
Edgar membaca dokumen itu dengan seksama lalu seketika dia kaget, "Apa maksudnya ini kakak ipar?" tanya Edgar kaget membaca dokumen itu.
"Seperti yang tertulis dalam dokumen itu itulah yang terjadi sebenarnya. Aku yakin kau cerdas hingga bisa memahami apa yang tertulis di sana." Ucap Deren sambil menunjuk dokumen yang kini dalam pengangan Deren.
Edgar yang mendengar jawaban kakak iparnya tidak percaya karena dia belum bisa menerima ini, "Ini gak mungkin benar kan kakak ipar? Bagaimana mungkin ayah di tipu bahkan di racuni. Aku tidak bisa menerima ini kakak ipar." ucap Edgar mencoba menahan amarahnya.
Deren pun mengangguk mengerti, "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah tahu ini semua?" Tanya Deren ingin tahu pendapat adik iparnya.
"Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya ayah di tipu dan kehilangan perusahaannya. Aku ingin mereka merasakan perasaan yang sama." Jawab Edgar.
Deren yang mendengar jawaban adik iparnya yang ternyata sama dengan istrinya dia tersenyum, "Lalu bagaimana dengan sabotase kesehatan ayah? Apa kau tidak akan membalasnya?" tanya Deren lagi.
Edgar yang mendengar pertanyaan kakak iparnya itu menghela nafasnya, "Sebenarnya aku sangat tidak terima dengan itu tapi jika aku melakukan hal yang sama dengan membunuh mereka maka aku akan berdosa maka untuk itu biarlah jadi urusan tuhan membalasnya tapi setidaknya mereka tetap merasakan apa yang ayah rasakan sebelum dia meninggal yaitu harus rela melihat perusahaan yang dia bangun dengan tangan sendiri hancur di tangan kedua temannya yang sudah dia bantu. Ayah yang sudah membantu mereka membangun perusahaan itu maka aku berjanji akan menghancurkan perusahaan itu." ucap Edgar.
Deren yang mendengar itu pun semakin kagum dengan pendapat kedua kakak beradik itu yang ternyata memiliki pemikiran yang sama, "Aku bangga padamu. Aku juga kagum kepada hubungan dan ikatan antara kau dan kakakmu. Kalian memiliki ikatan yang sangat kuat hingga perkataanmu ini bagaikan dejavu untukku karena semalam juga istriku mengatakan yang sama." Ucap Deren.
Edgar yang mendengar itu pun kaget, "Jadi kakak sudah tahu ini?" tanya Edgar.
__ADS_1
Deren mengangguk, "Dia juga baru tahu semalam. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan masalah ini kepadanya karena tidak ingin dia sedih lagi. Kau kan tahu dia baru bangkit dari kesedihannya kemarin tapi karena dia bertanya maka aku menjawabnya. Aku tidak bisa menutupi masalah apapun darinya. Dan kau tahu jawabannya sama denganmu. Dia ingin menghancurkan kedua perusahaan itu." ucap Deren.
Edgar pun tersenyum mendengarnya, "Jadi kau ingin menghancurkan perusahaan itu kan. Ini dokumen yang kau butuhkan." ucap Deren mengambil dokumen yang berisi penipuan yang di lakukan kedua perusahaan itu.
Deren pun menerimanya dan membacanya, "Apa kau butuh bantuan lagi? Aku akan membantumu mendapatkan kembali perusahaan ayahmu itu karena dia juga mertuaku." Ucap Deren.
Edgar setelah membaca dokumen itu menatap kakak iparnya, "Terima kasih atas semua ini kakak ipar. Jika bukan karena dirimu aku tidak tahu penyebab di balik bangkrut nya perusahaan ayah dan juga penyakitnya. Aku tidak menyangka ada konspirasi sebesar ini di balik kejadian itu. Terima kasih atas bantuanmu kakak ipar. Tapi aku ingin belajar mengatasi masalahku sendiri. Aku pasti akan membutuhkan bantuanmu jika sudah tidak bisa memecahkannya sendiri. Tapi apakah kakak tidak masalah dengan ini semua? Apa dia tidak masalah aku yang mengambil alih ini?" tanya Edgar.
Deren pun tertawa mendengar perkataan adik iparnya itu, "Hey, dia itu kakakmu. Coba sekarang jawab apa menurutmu dia akan mempermasalahkannya?" tanya Deren balik.
Edgar menggeleng, "Lalu kenapa kau mengajukan pertanyaan itu?" tanya Deren.
Deren yang baru mengetahui itu tentu saja kaget karena sang istri tidak mengatakan itu semalam. Violet hanya mengatakan dia menyerahkan semua keputusan kepada Edgar adiknya, "Apa kau tidak mengetahui hal ini kakak ipar? Apa kakak tidak mengatakannya?" Tanya Edgar yang menyadari ekspresi kaget di wajah kakak iparnya itu.
Deren mengangguk, "Hahah, kasihan kau kakak ipar." ucap Edgar tertawa.
Deren yang di tertawakan pun tidak terima, "Awas saja kau tunggu pembalasanku." ucap Deren tidak terima tapi tentu saja itu hanya bercanda karena suasana serius tadi sudah cukup.
__ADS_1
"Kau mau membalasku dengan apa kakak ipar? Apa Carra? Tidak mungkin aku tahu semua tentang Carra bahkan sampai ukuran pakaian dalamnya pun aku tahu. Jadi kau tidak memiliki kesempatan itu." Ucap Edgar masih tertawa.
"Sialan kau adik ipar. Jangan kau apa-apakan adikku. Awas saja kau jika melakukan hal yang tidak-tidak padanya." ancam Deren.
"Tenang kakak ipar aku bukan laki-laki bejat seperti itu. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak bermoral seperti itu di luar ikatan pernikahan tapi jika aku sudah menikah Carra maka pasti aku akan melakukannya dengan istriku." jawab Edgar.
Deren yang mendengar itu pun tersenyum karena dia juga percaya kepada laki-laki di hadapannya ini yang berstatus adik iparnya sekaligus kekasih adiknya. Dia percaya kepada Edgar bahwa laki-laki itu tidak akan melakukan tindakan buruk kepada sang adik karena dia tahu seperti dirinya yang sangat mencintai Violet dan ingin menjaganya. Begitu jugalah yang dia lihat dari Edgar, adik iparnya itu sangat mencintai adiknya bukan hanya cinta saja tapi rasa ingin melindungi juga ada di sana. Jadi tidak mungkin cinta yang berbalut rasa melindungi akan berbuat sesuatu kepada yang dia lindungi.
"Aku percaya padamu Edgar. Kau adalah pria pilihan adikku bahkan mommy pun dalam suratnya ingin menikahkan Carra denganmu. Jadi bukan hanya restuku saja tapi ada restu mommy di sana." ucap Deren.
Edgar tersenyum, "Apa ini bisa di katakan sebagai lampu hijau untukku kakak ipar?" tanya Edgar.
Deren tersenyum dan mengangguk, "Anggap saja begitu tapi kau tetap harus mengikuti uji coba kelayakan dariku." ujar Deren.
Edgar mengangguk, "Aku mengerti apa maksudmu kakak ipar. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini dengan baik. Aku akan memastikan sebelum menikahi Carra masalah ini sudah selesai. Selain itu juga aku akan memastikan bahwa Carra akan hidup berkecukupan denganku. Seperti kakak yang kau penuhi semua kebutuhannya maka aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhan Carra dengan baik. Aku akan menjaganya dengan baik." ucap Edgar.
Deren yang mendengar itu mengangguk bangga, "Aku percaya padamu. Aku yakin kau bisa melakukan itu. Aku yakin kau bisa mencukupi semua kebutuhan adikku. Kau akan jadi suami terbaik." ucap Deren.
__ADS_1
Edgar pun tersenyum lalu setelah membahas apa langkah selanjutnya yang harus Edgar ambil untuk mengatasi masalah ayah Smith. Edgar dan Deren makan siang bersama lalu setelah itu keduanya kembali menangani urusan masing-masing.