
Deren yang tidak tahu apa yang membuat Violet marah pun bingung, “Hey Vio jangan kesana!” ucap Deren yang melihat Violet semakin berjalan ke tengah laut.
Violet yang sudah di selimuti oleh perasaan yang campur aduk hingga tidak mendengar suara Deren dan tetap terus melangkah masuk menuju laut dalam hingga dia tidak sadar bahwa kedalaman air laut sudah melebihi kepalanya lalu tiba-tiba kakinya mulai kram dan dia pun mulai kehilangan kesadaran tapi sebelum itu dia masih mencoba meminta tolong walau suaranya mungkin tidak terdengar karena kram di kakinya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.
Satu hal yang membuat dia tersenyum sebelum hilang kesadaran dan menutup matanya yaitu dia melihat sosok Deren yang mendekatinya dan membawanya ke pelukan pria itu hingga wangi tubuh pria itu menyeruak masuk ke hidungnya.
Dua hari kemudian akhirnya Violet membuka matanya dan dia melihat sekeliling yaitu dinding warna putih dan sudah dipastikan ini adalah rumah sakit. Berarti apa yang dia alami itu benar-benar nyata bukan hanya mimpinya. Kenapa dia harus mengalami kram itu padahal sudah sangat lama dia tidak mengalaminya lagi.
Yah, Violet pernah jatuh ke kolam saat usianya 5 tahun saat dia menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya dan saat itu kakinya mengalami hal yang sama yaitu kram hingga harus dilarikan ke rumah sakit dan baru sadar setelah dua hari kemudian seperti yang terjadi saat ini. Sejak saat itu dia menjauhi kolam ataupun laut dan hal itu juga yang membuatnya tidak belajar berenang karena walau ada keinginan di hatinya tapi penyakitnya yang mudah mengalami kram ketika di air membuatnya mengurungkan niatnya. Setiap dia pergi ke pantai dia hanya melihat dari jauh saja dan kenapa Edgar gak mengetahui hal itu karena saat itu Edgar belum lahir dan orang tua mereka tidak pernah menceritakan kepada Edgar.
Violet mencari orang-orang di sekitarnya tapi dia tidak melihat siapapun hingga pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sang ibu. Ibu Anggi yang melihat putrynya sudah sadar pun segera tersenyum mendekati sang putri, “Syukurlah nak kau sudah sadar. Ibu sangat khawatir.” Ucap Ibu Anggi menggenggam tangan Violet.
__ADS_1
Violet tersenyum membalas ibunya tapi matanya mencari-cari seseorang yang sangat dia harapkan saat dia membuka matanya dialah orang yang pertama dia lihat tapi sayang dia tidak melihatnya. Ibu Anggi yang menyadari tatapan mencari putrinya tersenyum, “Ibu menyuruh dia ke Mansion untuk mandi dan ganti pakaian nak. Dia sudah seperti gembel yang tidak terurus bahkan makannya saja tidak teratur karena menunggumu sadar. Dia tidak pernah mau meninggalkanmu dan selalu menggenggam tanganmu seraya melafazkan kata maaf berulang kali hingga membuat ibu bosan mendengarnya lalu mengusirnya.” Jelas ibu Anggi panjang lebar agar putrinya itu mengerti.
Violet yang mendengar itu bertanya-tanya apakah yang di katakan ibunya itu benar bukan bohongan untuk menyenangkan hatinya karena yang dia ingat sebelum kejadian kram itu terjadi ada wanita yang mengaku temannya pria itu datang hingga membuatnya cemburu dan melepaskan pegangan Deren yang menahannya. Tunggu dulu Cemburu? Yah, dia cemburu kepada wanita itu. Kenapa dia baru menyadari hal itu? Apa itu berarti dia sudah mencintai suaminya itu? Yah, sepertinya memang begitu tapi sayang sepertinya cintanya ini akan dia bawa pergi bersama perpisahan yang mungkin akan terjadi. Ingin rasanya dia menangis dan berteriak mengingat itu tapi tak mungkin dia lakukan karena di sini ada sang ibu. Mungkin untuk kedua kalinya dia akan membawa rasa sakit cinta ini tapi satu hal yang membuatnya senang setidaknya rasa sakit cinta yang dia alami ini bukan karena penghinaan.
“Nak, kau bangun yaa ibu ambilkan bubur untuk kau makan.” Ucap ibu Anggi setelah perawat memeriksa Violet dan memastikan semuanya sudah baik-baik saja.
Violet hanya mengangguk, “Ibu berapa hari aku pingsan?” tanya Violet.
Deg
Violet yang mendengar ucapan sang ibu seketika tergelak dan makanan yang masuk ke mulutnya rasanya sangat pahit hingga untuk menelannya saja terasa sulit. Bagaimana mungkin dia bisa hamil jika dalam hubungan mereka tidak pernah terjadi hal itu? Bagaimana terjadi hubungan itu jika dia saja baru menyadari bahwa dia mencintai suaminya. Bagaimana mungkin aka nada bayi dalam perutnya jika perpisahan mereka mungkin sebentar lagi akan terjadi karena Deren sepertinya sudah menemukan wanita yang dia cintai. Violet yang memikirkan itu seketika meringis memijat kepalanya, “Ada apa nak? Apa kepalamu sakit?” tanya ibu Anggi yang melihat Violet meringis memijat kepalanya.
__ADS_1
“Ibu bisakah tinggalkan aku sendiri? Aku ingin istirahat sebentar. Jika aku sudah lapar aku akan memakan bubur itu. Simpan saja bubur itu di meja.” Pinta Violet.
Ibu Anggi pun hanya mengangguk saja karena dia memang tidak ingin sang putri kesakitan, “Buburnya ibu letakkan di sini yaa. Jika kamu butuh apa-apa panggil ibu di depan. Ibu mungkin sedikit lagi akan pulang bertukar dengan Deren karena dia sedang dalam perjalanan kesini. Istirahatlah dengan baik nak, jangan sakit lagi.” Ucap Ibu Violet sambil membantu Violet untuk berbaring kembali lalu sebelum keluar ibu Anggi sempat mengecup kening putrinya itu.
Violet setelah memastikan ibunya keluar air matanya langsung menetes sambil meremas dadanya, “Bukan fisikku yang sakit bu tapi hatiku. Sakit kram ini tidak seberapa tapi cinta yang tumbuh di hatiku untuknya menyakitiku bu. Sangat sakit dan perih jika harus mengingat bahwa sebentar lagi kami akan berpisah walau perjanjian kedua yang kami sepakati kami akan melakukan perpisahaan saat usia pernikahan kami 6 bulan tapi sepertinya dia tidak akan menunggu hal itu karena dia sudah memiliki wanita itu--” batin Violet sambil *******-***** dadanya jika mengingat bahwa dugaannya malam itu benar bahwa Deren memanggil wanita itu menyusul ke sana untuk menemaninya karena suaminya itu tidak pulang ke kamar setelah malam itu meninggalkan kamarnya.
“Ahh yaa Allah ini sangat sakit. Kenapa kau menghadirkan cinta ini di hatiku jika beriringan dengan patah hati yang harus ku alami. Tidak bisakah aku bahagia sedikit saja tuhan.” Lanjut batin Violet.
Sementara di luar ruangan Deren segera berlari menuju ruangan VVIP dimana Violet di rawat, “Ibu kenapa di luar? Apa dia baik-baik saja di dalam?” tanya Deren terengah-engah mencoba menormalkan nafasnya karena berlari.
Ibu Anggi tersenyum melihat menantunya itu yang sepertinya sangat mengkhawatirkan putrinya buktinya begitu dia memberi tahu bahwa Violet sudah sadar dia yang sedang menghadiri meeting penting yang tidak boleh dia wakili segera bergegas kesini hanya untuk melihat Violet.
__ADS_1
“Kau tenang saja nak. Dia baik-baik saja tapi dia hanya ingin istirahat sebentar.” Jawab ibu Anggi.