
Beberapa hari berlalu tidak terasa kini sudah weekend dan tepat malam ini akan di adakan perayaan pesta ulang tahun Carra dan seperti janji Violet yang akan datang ke pesta ulang tahunnya. Violet pun sudah menyiapkan hadiah dan memeriksa beberapa gaunnya di lemari.
“Emm,, sepertinya ini bagus ehh tapi dresscode-nya warna apa yaa. Violet kenapa kau begitu bodoh tidak bertanya kepada Carra apa warna dresscode-nya kan aneh jika aku salah dresscode. Aku akan telpon Carra saja ahh aku lupa ada kekasihnya di sini. Kenapa sih Violet kau jadi oon begini. Kalau begitu kita tanya Edgar saja.” Ucap Violet meletakkan salah gaun yang dia miliki ke ranjangnya lalu segera menuju pintu tapi belum sempat dia membuka pintu sudah ada yang mengetuk dari luar.
Tok tok tok
Violet pun segera membuka pintunya dan di sana terlihatlah wajah sang adik, “Kau di sini? Kebetulan aku juga mau bertanya padamu. Apa warna dresscode ulang tahun Carra hari ini?” tanya Violet kepada adik laki-lakinya itu.
“Hitam.” Jawab Edgar singkat.
“Hitam? Emm,, kakak gak punya gaun hitam.” Ucap Violet berpikir. Edgar pun tersenyum melihat kakaknya itu lalu tiba-tiba.
“Tarra!” ucap Edgar menyerahkan sebuah dress polos hitam kepada sang kakak.
Violet yang melihat itu segera bertanya, “Ini untuk kakak?” tanya Violet.
Edgar pun mengangguk, “Tentu saja. Apa kakak pikir aku yang akan memakainya. Aku ini masih normal loh kak. Ayo sana pakai!” ucap Edgar sambil menyerahkan dress itu kepada sang kakak.
“Apa kamu yang membeli ini?” tanya Violet.
“Aduh kakak jangan cerewet deh, pakai saja. Apa penting mengetahui siapa yang membelinya.” Ucap Edgar.
Violet pun mengangguk, “Ahh God, itu Carra yang membelikannya untukmu saat dia membeli gaun untuknya karena dia ingin kau ikut di ulang tahunnya kali ini. Jadi kak segera pakai itu dan segera kau bersiap-siap karena jangan sampai kau telat. Kau terima itu dan pakai agar Carra tidak sedih.” Ucap Edgar.
“Ahh kalian ini, kakak yakin di sini pasti ada uangmu juga kan? Terima kasih yaa sudah membelikan ini untuk kakak. Baiklah kakak akan siap-siap dulu, kau juga bersiaplah Carra pasti sudah menunggumu.” Ucap Violet yang mengerti bahwa jika Carra membelikan sesuatu untuknya maka pasti ada sedikit uang Edgar di dalamnya.
__ADS_1
Edgar pun hanya mengangguk lalu dia segera berlalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap karena sang kekasih sudah menerornya dari tadi.
Violet juga segera masuk kembali ke kamarnya dan segera memakai pakaian yang di berikan Edgar, “Ini sangat indah, aku yakin ini pasti mahal.” Ucap Violet memandangi dress hitam polos itu yang sangat sesuai dengan seleranya.
Violet segera memakainya dan begitu dia memakainya dress itu sangat pass di tubuhnya seolah-olah dia sendiri yang memilihnya, “Cantik! Tapi apakah tidak terlalu terbuka.” Gumam Violet memandangi dirinya di cermin yang ada di kamarnya.
“Ahh sudahlah lagian gak begitu terbuka kok, aku harus cepat.” Lanjut Violet lalu segera memakai riasannya dan seperti biasa riasan Violet sangatlah natural. Setelah itu dia segera mengambil tas kecilnya di lemarinya dan memakai higheels yang tidak begitu tinggi.
“Emm,, sangat pass tapi aku merasa ini terlalu terbuka.” Ucap Violet memandangi dirinya di cermin memastikan penampilannya.
“Kak, ayo nanti kita telat.” Teriak Edgar dari luar kamar Violet.
“Iya sebentar.” Balas Violet lalu mengambil ponselnya dan menyimpannya di tas kecilnya. Lalu dia segera keluar dan begitu pintu kamarnya di buka Edgar yang ada di balik pintu itu pun seketika terpana melihat penampilan sang kakak.
Edgar menggeleng, “Kau sangat cantik kak. Penampilanmu hari ini sangat perfect dan dress ini sangat cocok untukmu. Jika aku bukan adikmu aku pasti akan terpesona dan langsung menikahimu.” Ucap Edgar.
“Kau terlalu berlebihan.” Ucap Violet.
“Sudah jangan bertengkar. Lebih baik sana kalian berangkat jika tidak ingin terlambat.” Lerai ibu Anggi.
“Ibu apa penampilanku sudah bagus?” tanya Violet.
“Kau sangat cantik nak dengan pakaian itu.” Jawab ibu Anggi.
__ADS_1
“Apa tidak terlalu terbuka?” tanya Violet lagi.
“Ouh astaga kakak pertanyaanmu banyak sekali. Aku sudah mengatakan kau sangat perfect dan pakaian itu sangat pas untukmu tidak ada yang kurang. Iya kan bu?” Edgar meminta persetujuan sang ibu dan ibu Anggi pun segera mengangguk membenarkan perkataan putranya.
“Baiklah kakak percaya. Ya sudah ayo kita pergi.” ucap Violet segera menggandeng tangan sang adik.
Edgar pun mengangguk lalu mereka berdua segera berpamitan kepada sang ibu dan pergi menggunakan mobil tua peninggalan sang ayah yang memang di gunakan oleh Edgar sehari-hari.
***
Kurang lebih 30 menit mereka akhirnya tiba di sebuah hotel bintang lima di mana di sana menjadi tempat perayaan ulang tahun Carra putry konglomerat keluarga Robert.
Sudah banyak mobil di sana, Edgar pun segera mencari tempat parkir lalu memarkirkan mobilnya. Setelah itu dia dan sang kakak segera keluar lalu mereka menuju pintu masuk hotel itu menuju lantai 8 dimana pesta perayaan Carra di laksanakan.
Violet pun hanya mengikuti sang adik dan tidak lupa dengan tangannya yang menggandeng Edgar karena sejujurnya dia sedikit gugup untuk datang ke pesta seperti ini. Begitu mereka masuk segera menunjukkan kartu undangannya lalu menuju ball room hotel itu yang di sulap dengan begitu indah.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka seolah-olah bertanya mereka siapa. Tapi Edgar dan Violet mengabaikan mereka dan langsung menemui sang pemilik pesta yang menyambut tamu-tamunya dengan gaun cantik ulang tahunnya.
“Sayang, kau sudah tiba?” ucap Carra menyambut sang kekasih. Violet pun melepaskan gandengan tangannya dari Edgar agar Carra bisa memeluk kekasihnya itu.
Setelah pelukan Carra di lepas dia segera beralih menatap Violet dan seperti Edgar yang terpana akan penampilan sang kakak hal yang sama terjadi juga pada Carra, “Kak, kau sangat cantik!” puji Carra lalu memeluk Violet.
“Hey, kau juga tidak kalah cantik dan terima kasih atas pakaiannya.” Ucap Violet berbisik.
__ADS_1
Carra pun mengangguk, “Kak, ayo aku kenalkan kau pada seseorang.” Ucap Carra mengajak Violet bahkan Edgar pun merasa di abaikan oleh kekasihnya itu.
Violet pun hanya mengikuti Carra dan tiba-tiba Carra berhenti di depan seorang pria yang membelakangi mereka karena sedang bicara dengan relasi bisnisnya. Carra pun menunggu sampai relasi bisnis pria itu pergi lalu segera mencolek tangan pria itu. Pria itu yang memang tidak sadar akan kehadiran sang adik langsung menengok untuk melihat siapa yang mencoleknya. Begitu dia berbalik tiba-tiba dia terdiam melihat siapa yang di hadapannya yang datang bersama sang adik.