
“Vio!” panggil Deren saat dia hanya berdua bersama Violet di kamar dan istrinya itu hendak bersiap untuk tidur.
Violet menoleh kepada Deren yang memanggilnya, “Ada apa?” tanya Violet.
Deren seketika menggeleng entah kenapa dia menjadi ragu untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya. Violet pun hanya mengangguk karena tidak ingin memaksa Deren mengatakan apa yang ingin dia katakan walau tidak bisa Violet pungkiri bahwa dia penasaran akan apa yang akan di bicarakan laki-laki yang berstatus suaminya itu.
Violet segera menuju ranjang dan memakai selimutnya sebatas dadanya dan mulai memejamkan matanya tapi percayalah matanya belum ingin tidur karena sejujurnya selama seminggu ini semenjak suaminya itu mengatakan membebaskannya mengganggu pikirannya hingga tidurnya pun sudah tidak teratur bahkan dia kadang-kadang mengajar di sekolah menjadi bengong.
“Apa dia ingin mengatakan tentang perceraian?” batin Violet terasa perih jika harus mengingat bahwa dia akan menyandang status janda di usianya yang belum genap 29 tahun dengan umur pernikahan yang belum genap dua bulan.
Deren yang melihat Violet sudah memenjamkan matanya pun memutuskan untuk keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Percayalah dia di ruang kerjanya pun bukan untuk menyelesaikan tumpukan dokumen yang menuntut untuk segera di selesaikan tapi dia di sana hanya ingin menghindari sesuatu yang membuatnya sesak. Dia bukan tidak mengerti apa yang membuatnya sesak atau tidak menyadari apa keinginan hatinya hanya saja dia mencoba menerima sesuatu yang ingin sekali dia tolak.
“Apa ini keputusan yang benar?” gumam Deren bertanya pada dirinya sendiri.
Sementara Violet dikamar sudah tertidur lelap mungkin karena kelelahan di tambah dia kurang tidur beberapa hari terakhir ini. Deren kembali ke kamar dan memutuskan untuk tidur setelah jam menunjukkan pukul 23.13. Deren segera bergabung tidur di samping Violet sambil memandang wajah damai Violet itu hingga sebelum dia berbaring dia mengecup kening Violet. Sesuatu yang sudah menjadi kegiatan rutinnya tiap malam sebelum tidur dan tentu saja hal itu dia lakukan tanpa sepengetahuan Violet. Dia seperti pencuri terhadap istrinya itu hanya karena dia tidak ingin Violet membencinya jika melakukan itu terang-terangan dan tentu saja kadang-kadang bukan hanya kening saja yang dia cium tapi seluruh wajah istrinya itu termasuk bibir istrinya.
Setelah melakukan ritual malamnya itu Deren segera berbaring di samping Violet sambil meletakkan tangannya di perut gadis itu, “Aku tahu apa yang kulakukan ini terlihat seperti pencuri dan jika kau mengetahuinya mungkin kau akan bertambah marah padaku dan mungkin kau akan segera menceraikanku.” Gumam Deren lirih lalu setelah itu dia tertidur.
Tapi mungkin sekitaran jam 2 tiba-tiba Deren merasa ada yang memeluknya dengan erat. Itu bukan pelukan hanya dengan tangan saja tapi sekaligus dengan kaki. Deren membuka matanya dan menyadari bahwa Violet memeluknya erat bagai koala. Violet bahkan seperti mencari kenyamanan di dada bidangnya.
__ADS_1
Deren yang menyadari hal itu tersenyum lalu memeluk erat istrinya, dia tahu hal itu pasti tidak dilakukan oleh Violet secara sadar dan dia yakin gadis itu tidak mengingat yang dia lakukan sekarang dan jika mungkin saat menyadarinya nanti istrinya itu pasti akan sangat malu tapi Deren tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang untuknya walau itu hanya dalam mimpi.
Sementara Violet di alam bawah sadarnya hanya merasa bahwa dia sedang memeluk sang ayah, dia mencari kenyaman dalam dada bidang itu yang dia yakini adalah sang ayah. Violet memang sangat dekat dengan ayahnya dan kadang jika dia mengalami mimpi buruk atau banyak pikiran dia akan tidur bersama sang ayah dan tempat favoritnya adalah di ketiak sang ayah. Percayalah Violet tidak sadar akan apa yang terjadi saat ini karena dalam pikirannya dia hanya bermanja di pelukan ayahnya dan sudah di pastikan dia pasti akan malu jika mengetahui bahwa Deren yang di peluknya erat seperti itu.
***
Keesokkan subuhnya Violet segera membuka matanya dan dia tidak mendapati Deren di ranjang tapi ada suara gemericik air di kamar mandi yang dia yakini suaminya ada di dalam kamar mandi, “Kok tumben dia bangun lebih awal.” Gumam Violet sambil memperbaiki rambutnya yang acak-acakkan.
Seperti dugaan Violet tidak lama kemudian Deren keluar hanya memakai handuk dan rambutnya yang masih ada tetesan air. Percayalah pemandangan seperti itu selalu menghipnotis Violet.
Deren yang menyadari tatapan istrinya tersenyum menggoda dan mendekati Violet, “Kamu bisa menyentuhnya jika ingin.” Goda Deren.
“Dasar tidak mau mengaku masih saja menjunjung harga diri yang begitu tinggi, entah bagaimana jika dia tahu bahwa semalam dia memelukku dan mencari kenyamanan pada diriku bagaikan koala?” gumam Deren tertawa. Entah kenapa moodnya pagi ini lebih baik dari beberapa hari terakhir ini. Setelah itu Deren segera menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya dan segera melakukan sholat.
Sementara Violet di dalam kamar mandi memegang dadanya yang berdebar-debar dengan kencang, “Ada apa dengan jantungku? Kenapa dia berdebar dengan cepat begini? Apa jangan-jangan aku memiliki penyakit jantung, aku harus ke rumah sakit untuk memeriksanya.” Ucap Violet.
“Kenapa dia sangat tampan begitu? Apa aku telah jatuh dalam pesonanya? Aku tidak boleh mencintainya karena sebentar lagi kami akan bercerai. Vio walau kamu sudah mencintainya kamu harus menguburnya sebelum tumbuh subur. Jangan sampai kau mengalami patah hati lagi, kau dan dia itu bagaikan langit dan bumi yang tidak mungkin bersatu.” Gumam Violet lalu segera membersihkan dirinya untuk bersiap-siap sholat.
***
__ADS_1
Saat ini Violet dan Deren sedang berada di meja makan bersama untuk melakukan sarapan, “Mbak bisa panggilkan Carra?” pinta Violet.
“Baik nyonya saya akan panggilkan non Carra.” ucap pelayan itu segera menuju kamar Carra tapi belum dia sampai Carra sudah keluar dari kamarnya dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.
“Selamat pagi kakak, kakak ipar!” salam Carra lalu segera duduk di meja makan bersama kedua kakaknya itu.
“Pagi sayang.” balas Violet dan Deren bersamaan hingga membuat mereka saling bertatapan.
Carra yang melihat kekompakan suami istri itu tersenyum, “Cielah pasangan yang sehati hingga membalas salamku saja bersamaan.” Goda Carra.
“Carra untuk apa dokumen itu?” tanya Violet mengalihkan pembicaraan.
“Emm itu dokumen tentang hotel yang aku kelola kak. Hari ini aku akan kesana untuk mengeceknya.” Jawab Carra.
“Carra kamu kan sudah lulus lebih baik kamu memegang cabang perusahaan saja.” ucap Deren.
Carra langsung menggeleng, “Gak aku gak mau. Pokoknya urusan perusahaan aku serahkan pada kakak. Aku tidak ingin berurusan dengan hal itu. Sudah cukup aku pusing dengan dokumen hotel-hotel itu. Maaf yaa kak aku merepotkanmu!” ucap Carra cengesan.
Deren pun menyentuh rambut adiknya itu, “Kau ini selalu saja menolak jika itu berhubungan dengan perusahaan padahal itu milikmu.” Ujar Deren.
__ADS_1