
Deren pun menatap Violet lalu berdiri dan memeluk Violet dari belakang karena gadis itu sudah akan pergi, “Temani aku di sini sebentar saja!” bisik Deren dari belakang sambil kepalanya di letakkan di bahun Violet.
Violet pun berbalik lalu mengangkat wajah sang suami untuk melihat wajahnya, “Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Violet lembut karena dia merasa bahwa Deren punya masalah.
Deren menggeleng, “Gak kok, aku baik-baik saja.” jawab Deren kembali meletakkan kepalanya di bahu Violet lalu mengeratkan kembali pelukannya.
Violet pun diam saja menerima pelukan suaminya itu sambil menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi, “Bisakah kita duduk?” tanya Violet karena jujur saja beban Deren membuatnya pegal apalagi mereka sedang berdiri.
Deren pun melepaskan pelukannya lalu segera mengandeng tangan Violet menuju sofa di ruang kerjanya itu dan begitu mereka duduk dia kembali memeluk Violet karena entah kenapa dia merasakan kenyamanan di pelukan istri kontraknya itu, “Sebenarnya ada apa? Jika memang kau punya masalah berbagilah dengan yang lain. Tidak harus aku kau bisa membaginya dengan siapapun termasuk asistenmu agar setidaknya beban di hatimu sedikit lega. Tapi jika memang kau tidak ingin membaginya dengan yang lain, aku tidak akan memaksa.” Ucap Violet setelah hampir lima menit Deren tetap masih memeluknya.
Deren tetap diam saja, semakin mengeratkan pelukannya kepada Violet dan Violet pun membiarkannya seperti itu hingga setelah lima menit kemudian Violet merasa bahwa bahunya basah dan dia menduga kini laki-laki dalam pelukannya itu sedang menangis. Violet pun tetap membiarkan suaminya itu mencurahkan perasaannya tanpa bertanya. Violet hanya menepuk dan mengelus rambut suaminya layaknya seorang anak kecil.
Deren melepas pelukannya lalu menatap Violet, Violet tersenyum lalu dia menghapus air mata di pipi suaminya, “Kau tidak ingin bertanya kenapa aku menangis?” tanya Deren menatap Violet dalam.
Violet tersenyum lalu menggeleng, “Aku yakin kau akan menceritakannya jika dirimu sudah siap membaginya dengan yang lain.” Balas Violet.
Deren pun kembali memeluk Violet entah kenapa dia tidak malu di lihat menangis oleh Violet seperti itu padahal selama ini dia terkenal dengan sikap dingin dan kejamnya terhadap kompetitor bisnisnya yang mencoba menjatuhkannya ataupun terhadap wanita manapun tapi kali ini dia merasa nyaman di hadapan Violet, dia merasa tidak harus menyembunyikan kesedihannya di hadapan wanita itu padahal wanita itu baru sepuluh hari yang lalu menjadi istrinya dan kurang lebih sebulan yang lalu dia kenal.
__ADS_1
Tapi entah kenapa hanya rasa nyaman yang dia dapat dari Violet hingga membuatnya tidak harus selalu bersikap perfect di hadapan wanita itu seperti saat ini dia menangis di pelukan wanita itu, “Kau tahu aku tidak pernah membagi masalahku dengan siapapun. Aku selalu menyembunyikannya sendiri tapi setelah kau mengatakan bahwa tidak ada salahnya membagi masalah dengan orang lain entah kenapa aku ingin mencobanya. Jadi maukah kau mendengar masalahku?” tanya Deren melepas pelukannya dan menatap Violet dalam.
“Aku bersedia mendengarnya. Aku senang bisa menjadi orang yang bisa mendengar masalahmu. Jadi katakan, apa yang membuatmu sedih? Aku lihat kau terlihat sedih semenjak mommy keluar dari rumah sakit. Apa masalah ini berhubungan dengan mommy atau ada masalah kantor?” tanya Violet.
Deren menggeleng, “Ini bukan masalah kantor tapi ini tentang mommy--” ucap Deren menghela nafasnya.
Violet pun diam saja menunggu lanjutan ucapan suaminya, “Aku takut mommy akan pergi meninggalkan kita. Kau tahu dia adalah orang yang ku sayangi walau aku bukanlah putra kandungnya tapi dia tetaplah mommy-ku. Aku takut mommy akan pergi menyusul daddy--” ucap Deren meneteskan air matanya.
Violet yang melihat itu langsung membawa Deren ke pelukannya, “Apa yang di katakan dokter waktu itu? Berapa banyak waktu yang mommy punya?” tanya Violet.
“Kata dokter mommy paling lama akan bertahan sampai empat bulan ke depan tapi hal itu bisa terjadi jika dia tidak akan mengalami serangan jantung dadakan lagi dan jika dalam kurun waktu itu mommy mengalami serangan jantung maka di pastikan nyawa mommy tidak akan tertolong. Vio, aku takut!! Aku tidak ingin kehilangan mommy.” Ucap Deren menangis di pelukan Violet.
“Tenanglah kita akan berusaha menjaga mommy lagian itu hanyalah prediksi dokter tapi semuanya tuhanlah yang menentukan. Kita akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan mommy.” Ucap Violet.
“Jangan sedih kita akan melewati ini bersama.” Sambung Violet.
Deren mengangguk lalu melepas pelukannya lagi, “Terima kasih sudah mau mendengar ceritaku dan maaf sudah membuat pakaianmu basah karenaku.” Ucap Deren.
__ADS_1
Violet tersenyum, “Gak apa-apa kok, aku bisa menggantinya nanti. Aku senang bisa mendengar ini darimu dengan begini aku bisa lebih menjaga mommy lagi. Ohiya apa kau butuh sesuatu? Aku akan mengambilnya untukmu.” Ucap Violet.
Deren menggeleng, “Gak ada. Lebih baik kau segeralah ganti pakaianmu, aku tidak ingin kau sakit.” Balas Deren.
Violet segera mengangguk, “Apa kau yakin tidak ada yang kau butuhkan?” tanya Violet memastikan sekali lagi.
“Sebenarnya ada tapi aku gak yakin kau mau memberikannya.” Jawab Deren.
“Katakan, jika aku bisa mengambilkannya aku pasti akan memberikannya untukmu.” Ucap Violet.
Deren menggeleng, “Gak ahh aku yakin kau tidak akan memberikannya.” Ucap Deren sedikit tersenyum.
“Kenapa? Katakan saja.” ucap Violet.
“Kau yakin ingin mendengarnya? Asal kau tahu saja jika aku mengatakannya nanti maka kau harus memberikannya mau ataupun tidak.” Ucap Deren menatap mata Violet dalam sambil kedua tangannya itu di letakkan di bahu Violet.
Violet pun mulai ragu dan menerka-nerka apa sebenarnya maksud dari ucapan suaminya itu, “Kau ingin mendengarnya? A-aku ingin mendapatkan ciuman dari istriku. Bisakah istriku ini mengabulkannya?” tanya Deren tersenyum menggoda.
__ADS_1
Violet yang mendengar hal itu pun segera berdiri dan menjauh dari Deren, “Jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yaa. Walaupun tadi aku peduli denganmu tapi bukan berarti kau bisa memanfaatkanku begitu saja.” balas Violet kesal karena kebaikannya di salah artikan oleh laki-laki itu.
Deren pun tersenyum lalu berdiri dan mendekat kepada istrinya, “Berhenti! Jangan maju lagi.” Ucap Violet lalu segera berbalik menuju pintu keluar ruangan itu.