Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
74


__ADS_3

Setelah selesai makan siang itu dan selesai membereskannya Violet dan Deren segera mengatakan pada ibunya untuk meminta waktu sebentar karena ada yang ingin mereka bicarakan. Ibu Anggi pun hanya mengangguk saja walau dia bertanya-tanya apa yang ingin di bicarakan oleh putri dan menantunya itu tapi tetap saja dia menyetujuinya.


Edgar dan Carra pun sama mereka juga di ajak karena memang masalah yang akan mereka katakan menyangkut semuanya. Edgar yang memang sudah mengetahui pembicaraan ini dari Deren tadi hanya bisa harap-harap cemas sementara Carra hanya penasaran saja.


Dan di sinilah mereka berada di ruang tamu di mana ada lima orang duduk di sana. Violet dan Deren duduk berdekatan sambil tangan Deren yang menggengam tangan Violet. Carra dan Edgar juga duduk bersama dengan Carra yang sibuk dengan snack di tangannya. Sementara ibu Anggi duduk sendiri di tengah-tengah kedua pasangan itu, “Apa yang ingin kalian bicarakan nak hingga harus membuat kami berkumpul begini?” tanya ibu Anggi memulai pembicaraan.


Deren menghela nafasnya lalu menatap Violet yang di balas dengan anggukan, “Begini bu, Edgar, Carra, kami di sini ingin melakukan pengakuan yang mungkin akan membuat kalian kaget atau mungkin marah tapi aku berharap kalian memaafkan kami terlebih memaafkan aku karena semua ini berawal dariku. Jadi jika di sela-sela aku bercerita kalian ingin marah maka marahlah padaku jangan pada Vio karena dia hanya mengikuti apa yang ku mau dan paksakan.” Ucap Deren. Violet yang mendengar ucapan suaminya itu menggenggam erat tangan Deren.


Ibu Anggi yang mendengar ucapan Deren sedikit menunjukkan kekhawatiran, “Sebenarnya ada apa nak?” tanya ibu Anggi. Sementara Carra yang mendengar ucapan kakaknya yang sepertinya pembicaraan ini sangat serius segera menghentikan mengemil dan mulai bersikap serius.


“Ibu dan Edgar pasti ingin mendengarkan alasan sebenarnya hubungan yang terjadi antara kami kan? Walau dulu kami mengatakan bahwa hubungan kami karena kami saling mencintai tapi sebenarnya bukan itu alasan yang sebenarnya dari hubungan kami. Tapi percayalah pernikahan yang pernah terjadi antara kami itu suci dan itu adalah bagian yang saya inginkan walau itu mungkin berbeda bagi Vio.” Ucap Deren.

__ADS_1


Deren terus bercerita semuanya tidak ada yang di tutupi lagi karena dia memang tidak ingin memulai hubungan dengan kebohongan. Sementara Violet hanya menggenggam tangan Deren seolah menguatkan suaminya itu. Deren menceritakan semuanya mungkin menghabiskan waktu sekitar 20 menit, “Itulah alasan sebenarnya dari hubungan kami bu, Edgar, Carra.” ucap Deren menyelesaikan ceritanya.


Ibu Anggi yang mendengar penuturan menantunya tentu saja kaget tapi dia sedikit memaklumi apa yang sebenarnya terjadi hanya saja dia tidak menyangka bahwa putrinya berkorban begitu besar untuk putranya. Dia hanya merasa gagal menjadi seorang ibu karena ternyata dia tidak memahami permasalahan yang di alami putrinya.


Sementara Edgar tentu saja lebih kaget lagi karena ternyata alasan terbesar dari pernikahan kakaknya adalah dirinya demi kebahagiaannya. Dia tidak menduga inilah alasan sebenarnya alasan yang membuatnya ragu selama ini. sementara Carra jangan tanya dirinya karena dia sedang menangis dalam pelukan Edgar, seperti Edgar yang tidak menduga dan kaget akan hal ini Carra juga sama. Dia tidak menyangka bahwa kedua kakak mereka berkorban untuk hubungan mereka.


Carra menatap Violet lalu segera mendekati kakak iparnya itu, “Kak! Jadi apakah ini alasan sebenarnya kenapa setiap aku membicarakan pesta pernikahan kalian dan calon keponakanku kau selalu sendu? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku kak? Kenapa kalian menyembunyikan hal besar ini dari kami kak?” tanya Carra menangis dalam pelukan Violet.


Carra melerai pelukannya lalu menghapus air mata di pipi Violet, “Jangan menangis kak! Entah berapa banyak air mata yang diam-diam kau keluarkan. Jadi jangan menangis lagi dan jangan minta maaf padaku karena seharusnya aku yang minta maaf padamu. Hanya demi kebagiaan kami kalian berkorban untuk kami. Aku yang saat pernikahan kalian sangat bahagia karena ternyata kau yang menjadi istri kakakku tidak pernah terpikirkan akan hal ini. Maafkan aku kak! Maafkan keegoisanku kak.” Ucap Carra kembali terisak sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


Violet segera memeluk adik iparnya itu, “Jangan minta maaf Carra. Kau dan Edgar adalah adik bagi kakak. Jadi tidak salah seorang kakak berkorban untuk kebahagiaan adiknya. Selain itu kakak tidak menyesal melakukan ini karena dengan ini kakak bisa menemukan seorang suami yang sangat mencintai kakak dan juga kakak cintai. Kakak sangat bersyukur akan perjanjian pernikahan yang terjadi antara kami karena kakak tidak akan menemukan laki-laki baik dan sekaya kakakmu di luaran sana sayang.” ucap Violet bercanda di akhir kalimatnya.

__ADS_1


Carra yang tengah terisak pun seketika tertawa mendengar akhir kalimat Violet, “Kau benar kak. Kak Deren sangat kaya jadi kau harus bisa menghabiskan uangnya itu. Jika kau tidak sanggup menghabiskannya maka aku akan membantumu menghabiskannya.” Balasnya sambil menghapus air matanya.


Violet tersenyum lalu ikut membantu merapikan rambut adik iparnya itu, “Sudah jangan menangis lagi karena kakak tidak melakukan ini untukmu. Kakak melakukan ini untuk diri kakak sendiri. Kapan lagi kan bisa memiliki suami kaya.” Ujar Violet tentu saja bercanda. Carra pun tertawa mendengar hal itu karena dia tahu Violet hanya bercanda dengan kalimatnya.


Deren pun hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya karena dia tahu istrinya itu hanya bercanda buktinya kartu yang dia berikan tidak pernah di pakai sekalipun dan jika pun memang benar hal itu akan Violet lakukan dia sama sekali tidak keberatan.


Ibu Anggi yang tadi diam saja dan hanya ikut meneteskan air matanya melihat Carra dan Violet pun bersuara, “Lalu sekarang apa yang ingin kalian lakukan? Apa kalian akan berpisah?” tanya ibu Anggi walau dia sudah tahu apa jawaban yang akan di berikan menantu dan putrinya itu.


“Aku tidak akan menceraikannya bu. Tidak akan pernah! Tidak akan ada perceraian di antara kami karena memang tidak pernah terniat sama sekali di hatiku untuk menceraikannya. Violet mau atapaun tidak tetap harus setuju hidup denganku selamanya. Aku tidak akan pernah melepaskannya bu.” Ucap Deren tegas sambil menggenggam tangan Violet erat.


Ibu Anggi pun tersenyum mendengar hal itu, “Bagaimana denganmu Vio? Apa kau akan tetap melanjutkan pernikahan ini atau berpisah?” tanya ibu Anggi pada putrinya.

__ADS_1


Violet menatap ibunya dengan tersenyum, “Aku akan menerima untuk hidup bersamanya bu. Aku tidak akan berpisah dengannya karena sepertinya aku adalah orang yang cocok dengannya. Aku mencintainya bu walau pernikahan kami berawal dari sebuah perjanjian. Cinta itu tumbuh karena aku yang hidup bersama dengannya selama beberapa bulan ini. Yah, cinta karena terbiasa bu. Aku tidak akan berpisah ataupun bercerai dengannya, aku ingin hidup dengannya menghabiskan sisa hidup kami bersama. Aku mencintai semua yang ada dalam dirinya baik itu kelebihan maupun kekurangannya.” Tutur Violet memandangi Deren yang sepertinya terharu dengan perkataannya.


__ADS_2