Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
120


__ADS_3

“Dia sudah gak ada.” Potong Deren.


Violet yang mendengar itu kaget, “Apa maksud perkataanmu itu suamiku? Kenapa dia gak ada?” tanya Violet mulai menduga apa yang sudah terjadi. Dia segera menyentuh perutnya.


Ibu Anggi yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya, “Nak, lebih baik habiskan dulu makananmu.” Ucap ibu Anggi.


Violet menggeleng, “Gak, kalian harus mengatakan apa masuk dia sudah gak ada. Jangan katakan itu, aku tidak akan bisa menerimanya. Aku tidak mau, tidak , jangan.” Ucap Violet menggeleng berulang kali menyangkal pemikirannya.


Deren yang melihat itu segera menangkup wajah sang istri menghadapkan wajah istrinya dengan wajahnya, “Itu benar sayang. Dia sudah gak ada, dia sudah pergi.” ucap Deren tidak sanggup sambil memandangi perut sang istri.


“Tidak, jangan katakan itu suamiku. Katakan padaku bahwa kalian bercanda, iya kan? Kalian hanya melakukan prank kan? Tidak dia pasti masih ada, aku sudah melihatnya tadi di monitor USG, dia sangat kecil tapi dia ada di sana. Gak, kalian pasti berbohong kan? Tidak mungkin dia pergi meninggalkanku. Tidak, itu tidak mungkin. Suamiku, aku mohon katakan yang sebenarnya? Dia pasti baik-baik saja kan? Ibu, Carra kalian hanya berbohong kan? Dia tidak mungkin pergi.” ucap Violet tidak terima dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.


Deren yang melihat kesedihan istrinya itu sangatlah terpukul sungguh dia sangat sakit melihat air mata di pipi istrinya, “Tenang sayang. Kita ikhlaskan dia yaa! Dia sudah bahagia di sana.” Ucap Deren membawa Violet dalam pelukannya. Sungguh Deren mengatakan kalimat itu bukan hanya untuk menenangkan istrinya tapi juga menenangkan perasaannya juga. Sungguh dia juga sangat terpukul akan apa yang telah terjadi. Dia bersumpah akan membalas semua ini.


Violet meronta dalam pelukan Deren, dia masih tidak menerima ini, dia menyangkal semua ini, “Kau jahat suamiku, kau jahat!” ucap Violet parau karena lelah menangis.


“Aku tahu sayang. Aku memang jahat. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu dan anak kita. Sungguh hukum aku saja yang penting jangan dirimu. Aku memang bersalah akan semua ini. Maafkan aku!” ucap Deren.


Ibu Anggi dan Carra tidak menatap suami istri itu karena tidak sanggup melihat kesedihan di sana. Mereka juga meneteskan air matanya. Violet terus menangis di pelukan Deren sambil memukul dada suaminya itu, baju Deren sampai basa dengan air matanya, Violet menangis hingga dia lelah sampai tertidur.

__ADS_1


“Nak, kau gantilah pakaianmu biar ibu yang menjaganya.” Ucap ibu Anggi setelah melihat Violet tertidur karena lelah menangis. Ada bekas air mata di wajah cantik itu.


Deren pun mengangguk lalu segera ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, untung saja mbak Ratih sudah mengirimkan pakaian untuknya dan Violet. Deren masuk ke kamar mandi bukannya langsung membersihkan dirinya tapi justru duduk di lantai kamar mandi sambil menangis, “Maafkan aku Vio. Aku sudah berjanji akan melindungimu dan selalu membuatmu bahagia tapi kali ini kau bersedih karena kecerobohanku. Aku minta maaf Vio. Mommy, daddy kenapa kalian membawa cucu kalian pergi? Apa kalian sudah bertemu dengannya? Mom, Dad tolong jaga dia baik-baik.” ucap Deren menangis. Setelah sekitar setengah jam lebih di kamar mandi Deren keluar dengan wajah yang lumayan segar namun tetap saja ada kesedihan di sana.


“Tidurlah nak! Ibu pamit!” ucap ibu Anggi karena itu sudah sangat larut malam.


Deren mengangguk, “Terima kasih bu!” ucap Deren.


Ibu Anggi hanya tersenyum dia tahu menantunya itu mencoba kuat demi putrinya, “Jangan terlalu bersedih nak!” ucap ibu Anggi.


Setelah itu ibu Anggi, Carra dan Edgar segera pamit pulang, “Kau kuat kak.” Ucap Edgar sebelum pergi.


***


“Tidak. Tidak. Mommy, daddy kembalikan dia padaku. Tidak, jangan bawa dia pergi mom dad--” teriak Violet seketika dia terbangun. Deren juga yang tidur sambil duduk seketika terbangun mendengar teriakan sang istri.


“Sayang, kenapa? Kau mimpi buruk?” tanya Deren segera membantu Violet bangun.


Violet bukannya menjawab langsung menangis, “Mommy sama daddy mengajak anak kita pergi suamiku. Mereka membawanya, aku tidak bisa menolongnya.” Ucap Violet menangis.

__ADS_1


Deren yang mendengar itu langsung memeluk istrinya sambil menciumi rambut istrinya itu, “Suamiku, dia ikut mommy dan daddy. Dia sangat tampan suamiku, dia tersenyum padaku tapi saat aku menjangkau tangannya dia pergi ke pangkuan mommy dan daddy lalu mereka membawanya menghilang. Suamiku tidak bisakah mommy sama daddy mengembalikannya kepada kita?” tanya Violet menangis sesegukan.


Deren pun hanay bisa meneteskan air matanya, “Sayang, dia sudah bahagia ketemu dengan kakek dan neneknya. Kita harus mengikhlaskannya agar dia bahagia di sana. Mommy sama daddy pasti akan menjaganya dengan baik.” ucap Deren mencoba menguatkan hatinya dan sang istri.


“Suamiku, kenapa sangat susah untuk ikhlas? Aku tidak bisa menerimanya suamiku. Sungguh!” ucap Violet.


“Gak apa-apa sayang. Kita pelan-pelan mengikhlaskannya. Aku tahu kau sangat sedih, aku juga sama sayang tapi kasihan dia jika kita tidak mengikhlaskannya dia akan sedih di sana. Kamu gak mau kan dia sedih di sana?” tanya Deren.


Violet mengangguk, “Dia harus bahagia suamiku.” Balas Violet.


“Ya sudah kalau begitu kita belajar mengikhlaskannya yaa.” Ucap Deren. Violet mengangguk dengan pelan. Deren tersenyum tipis melihat anggukan istrinya itu karena dia tahu istrinya itu tidak akan mudah menerima ini dan melupakan ini. Dia pasti akan terus mengingatnya tapi setidaknya untuk saat ini istrinya itu sudah bisa menerima kenyataan yang ada tidak seperti tadi yang histeris menolaknya.


“Sudah kita sekarang istirahat. Kamu tidur yaa, ini masih jam 03.04” ucap Deren membaringkan Violet kembali.


“Aku mau tidur di dalam pelukanmu suamiku. Aku--” ucap Violet.


Deren segera mengangguk lalu langsung tidur bersama di ranjang pasien itu. Untung saja ranjang itu fasilitas VVIP hingga Deren dan Violet muat. Tidak lama Violet kembali tertidur di dalam pelukan Deren yang menepuk bahu istrinya itu. Setelah memastikan istrinya tertidur dia bangkit dan segera melakukan sholat tahajud. Dia berserah diri di sana dengan semua yang terjadi setelah itu dia menunggu waktu subuh dengan membaca Al-Qur’an di ponselnya. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Deren sedikit tenang dan mendapat sedikit jalan untuk bagaimana kedepannya.


Deren segera keluar dari ruang rawat istrinya untuk mencari sarapan untuk keduanya tapi Deren meminta perawat menjaga istrinya saat dia keluar. Sekitar setengah jam kemudian, Deren kembali dengan makanan di tangannya dan begitu sampai Violet masih tidur. Deren pun membiarkannya sampai menunggu istrinya itu bangun sendiri.

__ADS_1


__ADS_2