Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
47


__ADS_3

Kepergian Violet dan Deren membuat wajah sendu di wajah Morgan karena sesungguhnya cinta untuk Violet itu masih ada di matanya dan percayalah kesedihan itu sangat tergambar di wajahnya. Hal itu di sadari oleh Siska hingga tangannya pun terkepal kesal di sana menyimpan kekesalan karena ternyata waktu tiga tahun lebih yang dia gunakan tidak mampu mengambil alih hati pria yang sudah di cintainya dari masa kecil itu.


Siska ingin rasanya dia memaki dan membunuh Violet yang datang dalam pernikahannya tapi sayang hal itu tidak dapat dia lakukan karena orang yang di belakang Violet bukanlah orang yang mudah bisa mereka singkirkan begitu saja. Kenyataan bahwa kekayaan serta kekuasaan yang di miliki keluarganya tidak sebanding dengan suami Violet membuatnya makin meradang karena merasa kenapa nasib baik selalu berpihak kepada wanita itu.


Selain Siska nyonya Carlos juga merasakan hal yang sama sesungguhnya dia kesombongannya selama ini seketika hilang tadi saat wanita yang dulunya sangat dia tentang bersama putranya karena berasal dari keluarga miskin kini wanita itu datang sebagai pasangan dari orang paling berpengaruh. Pebisnis muda yang menjadi incaran para perusahaan baik kecil maupun besar, kenyataan itulah yang membuatnya semakin membenci Violet yang selalu bernasib baik.


Sementara di sisi lain, Deren dan Violet yang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang tertawa bersama entahlah kebahagiaan apa yang mereka rasakan. Satu hal yang pasti yang membuat Violet bahagia karena seolah-olah dia telah keluar dari belenggu yang mengikatnya, “Aku lega!” ujar Violet di tengah tawanya.


Deren yang menyetir mobil pun tersenyum, “Syukurlah jika kau lega.” Timpal Deren.


“Terimah kasih sekali lagi sudah memberiku keberanian menghadapi mereka.” Ujar Violet tulus.


“Gak usah berterima kasih karena sebenarnya aku lapar.” Ucap Deren.


“Lapar? Bukankah tadi sebelum kita pergi ke pesta itu sudah makan malam?” tanya Violet bingung.


“Tentu saja aku lapar karena bertemu dengan orang bermuka dua seperti mereka akan membuat lapar mana kita lagi gak makan di sana.” Ucap Deren.


“Yah kau benar kita memang tidak makan disana tapi apakah kau juga sudi makan di pesta itu?” tanya Violet tersenyum.


“Cih, tentu saja aku gak sudi jika bukan karena dia rekan kerjaku tentu saja aku gak akan datang dan berhubung dia adalah mantan kekasih calon istriku jadi tentu saja aku harus menemani istriku datang kesana kan? Membantunya mempermalukan mereka?” ucap Deren menatap Violet.


“Ternyata kau sangat licik juga yah tuan penguasa tapi terima kasih sudah menemaniku kesana, ternyata menjadi istri penguasa sepertimu juga bermanfaat untukku setidaknya ini yang bisa aku dapat selama menjadi istrimu sebelum kita bercerai.” Timpal Violet lirih saat mengucap kata bercerai.


Deren yang menyadari bahwa dia telah salah berkata pun mencoba mengalihkan percakapan, “Sudahlah jangan bahas mereka aku sudah lapar kita makan dulu. Emang kamu gak lapar?” tanya Deren.

__ADS_1


Violet kembali tersenyum walau di sudut hatinya entahlah terasa perih, “Ya sudah kita cari makan aku juga lapar.” Ujar Violet.


“Kau ingin makan dimana?” tanya Deren yang memang sudah tahu bahwa cabang ‘RResto’ tidak jauh dari sini tapi dia tetap ingin bertanya dimana Violet ingin makan.


“Bisakah kita makan di tempat aku biasa makan saat kuliah?” pinta Violet.


“Dimana itu? Ayo kita kesana?” ucap Deren tanpa penolakan.


“Kamu mau makan di sana? Percayalah itu hanya café kecil tidak seperti restoran kalian. Apa kau yakin ingin kesana? Jika kau tidak nyaman kita ke tempat yang kau suka saja, lupakan permintaanku.” Ujar Violet.


“Kita ke tempatmu saja. Ayo katakan di mana alamatnya?” tanya Deren. Violet pun tersenyum lalu segera memberitahukan tempatnya.


Sekitar 20 menit mereka tiba di Café bernama “Café Kerinduan”. Menu dalam café ini bukan hanya menjual minuman saja karena ternyata café ini sudah seperti restoran yang menyediakan beberapa menu makanan walau tidak semewah restoran bintang lima tapi café ini di desain dengan apik hingga seperti namanya datang kesini bisa menghilangkan kerinduan. Café favorit Violet selama kuliah bahkan sampai saat ini ketika dia punya masalah selalu datang kesini untuk mencicipi minuman kesukaannya yaitu segelas coklat panas penyelesai masalah.


“Ayo masuk!” ajak Violet begitu mereka turun dari mobil setelah Deren memarkirkannya. Deren pun hanya mengikuti Violet sambil melihat café itu yang menurutnya lumayan untuk sebuah café kelas menengah ke bawah.


“Kau sepertinya sangat kenal café ini.” ucap Deren begitu dia sudah dekat dengan Violet.


Violet mengangguk, “Tentu saja aku sangat mengenal tempat ini karena ini adalah tempat favoritku, aku termasuk pelanggan tetap di sini dari tempat ini baru di buka hingga kini.” Jawab Violet bangga.


“Hi girl kau datang malam-malam begini?” sapa Albert ramah datang dengan tiba-tiba. Dia segera mendekati Violet begitu menyadari bahwa gadis itu datang.


“Tentu saja aku datang. Apa aku tidak di terima datang kesini?” tanya Violet tersenyum menatap Albert.


“Perkataan apa itu girl, kau itu pelanggan café ini walau biasanya kau selalu datang pagi saat kuliah dan berubah menjadi siang setelah bekerja tapi kau selalu diterima 24 jam datang kesini. Ayo masuk!” ajak Albert ramah.

__ADS_1


“Terima kasih Albert! Ohiya perkenalkan ini--” ucap Violet menatap Deren yang dari tadi hanya mendengar pembicaraan mereka.


“Aku tahu ini tuan Deren suamimu kan?” potong Albert dan Violet hanya mengangguk malu.


“Deren!” ucap Deren sambil mengulurkan tangannya.


“Albert temannya nona Vio!” balas Albert membalas uluran tangan dari yang dia orang nomor satu di sini.


Setelah itu Albert segera membawa mereka ke meja yang menjadi tempat favorit Violet di sini, “Terima kasih Albert!” ucap Violet.


“Girl kau ingin memesan apa?” tanya Albert.


Violet tidak menjawab tapi menatap Deren, “Terserah kau saja!” ucap Deren.


Violet pun mengangguk lalu memesan beberapa menu di sana dan Albert pun mencatatnya, “Minumannya girl?” tanya Albert.


“Seperti biasa Albert segelas coklat panas. Ohiya sama satu gelas cappucino.” Jawab Violet tersenyum.


Albert mengangguk, “Silahkan di tunggu ya girl, tuan! Saya permisi.” Ucap Albert lalu meninggalkan mereka.


“Kau sepertinya sangat akrab dengannya.” Ucap Deren setelah Albert sedikit menjauh.


“Yah dia bukan hanya pelayan café ini tapi dia adalah teman bagi semua pelanggan tetap café ini. Sedangkan bagiku dialah seperti seorang ayah, kakak, dan teman untukku. Aku menyayanginya!” jawab Violet.


“Apa dia itu--”

__ADS_1


“Kau berpikir apa dia tidak normal. Dia memiliki istri dan seorang putri yang berumur 5 tahun.” Potong Violet cepat.


Deren pun tersenyum karena sudah berpikir yang tidak-tidak, “Syukurlah!” ucap Deren refleks


__ADS_2