Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
20


__ADS_3

Malam harinya, “Ibu, apa bisa Violet masuk!” izin Violet sambil memasukkan kepalanya di balik pintu.


Ibu Anggi yang melihat tingkah putrinya pun tersenyum, “Masuklah nak!” ucap Ibu Violet.


Violet pun segera masuk ke kamar itu dan segera bergabung dengan sang ibu di ranjangnya lalu segera berbaring di pangkuan ibunya, “Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Ibu Anggi yang sudah hafal dengan tingkah putrinya. Jika dia sudah bermanja-manja seperti ini berarti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


Violet pun segera bangun lalu duduk berhadapan dengan sang ibu, “Vio ingin mengatakan sesuatu tapi Vio harap ibu tidak kaget nanti.” Ucap Violet.


“Ada apa? Ayo katakan?” tanya Ibu Anggi lembut sambil memperbaiki rambut yang menutupi wajah Violet.


“Se-sebenarnya Violet dan tuan Deren akan bertunangan tiga minggu lagi.” Ucap Violet membuat sang ibu membulatkan matanya.


“Kamu serius? Kamu gak lagi bercanda kan?” tanya ibu Anggi masih tidak percaya dengan ucapan putrinya.


“Ayo ulangi lagi, sepertinya ibu salah dengar.” Lanjutnya.


“Tuh kan aku sudah menduga ibu akan kaget begini dan ibu gak salah dengar karena aku memang akan bertunangan dengan tuan Deren.” Ucap Violet.


“Kok bisa?” tanya ibu Anggi.


“Yah bisalah bu aku perempuan dan dia laki-laki maka bukan aneh kan jika kami bertunangan.” Ucap Violet.


“Iya memang tidak aneh tapi bukankah kamu membenci pria seperti tuan Deren? Dia bahkan lebih kaya dari mantan kekasihmu. Apa kau yakin nak?” tanya Ibu Anggi menatap Violet.


“Memang benar aku membenci pria kaya tapi sepertinya tuan Deren berbeda.” Balas Violet.


“Apa kalian sudah memikirkan ini? Lalu bagaimana tanggapan keluarganya? Ibu gak mau melihatmu terpuruk lagi karena penolakan nak. Tapi ngomong-ngomong sejak kapan kalian menjalin hubungan? Kok ibu gak tahu kau dekat dengannya, kau bahkan baru membawanya tadi ke rumah.” Ucap Ibu Violet.

__ADS_1


Violet pun mencari akal jangan sampai sang ibu tahu dengan kebohongannya ini, “Ibu kami baru dekat dua bulan lalu dan dua minggu lalu kami menjalin hubungan. Kami memang sudah saling mengenal dan ternyata saat ulang tahun Carra aku baru mengetahui ternyata dia adalah kakaknya Carra dan setelah itu kami menjalin hubungan serta untuk bagaimana keluarganya ibu tidak perlu khawatir karena mommynya ternyata sangat baik berbeda dengan ibu-ibu lainnya. Dia sangat baik, dia bahkan menerimaku jadi jangan khawatir jika aku menerima penolakan lagi karena itu tidak akan terjadi.” Ucap Violet sambil memegang tangan sang ibu.


“Kamu tahu dari mana ibunya baik?” tanya Ibu Anggi.


“Karena aku sudah bertemu dengan mommynya seminggu yang lalu.” Jawab Violet hingga lagi-lagi membuat ibu Anggi membulatkan matanya.


“Jadi kau memang di terima dengan baik? Kau gak di hina kan sayang?” tanya ibu Anggi khawatir.


“Ibu tenang saja aku baik-baik saja bahkan besok mommy ingin bertemu denganku untuk membicarakan pertunangan kami. Jadi bagaimana apa ibu setuju dengan hubunganku dan Deren?” tanya Violet mengubah panggilannya untuk Deren dengan namanya saja.


Ibu Anggi pun hanya bisa menghela nafasnya, “Baiklah jika memang menurutmu mereka baik dan ini sudah jadi keputusan kalian ibu pasti akan menyetujuinya, selain itu juga sepertinya nak Deren memang orang baik seperti Carra. Ibu merestui kalian, ibu ingin kau bahagia nak. Jadi jangan sedih lagi, kau harus bahagia dan jika nanti kau menerima penolakan lagi segera lagi ke ibu. Ibu akan selalu ada untukmu.” Ucap Ibu Anggi menatap dalam dan mengelus rambut putrynya itu dengan penuh kasih.


Violet pun segera memeluk sang ibu, “Terima kasih ibu sudah mempercayai keputusanku. Aku sayang padamu!” ucap Violet tapi di dalam hatinya, “Maaf bu sudah membohongimu. Aku mohon maafkan aku! Semoga suatu saat kau mengetahuinya nanti kau bisa memaafkan diriku.” Batinnya.


“Ibu juga menyayangimu.” Ucap Ibu Violet membalas pelukan sang putri.


Setelah itu Violet segera berlalu dari kamar sang ibu karena ibunya itu akan beristirahat begitupun dengannya.


Keesokkan paginya karena berhubung ini weekend maka Violet pun bersantai ria di kamarnya karena dia akan menemui mommy Grysia nanti jam 10-an. Jadi dia menikmati weekendnya ini dengan bermalas-malasan di kasurnya setelah mereka sarapan bertiga tadi.


Tok tok tok


“Masuk!” ucap Violet


Edgar pun segera masuk setelah mendapat izin dari kakaknya itu, “Ed! Kakak pikir siapa.” Ucap Violet menatap sang adik.


Edgar pun hanya mengangguk lalu segera duduk di ranjang Violet dan menatap kakaknya itu dengan seksama, “Ada apa? Kenapa menatap kakak seperti itu? Apa yang salah di wajah kakak tapi sepertinya gak ada deh walau belum mandi tapi kakak sudah cuci muka tadi.” Ucap Violet lalu meraih ponselnya untuk bercermin.

__ADS_1


“Berapa lama kalian menjalin hubungan?” tanya Edgar. Violet pun menghentikan aktivitasnya dan menatap Edgar karena dia sekarang mengerti tujuan sang adik datang ke kamarnya.


“Apa ibu yang menceritakannya?” tanya Violet balik.


Edgar mengangguk, “Jadi apa benar kakak akan bertunangan dengan kakaknya Carra? Kenapa tiba-tiba, bahkan aku gak tahu kalau kalian menjalin hubungan.” Ucap Edgar.


Violet pun tersenyum, “Ada apa? Apa kau tidak menyetujuinya karena dia adalah kakaknya Carra? Apa kau tidak ingin hubungan kita nanti akan terasa aneh?” tanya Violet.


Edgar menggeleng, “Bukan itu hanya saja aku merasa aneh karena kakak paling menghindari pria seperti dia sejak waktu itu makanya aneh saja jika kau akan bertunangan dengannya yang bahkan 10 kali lipat lebih kaya dari mantanmu itu.” Ucap Edgar.


Violet segera menggenggam tangan adiknya, “Kakak tahu kekhawatiranmu tapi tuan Deren berbeda dari Morgan.” Ucap Violet.


“Apa bedanya? Mereka sama kak sama-sama kaya.” Ucap Edgar.


“Mereka berbeda dek, bukankah Carra juga kaya tapi lihatlah dia mau menerimamu sebagai kekasihnya bahkan dia tidak malu mengakuimu sebagai pacarnya di depan teman-temannya.” Ucap Violet.


“Beda kak, Carra--” ucap Edgar.


“Gak berbeda Edgar, Carra dan Deren sama mereka kakak beradik yang mendapat didikan dan kasih sayang dari orang yang sama. Jika kau mengkhawatirkan penolakan keluarganya terhadap kakak, kau gak perlu khawatir karena kakak sudah bertemu mommy-nya dan dia sangat baik Edgar tanpa bertanya identitas kakak dia langsung menyetujuinya bahkan hari ini kakak akan menemuinya lagi.” Jelas Violet.


“Tapi kak bagaimana jika--”


“Tenang saja kakak bukan orang yang rapuh Edgar, kakak sekarang jauh lebih kuat. Kakak hanya butuh kau mempercayai keputusan kakak ini.” ucap Violet.


Edgar pun hanya bisa menghela nafasnya, “Baiklah kak aku mempercayaimu. Aku merestuimu! Tapi ingat kak jika dia atau keluarganya menyakitimu kau harus bilang padaku.” Ucap Edgar.


Violet pun tersenyum lalu langsung memeluk sang adik, “Kau mau apakan mereka? Apa kau akan memukul mereka? Jika itu terjadi kau kehilangan Carra nanti. Apa kau siap?” tanya Violet lalu menatap Edgar.

__ADS_1


“Aku lebih tidak ingin kehilanganmu kak. Aku lebih menyayangimu dan ibu daripada siapapun.” Ucap Edgar.


Violet pun tersenyum karena bangga dengan sang adik. Tentu saja itu tidak akan pernah Violet lakukan karena dia tidak ingin melihat adiknya itu sedih.


__ADS_2