Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
130


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa hari ini Edgar akan memulai bisnisnya yang berjalan di bidang kuliner. Dia sudah membuka cabang cafenya di beberapa kota dan hari ini dia akan membuka kantornya. Usaha café Edgar berkembang sangat pesat hingga dalam waktu enam saja dia sudah membangun empat cabang di empat daerah berbeda dan itu juga sangat sukses. Itu jugalah yang menunjang Edgar bisa dengan mudah membuat dua perusahaan colabs di tambah Carra yang selalu ada membantunya.


“Selamat sayang!” ucap Carra tersenyum kepada sang kekasih atas peresmian kantor barunya.


“Terima kasih sayang. Ini semua berkat dukunganmu selama ini.” ucap Edgar.


“Selamat dek.” Ucap Violet.


“Terima kasih kak.” Ucap Edgar memeluk kakaknya itu. Tidak peduli dia mendapat tatapan dari kakak iparnya. Selama Violet adalah saudaranya maka dia akan memeluknya.


“Sudah, lepaskan pelukanmu dari istriku.” Ucap Deren melepas pelukan kakak beradik itu. Jika ada orang lain yang melihat itu dan belum mengenal mereka sudah pasti akan berpikiran bahwa Violet dan Edgar selingkuh dan ketahuan oleh Deren.


Edgar pun hanya bisa pasrah pelukannya dan kakaknya itu dilepaskan, “Kakak ipar perlu kau tahu istrimu itu adalah kakakku.” Ucap Edgar.


“Aku gak peduli hal itu.” jawab Deren cuek.


“Iss kakak kau menyebalkan. Bukannya memberi selamat justru mengganggu kekasihku.” Ucap Carra sebal.


“Itu salahkan saja kekasihmu itu yang memeluk istri kakak. Kakak sebagai suami yang baik maka tidak akan pernah rela istri kakak itu di peluk pria lain walaupun mereka memiliki ikatan darah.” Ucap Deren menatap Edgar tajam. Edgar pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Iss kakak dasar over posesif. Edgar itu adik kak Vio.” Ucap Carra kesal.


“Sudah, sudah jangan bertengkar. Malu lah di lihat tamu. Kau juga suamiku tidak bisakah mengalah di depan adik kita. Lagian juga ada banyak orang di sini. Kemana topeng dinginmu itu suamiku?” ucap Violet melerai.

__ADS_1


“Sudah lepas sayang semenjak kedatanganmu.” Timpal Deren. Violet pun hanya bisa mengelus dadanya.


Acara peresmian kantor milik Edgar itu berlangsung cepat dan yang memadati kantor itu tinggalah orang-orang yang ingin melamar pekerjaan. Edgar dan bagian HRD sibuk menerima berkas lamaran itu. Carra membantu kekasihnya. Violet, Deren dan ibu Anggi sudah pamit pulang setengah jam yang lalu.


***


Violet dan Deren setelah mengantar ibu Anggi pulang mereka segera menuju perusahaan Deren karena memang Violet sudah tidak mengajar lagi seperti perkataannya seminggu yang lalu. Perpisahan dengan anak-anak TK dan guru di sana juga sudah dilakukan tiga hari yang lalu. Jadi Violet resmi tidak mengajar lagi dan beralih menjadi mengelola sekolah itu dan bisnis sang ibu mertua yang memang di wariskan kepadanya daripada putri kandungnya. Carra juga tidak mempermasalahkan itu karena bisnis Hotel dan Apartemen yang dia kelola sudah membuatnya pusing apalagi jika harus di tambah dengan bisnis sang mommy, “Suamiku, apa aku harus segera mengunjungi tempat bisnis mommy?” tanya Violet sambil membaca beberapa dokumen usaha milik ibu mertuanya itu.


“Jika kau kesana aku akan menemanimu. Kau boleh mulai bekerja tapi nanti. Sekarang pahami saja dulu dokumennya.” Ucap Deren lembut lalu mengelus rambut istrinya.


Violet pun mengangguk dan kembali fokus membaca dokumen di tangannya. Deren yang sedang mengemudi tersenyum melihat keseriusan istrinya itu. Dia yakin istrinya itu akan sangat mampu mengelola usaha mommy-nya.


Sekitar 20 menit kemudian akhirnya mereka tiba di perusahaan Deren. Violet dan Deren pun segera turun, tentu saja Violet turun setelah di bukakan pintu oleh suaminya itu. Deren segera menggandeng istrinya masuk melalui pintu depan. Keduanya bergandengan hingga para karyawan yang melihat bos mereka masuk bersama istrinya tersenyum karena mereka memang sudah tahu bahwa wanita cantik di samping bos mereka itu adalah pemilik hati bos mereka. Satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan gunung es bos mereka. Mereka juga sangat menghormati Violet. Tidak ada satupun gosip tentang Violet, mereka menyetujui Violet dengan bos mereka itu bahkan kadang-kadang mereka iri dengan visual antara bos mereka dan Violet yang tampan dan cantik.


Deren pun memandang istrinya lalu menggeleng, “Gak ada, kamu cantik.” Puji Deren.


“Lalu kenapa para karyawan itu memandangku begitu?” tanya Violet bingung.


“Itu karena kamu sangat cantik sayang.” ucap Deren.


“Ish serius suamiku.” Ucap Violet yang tidak puas dengan ucapan suaminya.


“Kalau kau tidak percaya tanya kepada Arini. Semua postingannya tentangmu selalu mendapat respon positif.” Ucap Deren.

__ADS_1


Violet pun mengangguk mengerti dan begitu tiba di ruangan suaminya dia segera duduk saja di meja yang sudah tersedia dalam ruangan itu. Entah sejak kapan meja itu sudah ada dalam ruangan suaminya, “Suamiku meja siapa ini?” tanya Violet memindai meja di hadapannya itu dengan seksama.


“Tentu saja mejamu sayang. Kau kan akan mulai mengelola bisnis mommy jadi tentu saja butuh meja kerja dan itulah meja kerjamu. Kau akan bekerja di sini sama-sama di ruanganku. Kau hanya perlu mengawasi usaha mommy dari sini saja.” jelas Deren.


“Kok gitu sih?” tanya Violet.


“Mau ya sayang? Kamu bekerja di sini saja.” ucap Deren.


Violet pun mengangguk saja, “Baiklah jika memang suamiku sudah memutuskan itu. Lagian meja kerjaku ini sepertinya sudah di sediakan dengan sangat baik. Semuanya sesuai dengan diriku. Kau hebat suamiku bisa memahami apa yang aku suka dengan cepat.” Ucap Violet.


Deren yang mendengar itu tersenyum, “Tentu sayang. Suamimu ini sangat hebat hingga bisa dengan mudah tahu apa yang di inginkan istriku.” Ucap Deren.


Violet pun hanya tersenyum, “Kau sangat narsis suamiku.” Ucap Violet lalu membuka dokumen di hadapannya dan mulai mempelajarinya. Deren juga segera duduk di kursi kerjanya dan mulai bekerja. Walau mereka membaca dokumen tapi tetap saja saling bicara satu sama lain, saling memberi saran. Violet dan Deren menghabiskan waktu mereka di kantor dengan tumpukkan dokumen dan pulang saat sudah magrib baru tiba di mansion.


Sementara di sisi lain, Carra dan Edgar juga baru saja selesai memilah berkas karyawan, “Lelah?” tanya Edgar.


Carra pun mengangguk, “Ya sudah kita akhiri sampai sini saja. Kita pulang. Itu juga sudah magrib.” Ucap Edgar.


Carra pun mengangguk tersenyum dan bersiap-siap pulang. Keduanya sebelum pulang singgah di masjid sebentar untuk melakukan sholat.


“Mau makan dimana?” tanya Edgar saat mereka sudah di mobil.


“Mau makan makanan ibu saja. Lihat ibu sudah mengirimkan foto makanan.” ucap Carra sambil memperlihatkan foto yang dikirimkan ibu Anggi. Ternyata Carra dan ibunya itu saling chat.

__ADS_1


“Yaa sudah kalau begitu kita ke rumah untuk segera menghabiskan makanan itu.” ucap Edgar lalu menjalankan mobilnya menuju rumahnya.


__ADS_2