Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
34


__ADS_3

Deren yang mendengar hal itu segera menatap asistennya, “Undangan pernikahan? Carlos Corp? Apa ini pernikahan Morgan Carlos?” tanya Deren memastikan.


Max pun mengangguk, “Kapan pernikahannya?” tanya Deren.


“Tiga minggu lagi tuan.” Jawab Max. Deren pun mengangguk mengerti lalu segera keluar dari lift dan menuju ruang kerjanya.


Saat kedua pria itu berada di ruang kerjanya ponsel Max berdering, Max pun segera menjawabnya begitu mengetahui bahwa orang yang menelpon adalah bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga nyonya mudanya.


“Iya, Halo. Ada apa?” tanya Max.


“---”


“Apa? Nyonya pergi bersama tuan Morgan? Apa kau yakin?” tanya Max kaget.


Deren yang akan segera duduk di kursi kebesarannya begitu mendengar hal itu segera merebut ponsel asistennya.


“Jelaskan kronologinya? Bagaimana mungkin nyonya bisa pergi dengan Morgan?” tanya Deren to the point.


“---”


“Baiklah kau tetap awasi yang terjadi dan jangan lupa segera panggil yang lain untuk kesana. Saya akan kesana secepatnya.” Ujar Deren lalu segera mengambil ponsel dan kunci mobil lalu segera menuju pintu keluar ruangannya.


“Max, aku serahkan padamu untuk menemui klien dari Jepang hari ini dan untuk ke dokter biar aku akan segera kesana setelah urusan ini selesai.” Pesan Deren lalu segera keluar dari ruangan itu.


Max pun hanya bisa menghela nafasnya melihat punggung tuan mudanya itu yang sudah menghilang dan masuk ke dalam lift, “Kau sudah berubah tuan.” Gumam Max karena dia memang merasakan perubahan dalam diri Deren setelah Violet hadir dalam kehidupannya itu.


Deren yang biasanya sangat dingin dan selalu tegas dalam segala hal bahkan terkenal dengan kekejamannya yang setiap karyawan tidak boleh melaksanakan kesalahan apapun tapi akhir-akhir ini Deren sedikit memberi kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki kesalahan mereka kecuali kesalahan itu adalah kesalahan yang fatal.

__ADS_1


Deren yang biasanya sering lembur sampai larut malam sudah tidak lagi melakukan itu dan jika pun dia lembur tidak lebih dari jam sembilan malam dia sudah harus pulang ke Mansion. Jika masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan maka dia lebih memilih membawanya pulang dan mengerjakannya di Mansion dari pada di perusahaan seperti dia belum menikah.


***


Sementara Violet dan Morgan kini mereka ada di sebuah restoran yang dulunya menjadi tempat favorit mereka kencan, “Katakan, sebenarnya apa yang ingin kau berikan padaku? Kenapa harus memaksaku datang kesini?” tanya Violet kesal karena pria yang sudah membawanya itu tidak menjawab pertanyaannya dari tadi.


“Aku akan memberikannya tapi tidakkah kau ingin minum dulu. Lebih baik pesanlah sesuatu dulu.” Ucap Morgan.


Violet pun hanya bisa menghela nafasnya untuk meredakan kekesalannya yang mungkin sudah mencapai puncak itu. Sementara Morgan dia tidak peduli dan justru sedang memesan minum.


“Cepatlah apa yang ingin kau berikan ataupun katakan? Aku tidak punya waktu meladenanimu di sini, aku harus pulang.” Ucap Violet begitu Morgan selesai memesan.


“Viola em maksudku Violet, kenapa kau sudah sangat berubah. Kau bukan seperti orang yang ku kenal.” Ujar Morgan memandang gadis di hadapannya.


“Jadi kau memaksaku ke sini hanya untuk mendengarkan omong kosongmu ini? Jika memang begitu lebih baik aku pulang saja. Ohiya satu hal lagi Violet yang kau cari atau yang kau kenal sudah lama mati. Jadi jangan pernah menanyakannya.” Ucap Violet segera berdiri tapi lagi-lagi di tahan oleh Morgan.


“Emm,, aku menemuimu hari ini hanya ingin memberitahukan bahwa aku akan menikah dan ini undangan untukmu. Aku harap kau datang!” Ucap Morgan pedih sambil memberikan undangan pernikahannya itu kepada Violet.


Violet pun tersenyum sinis melihat undangan itu, “Akan aku usahakan jika memang aku tidak memiliki urusan. Ohiya selamat untuk pernikahanmu.” Jawab Violet lalu segera mengambil undangan itu dan menyimpannya di tas yang sempat dia bawa.


Morgan pun memandang Violet dengan dalam seolah menelisik apakah ada kesedihan di sana tapi sayang dia tidak menemukannya dan hal itu membuat hatinya terasa sangat pedih karena walaupun dia akan menikah tapi perlu di garis bawahi hal itu dia lakukan karena terpaksa. Karena jika dia tidak melakukan hal itu maka perusahaannya akan bangkrut dan orang tuanya tidak mau hal itu terjadi hingga mempercepat pernikahannya agar bisnis keluarga mereka bisa di selamatkan dengan bantuan dari perusahaan besan mereka.


“Sudah kan? Aku rasa urusan kita sudah selesai. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh agar pernikahan kalian bahagia.” Ujar Violet segera berdiri.


“Violet tidak bisakah kau menemaniku menghabiskan minuman yang sudah aku pesan ini? Please, aku mohon untuk terakhir kalinya.” Mohon Morgan.


Violet pun yang melihat bahwa pelayan sudah mengantar minuman yang di pesan oleh Morgan dia pun segera duduk kembali, anggap saja ini memang sebagai hadiah untuk seorang mantan yang akan menikah.

__ADS_1


Morgan tersenyum melihat Violet yang duduk kembali, “Minumlah, itu minuman kesukaanmu.” Ujar Morgan.


Violet pun mengangguk karena minuman itu yang memang minuman favoritnya di restoran karena terbuat dari coklat. Violet pun mulai meminumnya sedikit dan itu tidak luput dari pandangan Morgan.


Setelah sekitar sepuluh menit kemudian Violet mulai merasa pusing, “Ada apa?” tanya Morgan.


Violet menggeleng, “Gak tahu, entah kenapa aku merasa pusing.” Jawab Violet.


“Emm,, lebih baik aku akan segera mengantarmu pulang saja atau kita ke rumah sakit dulu.” Ucap Morgan.


“Gak usah lebih baik antar aku ke sekolah saja. Aku akan mengambil vespaku di sana.” Ucap Violet.


“Baiklah, ayo.” Ucap Morgan lalu dia tidak lupa meninggalkan uang di meja itu untuk membayar minuman mereka.


Violet berusaha berdiri tapi dia oleng karena entah kenapa kepalanya semakin pusing dan pandangannya sudah mulai sedikit kabur. Morgan pun segera mendekat dan memapah Violet untuk keluar dari restoran itu menuju mobilnya.


Tapi saat dia akan memasukkan Violet ke dalam mobil ada seseorang yang menarik kerahnya dan langsung memukulnya.


Bugh bugh


“Apa yang telah kau lakukan padanya? Cepat katakan?” tanya Deren tajam lalu kembali memukul Morgan yang lagi-lagi Morgan tidak bisa menangkisnya.


“Ada apa denganmu tuan Deren? Kenapa kau tiba-tiba datang dan memukulku dengan membabi buta seperti ini? Ohiya apa juga hakmu bertanya apa yang telah aku lakukan padanya? Perlu kau tahu dia adalah milikku, aku adalah kekasihnya.” Ucap Morgan sambil mengusap darah yang mengalir di bibirnya.


“Cih, kekasih? Bukankah dirimu hanyalah mantan kekasih? Apa kau pikir aku tidak tahu dan akan terprovokasi dengan perkataanmu tapi sepertinya perkataanmu itu perlu mendapatkan pukulan lagi apalagi tanganmu ini yang sudah berani menyentuh wanitaku seperti hukuman terpisah dari tubuh adalah hukuman yang setimpal.” Ucap Deren lalu segera meraih tangan Morgan dan mematahkannya.


Violet yang mendengar teriakan Morgan itu pun dengan sisa kesadarannya, “Deren!” panggil Violet.

__ADS_1


__ADS_2