Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
94


__ADS_3

Keesokkan paginya setelah subuh Violet dan ibu serta Edgar segera menuju hotel begitu juga dengan Carra dan Deren segera menuju ke hotel. Akad mereka di buat tertutup yang hanya di hadiri oleh keluarga inti serta bodyguard dan pelayan di Mansion serta beberapa orang kepercayaan Deren seperti Max, Ronal dan Doni serta tidak ketinggalan Soraya dan Bima yang juga ikut terlibat dalam persiapan pernikahan ini.


Begitu Violet tiba dia segera di bawa ke kamar hotel untuk di rias oleh MUA yang sudah di tunjuk Carra. Carra bersama ibu Anggi juga berada di kamar sebelah untuk mengganti pakaian mereka. Carra dan ibu Anggi juga ikut di rias tapi tentu saja tidak dengan make up pengantin hanya make up natural saja. Carra juga membantu ibu Anggi dalam memastikan penampilannya, “Terima kasih nak.” ucap ibu Anggi yang di balas Carra dengan senyuman.


Sementara di ruangan sebelah Deren sedang di bantu oleh Max, Ronal dan Doni memastikan penampilan bos mereka itu sudah perfect, “Kau sudah perfect tuan.” Puji Doni.


Deren hanya mendelik kesal kepada bodyguard yang sudah dia percayai menjaga sang istri itu. Dia masih kesal karena mulut ember bodyguardnya itu dan belum sempat memberikan hukuman padanya karena kesibukannya dengan urusan perusahaan.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka menampilkan seorang pria masuk dengan pakaian formalnya yang segera mendekati Deren, “Apa kau gugup kakak ipar?” tanya Edgar. Yah, orang yang masuk itu Edgar dia hanya ingin melihat Deren.


“Tentu saja gugup. Tanganku saja sudah dingin padahal ini akad keduaku dengan orang sama lagi. Ahh kenapa bisa gugup sih.” Ucap Deren jujur karena dia saat ini memang tengah gugup.


Edgar tertawa mendengar ucapan kakak iparnya itu, “Tapi sepertinya saat di rumah sakit anda tidak gugup tuan.” Ucap Max.


“Kata siapa? Aku saat itu sangat gugup tapi tertutupi oleh keadaan yang serba mendadak hingga membuatku tidak begitu terlihat gugup tapi kenyataannya aku sangat gugup karena saat itu adalah keadaan di mana aku harus menikahi seorang gadis untuk pertama kalinya dalam hidupku.” Ucap Deren menceritakan kegugupannya.


“Masa sih?” tanya Max masih tidak percaya.


“Jika kau tidak percaya maka tanya saja kepada Edgar. Hari itu dialah orang yang aku jabat tangannya.” Timpal Deren lalu dia mulai menghafal kalimat ijab itu.

__ADS_1


“Benarkah begitu tuan Edgar?” tanya Doni penasaran.


Edgar hanya mengangkat alisnya lalu duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu, “Yah, tangan kakak ipar saat itu sangat dingin. Ingin rasanya saat itu aku tertawa tapi kondisinya tidak memungkinkan. Aku tidak menyangka bahwa seorang penguasa yang biasa menandatangani proyek besar bisa gugup juga.” Ujar Edgar. Deren mengabaikan ucapan adik iparnya itu dan tetap fokus dengan hafalan ijab qabulnya.


“Wah, aku tidak menyangka itu yang terjadi padamu tuan.” Timpal Max.


“Itu sudah pasti terjadi pada semua laki-laki yang akan menikah. Jika kau menikah nanti kau pun akan merasa gugup.” Balas Ronal bersuara sejak tadi diam.


“Anda bicara seperti sudah merasakan saja.” ucap Doni yang langsung mendapat tatapan tajam Ronal tapi dia mana peduli.


“Sudah-sudah lanjutkan saja, saya izin pergi dulu karena masih harus menghafal juga.” Potong Edgar segera berdiri meninggalkan empat orang itu.


Sementara di ruangan Violet dia sudah selesai di rias dan sekarang sedang di bantu memakai kebaya, “Kak, kau sangat cantik.” Ucap Carra tiba-tiba masuk dan melihat Violet sedang di bantu memakai hijab.


Violet tersenyum membalas adik iparnya itu, “Terima kasih dek. Ini karena kebaya pilihanmu dan MUA pilihanmu.” Balas Violet.


Ibu Anggi juga yang ikut ke dalam ruangan itu tersenyum melihat Violet karena dia tidak menyangka akan memiliki moment seperti ini. Dulu saat akad pertama putrinya itu dia tidak memiliki banyak waktu menemani putrinya berdandan karena yang serba dadakan. Saat ini dia bahagia melihat putrinya itu yang sebentar lagi akan menikah kembali dengan laki-laki yang sama dan hidup bahagia. Tinggal Edgar yang menjadi bebannya. Setelah Edgar menikah nanti dia sudah rela jika harus pergi yang terpenting kedua anaknya sudah menemukan kebahagiaannya. Dia juga sudah terlalu rindu suaminya.


Sekitar setengah jam akhirnya Violet selesai di rias dan semua sudah rapi. Tepat pukul 08.30 Violet selesai di rias. Carra segera mendekat ke arah Violet dan langsung mengambil gambar kakak iparnya itu, “Ahh kak kau sangat cantik.” Pujinya berulang kali.

__ADS_1


“Kau juga cantik sayang.” puji Violet baik karena memang benar Carra sangat cantik dengan gaun dan riasannya itu.


Ibu Anggi segera mendekat ke arah sang putri lalu tersenyum, “Kau sangat cantik sayang. Benar kata Carra, ibu saja sampai pangling. Nak, dulu saat kau menikah ibu sudah cukup memberimu nasihat jadi sepertinya hari ini ibu tidak akan memberimu nasihat lagi. Hanya satu yang bisa ibu sampaikan selalu hormati dan cintai suamimu dengan baik.” ucap Ibu Anggi.


Violet mengangguk terharu, “Aku ingat semua nasihatmu bu.” Balas Violet.


“Ibu, saat aku menikah dengan Edgar nanti kau harus jadi ibuku dan memberikan nasihat yang kau katakan kepada kakak untukku.” Ujar Carra.


Ibu Anggi tersenyum lalu dia segera mengangguk memeluk Carra, “Tentu nak, kau juga putriku.” Balas ibu Anggi.


Sementara di aula sudah ada petugas dari KUA yang memang kembali di undang oleh Deren untuk menikahkannya kembali karena semua berkas pernikahan mereka tentu saja tidak perlu di ulang tapi Deren tetap ingin ada petugas dari KUA.


Tepat pukul 09.00 akad itu mulai dan seluruh orang yang memang di undang untuk menghadiri akad itu sudah hadir. Deren dan Edgar juga sudah duduk berhadapan di meja akad. Semua sudah siap hingga akad pun segera di mulai.


Deren segera menjabat tangan Edgar yang menjadi wali nikah Violet, “Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Deren Brillian Robert bin Robert Adkerson dengan kakak kandung perempuan saya Arelia Violetta Smith binti Smith Leonardo dengan mas kawin saham perusahaan sebesar 10 persen, uang sebesar 1 miliar dollar US dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kaminnya Arelia Violetta Smith binti Smith Leonarno dengan mas kawin saham perusahaan sebesar 10 persen, uang sebesar 1 miliar dollar US dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.” Ucap Deren dengan satu tarikan nafasnya.


“Gimana para saksi sah?” tanya penghulu dan langsung mendapat jawaban sah dari semua orang yang ada di sana. Penghulu pun segera mendoakan pernikahan mereka itu.

__ADS_1


Semua orang yang menghadiri akad pernikahan itu tersenyum bahagia seolah larut dalam kebahagiaan Deren. Max, Ronal dan Doni juga sudah tentu menjadi orang paling bahagia karena bisa melihat tuan mereka menjemput kebahagiaannya dan tidak salah mengucap ijab qabul.


__ADS_2