
“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Violet heran.
Edgar menggeleng, “Gak ada yang salah denganmu kak tapi justru kau sangat cantik seperti itu.” Ucap Carra tersenyum.
“Kalian ini bisa aja, kakak pikir kenapa. Ohiya di mana ibu?” tanya Violet karena tidak melihat sang ibu.
“Di dapur.” Jawab Edgar.
Violet pun hanya mengangguk lalu segera berlalu menuju dapur mereka sementara Deren kembali makan kue kering itu setelah sadar dari kekagumannya terhadap kecantikan natural Violet hingga tanpa sadar sudah setengah toples kue yang dia habiskan. Sementara Violet segera membantu sang ibu yang ternyata sedang memasak.
Tidak lama kemudian, “Vio panggil mereka untuk ikut makan bersama.” Perintah sang ibu.
Violet pun mengangguk lalu melepas celemeknya menuju ke ruang depan, “Edgar, Carra ayo kita makan. Ohiya tuan Deren juga ayo makan bersama.” Ajak Violet.
“Makan? Yeay,, perut Carra juga minta di isi.” Ucap Carra berbinar lalu segera berlari menuju meja makan meninggalkan ketiga orang di sana, Edgar pun hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu lalu segera menyusul Carra. Violet dan Deren pun segera menuju meja makan.
“Astaga dek, malu ihh masa belum mulai makan sudah makan duluan sih.” Ucap Deren yang melihat sang adik sudah mulai mencicipi makanan di sana.
“Gak apa-apa kok tuan Deren kami sudah biasa dengannya. Kami justru senang dia bertingkah seperti itu karena jika dia bertingkah anggun maka hal itu akan membuat kami heran. Jadi biarkan saja.” Timpal ibu Anggi.
“Tuh dengerin kak, ibu aja gak apa-apa.” Balas Carra.
“Sudah-sudah ayo duduk!” ucap Ibu Anggi. Edgar tentu saja duduk berdampingan dengan sang kekasih. Violet dan Deren pun duduk bersampingan.
“Ayo silahkan di coba tuan Deren, semoga pass di lidah anda.” Ucap Ibu Anggi mempersilahkan Deren.
“Emm ibu panggil saja Deren gak usah pake embel tuan segala. Saya juga ingin di anggap seperti Carra siapa tahu aja di masa depan kita menjadi ibu dan anak.” Ucap Deren melirik sekilas Violet tapi yang dilirik seperti tidak mendengar ucapan Deren.
__ADS_1
“Hahah,, nak Deren bisa aja. Jika memang ingin menjadi anak saya nanti maka harus menikahi putri keras kepala kami ini.” ucap Ibu Anggi bercanda.
“Itu akan terjadi ibu jika anda merestuinya.” Jawab Deren.
Ibu Anggi pun tertawa karena menganggap itu hanya candaan Deren, “Nak Deren bisa aja.” Balasnya.
Violet mengabaikan percakapan ibu dan Deren itu, “Ini untuk ibu, makanlah. Ini untuk anda tuan silahkan makan.” Ucap Violet memberikan piring yang sudah di isi nasi.
“Terima kasih nak! Ayo nak silahkan ambil lauk yang kau inginkan. Semoga suka!” ucap Ibu Anggi menerima lauk yang di berikan Violet.
“Kak, makanlah ini, ini adalah makanan kesukaan sekaligus buatan kak Vio. Aku sangat menyukainya karena masakan kak Vio sangat lezat.” Ucap Carra dengan makanan di mulutnya.
“Telan dulu baru bicara.” ucap Edgar memperingati agar sang kekasih tidak tersedak nanti yang hanya di balas cengesan oleh Carra.
Violet dan ibu Anggi pun hanya tersenyum melihatnya karena mereka sudah biasa dengan tingkah ajaib Carra, “Tuan makanlah!” ucap Violet memberikan lauk kepada Deren.
“Terima kasih!” balas Deren.
***
Setelah makan dan membantu sang ibu membersihkan bekas makanan mereka kini Violet dan Deren sedang ada di teras samping rumah Violet itu yang menghadap taman mini di halaman itu, “Apa kamu belum mengatakan apapun pada keluarga tentang pertunangan kita?” tanya Deren memecahkan keheningan.
Violet yang sedang asik menatap bungan yang sedang mekar pun menatap Deren lalu menggeleng, “Saya belum mengatakannya tapi tenang saja saya akan menjelaskannya perlahan-lahan.” Jawab Violet.
“Kapan? Aku tidak ingin mereka nanti kaget saat nanti kau memberitahu mereka jika pertunangan kita sudah dekat.” Ucap Deren.
“Tenang saja tuan saya akan menjelaskannya tapi butuh waktu. Saya harap anda bersabar!” ucap Violet.
__ADS_1
“Baiklah terserah padamu. Ohiya besok mommy ingin bertemu denganmu.” Ucap Deren.
“Untuk?” tanya Violet.
Deren pun hanya mengangkat bahunya, “Aku gak tahu tapi sepertinya akan membahas konsep pertunangan kita.” Jawab Deren.
Violet pun hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah bunga-bunga di halaman itu tapi tiba-tiba Deren mendekatkan dirinya kepadanya hingga mengikis jarak di antara mereka, “Mau ngapain?” tanya Violet menatap Deren yang wajah mereka sudah sangat berdekatan itu.
Deren tidak menjawabnya tapi terus mengikis jarak di antara mereka hingga kecupan mendarat di bibir Violet.
Cup
Violet pun segera mendorong Deren lalu menutup bibirnya dengan sebelah tangannya, “Apa yang anda lakukan? Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan.” Ucap Violet menatap tajam Deren.
Deren yang di tatap tajam bukannya takut justru terkekeh, “Kenapa reaksimu berlebihan begitu? Apa itu first kissmu? Jangan bilang iya.” Duga Deren tapi Violet hanya diam saja dan masih setia menutup bibirnya.
“Hahahh,, jadi benar itu first kissmu. Jadi apa yang kau lakukan dengan mantanmu itu yang berpacaran selama 2 tahun. Huh, kasihan sekali dia tapi thanks atas first kissnya.” Ucap Deren.
“Anda!” ucap Violet kesal sambil mengarahkan tangannya untuk memukul pria itu karena sudah merebut first kissnya tapi belum sampai tangannya untuk memukul Deren sudah di tahan oleh Deren dan langsung menarik Violet ke pelukannya dan mengikis jarak antara mereka lagi, “Akan aku tunjukkan seperti apa itu kiss sebenarnya. Lagian aku sudah merebut first kissmu jadi kita lanjutkan saja.” Ucap Deren tersenyum lalu mendekatkan wajahnya kearah ke wajah Violet sambil menahan tubuh dan tangan Violet tapi belum juga Deren berhasil menciumnya tiba-tiba, “Apa yang kalian lakukan?” tanya Carra. Violet pun segera mendorong Deren begitu melihat bahwa ternyata Edgar juga ikut di belakang Carra. Dia tidak ingin adiknya itu berpikiran yang tidak-tidak nanti walau memang ada yang terjadi antara mereka.
“Gak ada. Kenapa kalian kesini? Menganggu saja!” gerutu Deren.
“Ihh suka-suka aku dong! Lagian ini kakimu terserah aku mau kemana.” Jawab Carra lalu segera melihat bunga-bunga yang mekar itu. Sementara Violet dari tadi menunduk tanpa berani menatap sang adik yang menatapnya dari tadi seolah meminta penjelasan.
“Ed apa ibu di dalam?” tanya Violet basa basi dan belum juga Edgar menjawab Violet sudah nyelonong masuk meninggalkan kedua orang itu di sana karena Carra sibuk berselfie ria dengan bunga-bunga di halaman itu.
“Apa hubungan anda dengan kakak saya?” tanya Edgar menatap Deren tajam setelah keheningan cukup lama terjadi di antara mereka.
__ADS_1
Deren pun menatap Edgar balik, “Kau mau tahu?” tanya Deren langsung di balas anggukan cepat oleh Edgar.
“Jika kau mau tahu tanyalah pada kakak cantikmu itu. Bye! Aku pamit. Jaga Carra dengan baik.” ucap Deren berlalu pergi tapi sebelum pergi dia menepuk bahu Edgar.