Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
35


__ADS_3

Violet yang mendengar teriakan Morgan itu pun dengan sisa kesadarannya, “Deren!” panggil Violet.


Deren yang mendengar panggilan dari Violet pun segera meninggalkan Morgan yang masih di tanah dan segera menghampiri Violet yang di pegangi oleh bodyguardnya, “Iya sayang, apa yang kamu rasakan?” tanya Deren khawatir memandang wajah istrinya.


“Aku ingin pulang.” Ujar Violet.


“Baiklah kita pulang, aku serahkan dia pada kalian. Jangan biarkan dia pergi begitu saja.” ucap Deren lalu segera mengambil alih Violet ke dalam pelukannya.


“Deren biarkan dia pergi.” pinta Violet.


Deren yang mendengar hal itu pun kaget, “Kenapa sayang? Dia sudah menjebakmu dan aku tidak akan membiarkan orang yang berusaha menjebakmu bebas begitu saja.” jawab Deren.


“Please, biarkan dia pergi.” pinta Violet lalu tiba-tiba matanya tertutup. Deren pun segera menggendong istrinya itu dan memberi kode kepada anak buahnya dengan lirikan mata seolah mengatakan, “Jangan biarkan dia bebas begitu saja tapi lakukan itu setelah kami pergi.”


Para bodyguardnya itu pun hanya mengangguk mengerti akan isyarat dari Deren. Setelah memberi isyarat kepada anak buahnya Deren segera memasukkan Violet ke dalam mobil dan segera membawanya menuju mansion tapi di jalan dia sudah menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk datang ke mansion.


Sementara para anak buah Deren begitu mobil Deren menghilang mereka segera menuntaskan perintah dari tuan mereka dan nanti setelah Morgan sudah tidak berdaya segera di kirim menuju rumah sakit dengan tubuh yang penuh dengan luka.


***


Sementara Deren sudah tiba di mansion lalu dia segera menggendong Violet ke kamar lalu lima menit setelah itu dokter pribadi keluarganya itu tiba dan segera melaksanakan tugasnya memeriksa wanita yang dia ketahui sebagai nyonya Deren itu karena dokter itu memang hadir saat akad mereka di rumah sakit.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Deren begitu melihat dokter itu selesai memeriksa istrinya.

__ADS_1


“Tenang saja dia baik-baik saja. Untunglah obat yang di berikan padanya hanyalah obat tidur dan sepertinya dia belum meminumnya terlalu banyak. Biarkan saja dia istirahat dan jika nanti saat dia bangun segera berikan obat ini jika dia merasakan pusing.” Jawab Eile, salah satu dokter pribadi keluarga Deren.


Deren mengangguk, “Terima kasih. Kau sudah boleh pergi, bayaranmu akan Max transfer.” Ucap Deren lalu segera duduk di tepi ranjang lalu segera menggenggam tangan Violet erat.


Eile pun hanya bisa menghela nafasnya, dia memang sudah terbiasa akan sifat dingin Deren karena mereka memang teman SMA. Tapi satu hal yang membuatnya tersenyum hari ini seorang Deren yang dia kenal sangat dingin bisa dekat dengan wanita lain selain mommy-nya dan adiknya bahkan sangat mengkhawatirkan keadaan wanita itu.


Eile senang jika melihat temannya itu bisa ceria kembali karena terakhir kali dia melihat senyum di wajah Deren itu saat daddy-nya belum pergi walaupun senyum Deren tidak terlihat tulus saat itu karena Eile sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang di sembunyikan oleh laki-laki itu. Eile walau pun bisa di katakan teman Deren tapi Deren tetaplah tertutup kepada orang luar dan mungkin kepada keluarganya juga seolah-olah dia memendam kepahitannya sendiri.


“Hmm,, aku pamit!” ucap Eile lalu segera keluar dari kamar itu meninggalkan pasangan suami istri itu bahkan Deren tidak menyahut izin pamitnya.


***


Keesokkan paginya, Violet terbangun lalu dia segera memijat kepalanya karena ternyata masih terasa pusing. Dia segera melihat jam di kamar itu yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan lewat yang menandakan bahwa dia bangun terlambat.


“Kau sudah bangun? Syukurlah. Ayo sarapan dulu!” ucap Deren yang memang membawakan sarapan untuk istrinya itu.


Violet menatap sekilas suaminya dan tetap menuju kamar mandi karena dia yakin keadaannya saat ini sangatlah jelek dengan rambut yang mungkin berdiri dan acak-acakkan sementara pria itu sudah sangatlah tampan hingga membuatnya insecure.


“Ada apa dengannya?” tanya Deren pada dirinya sendiri karena bingung dengan Violet yang tidak menjawabnya.


Deren pun segera meletakkan sarapan di meja sofa dalam kamar itu lalu dia segera duduk di kursi sofa sambil mengecek tablet untuk memantau pekerjaan kantornya karena hari ini dia memutuskan untuk bekerja dari rumah saja.


Sekitar 30 menit akhirnya Violet selesai membersihkan dirinya dan segera keluar dari kamar mandi dengan handuk saja karena dia mengira Deren pasti sudah pergi dan entah kenapa juga dia tidak melihat Deren yang sedang duduk di sofa dalam kamar itu dan dia hanya melenggak segera menuju walk in closet dengan santai hingga membuat Deren yang melihat tubuh seksi istrinya yang hanya di balut dengan handuk pun hanya bisa menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


“Apa dia mencoba menggodaku?” gumam Deren lalu kembali memfokuskan dirinya ke tablet di tangannya tapi sayang tubuh seksi Violet seolah memenuhi otaknya saat ini.


“Sial, kenapa dia sangat seksi begitu.” Umpat Deren.


Sementara Violet yang sudah selesai mengganti pakaiannya pun segera keluar dari walk in closet dan saat itulah dia baru menyadari bahwa suaminya ada di kamar itu, “Sejak kapan kau ada di situ?” tanya Violet was-was.


“Aku sejak tadi ada di sini. Bukankah tadi sebelum kau masuk ke kamar mandi aku sudah bicara dengan dirimu.” Balas Deren.


“Jadi kau melihat tadi aku--” ucap Violet malu melanjutkan perkataannya.


“Yah aku melihat semuanya.” Jawab Deren enteng.


Violet pun segera menutup wajahnya yang sudah memerah malu, “Kenapa kau tidak bicara tadi?” tanya Violet lirih.


“Hey kau sendiri yang tidak melihatku dan tenang saja karena aku sudah pernah melihat tubuh polosmu itu. Jadi jangan bertingkah seolah-olah aku telah menodaimu dan jika itu pun terjadi kita tidak berdosa justru berpahala.” Ujar Deren.


“Dasar mesum! Emm,, tapi kapan kau melihatnya?” tanya Violet polos.


Deren pun menatap istrinya itu dalam, “Menurutmu kapan?” tanya Deren balik.


Violet pun berpikir dan baru menyadari sesuatu, “Jangan bilang kau yang mengganti pakaianku semalam.” Tebak Violet dan laki-laki itu hanya mengangguk.


Violet pun geram, “Kau sudah menodaiku, ingat walau kita sudah menikah secara sah di mata agama dan Negara tapi ini hanyalah pernikahan kontrak. Jadi kau tidak berhak memilikiku atau pun melihat tubuhku. Dasar mesum!” ucap Violet lalu melempar handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya itu kepada Deren tapi untunglah Deren dengan sigap langsung menangkap handuk itu hingga tidak mendarat di wajah tampannya.

__ADS_1


“Kenapa kau selalu mengatakan itu? Tidakkah ada topic lain yang lebih menarik untuk di bahas dan ingatlah kau punya hutang penjelasan padaku. Kenapa kau bisa pergi bersama mantan kekasihmu itu.” balas Deren lalu meletakkan handuk di sampingnya.


__ADS_2