
Keesokkan siangnya, kini Deren sudah menunggu Violet di depan sekolahnya karena sesuai kesepakatan mereka sebelumnya hari ini mereka akan pergi mengunjungi Mommy Deren.
Violet yang sudah melihat Deren yang menunggunya segera keluar, “Apa anda sudah menunggu terlalu lama?” tanya Violet.
“Gak baru saja saya tiba.” Jawab Deren.
Violet pun mengangguk, “Saya masih harus menunggu semua anak didik saya pulang.” Ucap Violet.
“Terserah padamu.” Jawab Deren. Violet pun segera berlalu menemani anak didiknya yang ternyata Deren juga mengikutinya dari belakang dan segera bergabung dengan Violet menemani anak didiknya.
“Ibu Vio!” panggil Cally.
Violet pun melihat anak didiknya itu lalu Cally mengisyaratkan ingin membisikkkan sesuatu, Violet pun mendekatkan telinganya kepada anak didiknya itu, “Ibu Vio apa tuan itu pacar ibu?” tanya Cally berbisik tapi masih bisa di dengar oleh Deren.
Violet pun melihat siapa maksud anak didiknya itu, “Gak kok, tuan itu teman ibu.” Balas Violet sedikit berbisik.
Seketika wajah Cally cemberut mendengar jawaban Violet, “Yah Cally pikir pacar ibu padahal Cally senang deh jika tuan itu pacar ibu dengan begitu Cally tidak akan melihat ibu bertemu dengan om jahat itu. Lagian tuan itu juga lebih tampan dari om jahat selain itu juga lebih kaya sepertinya.” Ucap Cally berbisik tapi tentu saja bisa di dengar oleh Deren. Violet pun hanya menatap Deren yang sepertinya menahan senyumnya.
“Om tampan bisakah kau jadi pacar ibu Vio?” pinta Cally menatap Deren yang memang kebetulan tinggal mereka bertiga di sana karena tinggal Cally yang belum di jemput.
Deren pun segera menatap gadis kecil itu gadis kecil yang sama yang hampir di tabraknya beberapa hari yang lalu. Deren menyamakan tingginya dengan Cally, “Emm sebenarnya om ini memang bukan pacar ibu Vio tapi calon suami.” Ucap Deren.
“Calon suami? Apa om tampan akan menikah dengan ibu Vio?” tanya Cally tersenyum gembira.
Deren mengangguk menatap Violet sekilas lalu kembali menatap Cally, “Yah om akan menikah dengan Ibu Vio. Apa kau setuju om jadi suaminya ibu Vio?” tanya Deren.
Cally bukannya menjawab tapi langsung memeluk Deren, “Cally tentu saja setuju om. Om tampan sama ibu Vio sangat cocok dan jika punya anak nanti pasti akan sangat cantik dan tampan karena om tampan dan ibu Vio cantik.” Ucap Cally masih memeluk Deren.
“Ahh gemesnya kau!” Ucap Deren tidak tahan mencubit pipi gadis kecil itu.
__ADS_1
“Tapi om tampan jika ingin menikah ibu Vio om tampan harus bisa melawan om jahat.” Ucap Cally.
“Siapa itu om jahat?” tanya Deren pura-pura.
“I-itu,,”
“Cally lihat jemputan Cally sudah tiba. Ayo sayang mari ibu antar.” Potong Violet.
“Om tampan nanti kita bicara lagi yaa sekarang Cally harus pulang dulu.” Pamit gadis kecil itu lalu mengecup pipi Deren dan Violet lalu dia segera berlari ke arah bodyguard yang menjemputnya. Cally pun melambai kepada Deren dan Violet, mereka juga membalas lambaian tangan gadis kecil itu.
“Siapa itu om jahat?” tanya Deren menatap Violet.
Violet tidak menjawabnya, “Apa kita akan pergi sekarang?” tanya Violet mengalihkan topic.
Deren pun menahan senyumnya, “Yah kita akan pergi sekarang. Ayo kita temui mommyku.” Ucap Deren langsung memeluk Violet dari samping.
“Hmm,, saya ini sedang belajar berakting Violet agar kita tidak kaku nanti ketemu mommy. Emang kau mau kita ketahuan?” tanya Deren.
“Itu sih memang tujuan saya.” gumam Violet masih bisa di dengar Deren.
“Kita sudah menyetujui ini Violet, kau akan membantu saya. Ingat juga ini bukan hanya untuk kepentingan saya tapi kepentingan kita bersama. Jadi lakukan yang terbaik.” Ucap Deren.
“Iya-iya.” Jawab Violet.
“Kalau memang iya kita harus berakting sekarang agar tidak kaku nanti dan kau harus terbiasa dan satu lagi panggil saya dengan sebutan sayang jika di depan mommy.” Pinta Deren.
“Iya dasar bawel. Ayo kita pergi.” ucap Violet menyerahkan kunci vespanya kepada Deren.
Deren pun menerimanya dan tidak lama kemudian sudah ada bodyguard yang mendekat ke arah mereka dan Deren segera menyerahkan kunci vespa Violet kepada bodyguardnya untuk di antar ke rumah Violet.
__ADS_1
Setelah itu Violet dan Deren segera naik mobil dan Deren melajukan mobilnya menuju Mansion utama Robert. Sekitar 30 menit mereka mengendara kini mobil Deren sudah memasuki kawasan elit dan sekitar 5 menit kemudian kini dia tiba di Mansion yang sang besar dan megah. Violet yang melihat kediaman Robert pun kaget walau dia sebelumnya sudah membayangkannya tapi ini sepuluh kali lebih mewah dari bayangannya dan sudah tentu saja kediaman mantannya tidak ada apa-apanya. Violet tidak bisa menduga seberapa sultannya keluarga Robert ini, “Ayo turun!” ucap Deren menghentikan lamunan Violet lalu dia pun segera turun dan mengikuti Deren masuk ke Mansion itu.
Saat dia mendekati pintu utama sudah ada pelayan dan bodyguard yang menyambut hingga membuat Violet gugup hingga bayang-bayang lalu kembali teringat di memorinya. Penolakan dan hinaan yang dia terima kini berputar di otaknya. Deren yang menyadari itu segera menggenggam tangan Violet yang ternyata sudah sangat dingin, “Tenanglah, ada saya bersamamu dan ingat Mommy saya orang yang berbeda dengan orang kau kenal.” Ucap Deren menenangkan Violet.
Violet yang mendengar hal itu pun merasa tenang lalu menatap Deren dengan tersenyum, “Mbak dimana mommy?” tanya Deren kepada salah satu pelayan yang sepertinya kepala pelayan di Mansion itu.
“Nyonya besar sedang ada di taman belakang tuan.” Jawab pelayan itu yang bernama Ratih.
Deren pun mengangguk lalu segera mengajak Violet yang memang masih menggenggam tangan Violet itu menuju taman belakang di mana sang mommy berada.
“Siapa itu? Apa itu calon istri tuan muda?”
“Sepertinya iya. Mereka terlihat sangat cocok dan sepertinya gadis itu baik.”
“Iya kau benar. Riasannya saja sangat tipis tapi aura kecantikannya tetap terpancar.”
Begitulah bisik-bisik para pelayan itu hingga baru berhenti saat Ratih menegur mereka.
Sementara Deren dan Violet sudah hampir sampai bahkan punggung sang mommy yang membelakangi mereka sudah terlihat, “Kenapa? Apa kau gugup?” tanya Deren saat Violet berhenti.
Violet menghela nafasnya, “Sedikit!” jawab Violet.
“Tenanglah mommy baik kok.” ucap Deren lalu mereka segera mendekati Mommy Grysia berada.
“Mom!” panggil Deren.
Mommy Grysia yang sedang duduk di bangku taman itu segera berbalik melihat siapa yang datang dan seketika senyumnya terbit, “Kau sudah tiba!” ucap Mommy Grysia lalu mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang di samping sang putra.
“Apa ini?” tanya Mommy Grysia menatap sang putra.
__ADS_1