
Singkat cerita, kini tidak terasa usia kandungan Violet sudah memasuki minggu ke empat puluh satu tinggal menghitung hari saja menuju persalinan yang sudah di tentukan. Begitu juga Carra yang kehamilannya sudah memasuki minggu ke tiga delapan. Kedua wanita hamil itu memang tinggal menghitung hari saja untuk bisa segera bertemu dengan anak mereka.
Deren dan Edgar pun sudah siap siaga untuk istri mereka itu terlebih Deren yang lebih khawatir karena istrinya hamil triplets. Apalagi Violet yang masih bersikeras untuk melahirkan normal dari pada SC. Deren sangat mengkhawatirkan Violet itu dan pembahasan ini yang membuat mood Violet hancur ketika sang suami ingin dia melahirkan SC tidak sesuai dengan keinginannya
“Sayang, kau tahu kenapa mas ingin kau melakukan operasi saja. Mas sangat menyayangimu dan anak-anak kita.” Ucap Deren memberi pengertian.
“Ish mas. Aku ingin merasakan bagaimana sakitnya melahirkan normal itu. Lagian juga kata dokter Riana aku bisa kok melahirkan normal karena kandunganku baik-baik saja. Selain itu juga operasi itu lebih sakit mas dari pada melahirkan normal. Melahirkan normal memang sakit saat tapi hanya saat melahirkan itu sementara operasi dia akan terus sakit sampai luka operasi sembuh. Mas aku mohon tolong dukung keputusanku. Aku akan baik-baik saja.” ucap Violet bersikeras.
Deren pun hanya bisa menghela nafas lalu mengangguk, “Baiklah. Mas setuju tapi dengan syarat kita aka mengecek ulang kepada dokter Riana melahirkan normal atau SC mana yang lebih aman. Mas melakukan ini karen menyayangimu sayang. Mas akan memastikan luka operasimu cepat sembuh agar kau tidak akan merasakan sakit terlalu lama tapi karena kau ingin melahirkan normal baiklah mas setuju.” Ucap Deren pasrah. Akhirnya setelah beberapa hari ini hal itu menjadi pembahasan yang menguras emosi dan mood mereka pada akhirnya Deren yang mengalah karena sang istri lah yang akan berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Dia hanya bisa melakukan yang terbaik saja dan kenyamanan istrinya terjaga.
Violet pun tersenyum, “Terima kasih mas. Terima kasih daddy sudah menyetujui keinginan mommy.” Ucap Violet sambil mengusap perut buncitnya itu.
Deren pun hanya bisa tersenyum lalu ikut mengusap perut sang istri yang sudah seperti balon itu. Mungkin saja tersentuh sedikit akan meletus tapi sepertinya Allah maha kuasa atas semuanya. Dia menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya. Kadang-kadang dia khawatir jika istrinya itu berjalan cepat tapi lagi-lagi dia hanya bisa mengagumi ciptaan Allah itu yang maha sempurna untuk segalanya.
***
Tiga hari kemudian, saat bangun subuh Violet mulai merasakan sakit dan kontraksi tapi karena kontraksinya lambat dan tidak teratur Violet pun bersikap biasa saja. Dia memang sudah mempelajari hal ini dengan baik.
__ADS_1
Namun tepat setelah melakukan sholat zuhur sambil duduk itu Nayya mulai merasakan kontraksi yang cepat dan berdekatan dan dia merasakan ada cairan yang keluar dari tubuh bagian bahwa, “Mas!” panggil Violet lemah kepada sang suami yang ada di kamar mandi sedang buang air. Yah, Deren sudah mengajukan cuti untuk menjaga istrinya itu.
Deren pun segera keluar berhubung juga dia sudah selesai buang air dan dia kaget melihat sang istri itu yang sedang kesakitan sambil memegangi perutnya dan masih memakai mukena, “Sayang, apa sudah mau melahirkan?” tanya Deren bodoh karena saking khawatirnya.
“Mas sakit!” rintih Violet.
Deren pun segera menggendong istrinya itu dengan susah payah, “Mas, mukenahku.” Ucap Violet.
Deren pun segera melepas mukena sang istri dan menggantinya dengan hijab lalu kembali menggendong istrinya itu, “Ibu, tolong bawakan semua perlengkapannya. Vio sepertinya akan segera melahirkan.” Ucap Deren menggendong sang istri menuju mobil yang Doni sudah siap sedia menunggu. Doni dan Arini sudah menikah dan untuk beberapa hari ini Doni dan Arini di minta menginap di mansion untuk berjaga-jaga.
Ibu Anggi pun segera mengangguk saja lalu segera mengambil koper yang memang sudah di sediakan untuk di bawa ke rumah sakit itu dan segera menyusul menggunakan mobil lainnya tapi sebelum itu dia memastikan bahwa Carra ada yang menemani ketika bangun nanti. Arini di minta untuk menjaga Carra.
Doni pun hanya bisa menurutinya saja dan syukurlah mereka segera tiba di rumah sakit yang di sana suda menunggu dokter Riana dan tenaga medis lainnya. Deren memang sudah meminta Arini untuk menghubungi pihak rumah sakit.
Deren langsung menggendong sang istri ke bed dan segera di dorong menuju ruang bersalin. Violet menggenggam erat lengan sang suami untuk melampiaskan rasa sakitnya. Bahkan mungkin tangan Deren itu sudah memerah karena sudah terasa perih namun Deren mengabaikannya karena dia tahu rasa sakit yang di rasakan Violet pasti lebih sakit dari cengkeraman tangannya itu.
Dokter Riana segera mengecek Violet, “Kita harus melakukan operasi. Ibu Violet tidak bisa melahirkan normal.” Ucap Riana kepada Deren setelah selesai memeriksa keadaan Violet yang mulai perdarahan.
__ADS_1
“Dokter, saya ingin melahirkan normal.” Ucap Violet.
“Sayang, jangan keras kepala. Mas mohon!” ucap Deren lembut. Dia tahu Violet itu memang sangat menginginkan untuk melahirkan secara normal dan dua hari lalu juga sudah di pastikan bahwa Violet bisa melahirkan normal.
“Kami tahu keinginan anda nyonya. Tapi kita tidak bisa memaksakan ini. Anda sudah mulai perdarahan. Kami khawatir jika tidak segera di lakukan prosedur pembedahan dan tetap memaksa untuk melahirkan normal maka akan berbahaya untuk ibu dan janin apalagi anda mengandung triplets.” Jelas dokter Riana lembut. Dia tahu Violet itu orang seperti apa dan dia yakin hanya Deren yang bisa meyakinkan istrinya itu.
“Tapi dok--”
Cup
“Sayang, mas mohon. Ini semua demi kebaikan semuanya. Jangan keras kepala. Please! Kamu ingin kan kita bisa melihat mereka bertiga nanti bersama.” ucap Deren setelah mengecup sekilas bibir sang istri.
Para bidan dan perawat hanya bisa tersenyum malu melihat itu. Ada rasa iri terbersit dalam pikiran mereka ingin memiliki suami seperti Deren juga.
Violet pun akhirnya mengalah dan mengangguk, “Tapi mas harus menemaniku ke ruang operasi. Aku gak mau sendiri.” Ucap Violet.
Deren mengangguk, “Tentu sayang.” ucap Deren lalu kembali mengecup kening istrinya. Setelah itu dia segera mendatangani semua inform consent lalu Violet segera di bawa menuju ruangan pra operasi untuk persiapan semuanya dan tidak lama kemudian langsung di bawah ke ruang operasi untuk mencegah kemungkinan terburuk.
__ADS_1
Deren ikut bersama istrinya itu ke dalam sementara Ibu Anggi menunggu saja di luar. Dia sebenarnya ingin masuk dan menemani istrinya itu. Namun dia mengalah karena tahu Violet lebih butuh Deren. Dia pun mengalah dan menunggu saja di luar sambil berdoa untuk kelancaran proses persalinan sang putri.