


***

__ADS_1


Setelah seluruh rangkaian akad selesai, Edgar dan Carra pun di beri waktu untuk bertukar pakaian karena memang acara segera dilanjutkan dengan resepsi. Violet, Deren dan ibu Anggi mereka masih menerima tamu yang sudah mulai berdatangan tapi sebelum itu Violet mengubah kebayanya menjadi model gaun dan Deren mengganti jasnya.


Edgar dan Carra bertukar pakaian di ruangan yang berbeda. Walaupun mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri dan bahkan menjalin hubungan sebelum menikah tetap saja ada rasa kecanggungan di antara keduanya jika nanti harus mengganti pakaian di ruangan yang sama maka untuk itu baik Edgar maupun Carra memutuskan untuk bertukar pakaian di ruangan yang berbeda.


Tepat pukul 10.00 acara resepsi pernikahan Edgar dan Carra dimulai. Semua tamu berdatangan baik dari relasi bisnis Deren, Edgar, Carra maupun Violet semuanya datang. Edgar dan Carra pun sudah siap dengan pakaian untuk resepsi pernikahan mereka.


Edgar dan Carra memasuki tempat resepsi mereka dengan menaiki kereta layaknya pernikahan kerajaan bahkan pelaminan pun cepat di ubah menjadi suasana kerajaan.


"Wah, nona Carra sangat cantik." Ucap Arini memuji. Dia lagi-lagi terpukau dengan penampilan Carra. Selain penampilan Carra yang membuat dia terpukau dia juga terpukau dengan penampilan Violet yang sangat cantik dengan gaunnya.


"Tentu saja cantik. Emang kau?" timpal Doni yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Arini.

__ADS_1


Arini yang mendengar Doni tiba-tiba bersuara membuatnya kaget lalu dia segera menatap Doni tajam, "Bisa gak sih kalau mau bicara itu jangan ngagetin? Untung saja aku gak punya riwayat jantung jika tidak mungkin sudah end bertemu denganmu. Kasihan nanti yang jadi istrimu akan akan memiliki suami suka ngagetin orang. Ohiya juga perkataanmu tadi itu aku memang gak cantik makanya mengagumi orang cantik. Emang masalah jika aku memuji orang cantik. Huh, dasar menyebalkan." ucap Arini lalu berlalu meninggalkan Doni sendiri. Pasalnya dia malas ketemu Doni laki-laki itu bukan hanya sekali tiba-tiba bicara tanpa diketahui. Dia sering kaget dengan kelakuan Doni itu dan entah kenapa juga dia harus terlibat bekerja dengan bodyguard nyonya bosnya itu.


Sementara Doni yang di tinggalkan begitu saja bahkan di katai kasihan gadis yang akan jadi istrinya nanti pun seketika mengepalkan tangannya, "Aku bersumpah akan membuat gadis itu adalah dirimu. Aku akan selalu membuatmu kaget nanti. Kau yang akan menjadi gadis yang kau kasihani itu." Sumpah Doni.


Ronal dan Max yang mendengar sumpah Doni pun menepuk bahunya, "Hati-hati dalam membuat sumpah. Ingat bukankah kau menyukai gadis itu? Jika kau menyukainya maka ungkapkan kawan bukan menyumpahinya. Ingat bagaimana tuan kita bertindak tidak dicintai maka di jebak dalam perjanjian dan kini lihatlah dia sudah menemukan kebahagiaannya." ucap Max terkekeh.


Ronal hanya mengangkat kedua alisnya melihat dua temannya itu lalu ketiga lelaki itu segera duduk di kursi dekat mereka, "Aku memang menyukainya tapi kau juga tahu bahwa yang dia suka adalah Ronal." Ucap Doni menatap Max dan Ronal bergantian.


Ronal yang namanya di sebut pun menatap heran ke arah Doni, "Kok jadi aku di ajak-ajak dalam masalah kalian. Aku gak mau yaa Don ikut terlibat dalam masalah kalian." ucap Ronal karena dia memang tidak merasa Arini menyukainya. Dia memang dekat dengan Arini saat bekerja beberapa hari di kantor Deren saat tuannya itu menikah tapi dia dekat dengan gadis itu hanya untuk membantunya saja bekerja itu pun hanya sesekali. Mereka tidak seakrab itu hingga Arini bisa menyukainya dia yakin Doni mengada-ngada.


Doni pun mendelik ke arah Max, "Sudahlah jangan pedulikan dia. Aku yakin Ronal tidak memiliki perasaan apapun kepada Arini. Iya kan boy?" ucap Max sambil menatap Ronal. Ronal hanya membalasnya dengan mengangkat bahu tanda dia tidak peduli. Memang itulah Ronal dengan segala kepribadian dinginnya.

__ADS_1


__ADS_2