Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
42


__ADS_3

Sementara itu Deren sudah tiba di kamar dan mendapati Violet yang sudah siap dengan pakaian untuk mengajar di sekolah. Violet hanya memandang sekilas kepada suaminya itu lalu kembali fokus dengan beberapa bahan ajar yang harus dia bawa untuk rapat hari ini.


Setelah memastikan semuanya sudah siap dan tidak ada yang ketinggalan dia segera keluar menuju pintu tapi sayang Deren yang sejak masuk tadi memang masih berada di pintu menahan tangannya, “Ada apa denganmu? Kenapa tidak ikut sarapan?” tanya Deren.


Violet tersenyum, “Maaf Deren hari ini aku memang harus datang lebih awal ke sekolah karena kami harus mengadakan rapat.” Ujar Violet mencoba melepaskan tangannya.


“Lepas Deren jika tidak aku akan terlambat.” Pinta Violet yang tidak bisa melepas genggaman laki-laki itu.


“Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau menjawab pertanyaanku hari ini?” ucap Deren.


“Apa yang harus aku jawab Deren. Aku mohon lepaskan tanganku!” ujar Violet.


“Katakan kenapa kau seolah-olah menghindariku? Apa ada sesuatu yang sudah kulakukan yang menyakitimu?” tanya Deren menatap mata hazel gadis di hadapannya ini.


“Menghindarimu? Kapan aku melakukan itu? Sepertinya aku tidak pernah melakukan itu justru kau yang mendiamiku sejak kematian mommy. Sebenarnya siapa yang menghindari siapa?” tanya balik Violet masih mencoba melepaskan tangannya.


Deren pun melonggarkan genggamannya karena menyadari bahwa dia menyakiti gadis itu. Hal itu terlihat dari tangannya yang memerah yang sangat kontras terlihat karena kulitnya yang putih.


“Aku hanya sedih akan kepergian mommy hingga tanpa sadar aku mengabaikanmu. Maaf!” ucap Deren.

__ADS_1


“Gak apa-apa kok, kau juga gak perlu minta maaf karena kita memang tidak memiliki hak satu sama lain.” Ucap Violet terdengar pilu lalu membuka pintu kamar itu hendak keluar.


“Aku membebaskanmu! Kau bisa mengurus perceraian kita. Lagian mommy alasan aku membawamu kesini sudah pergi meninggalkan kita. Soal Carra dan Edgar biar aku yang akan menjelaskan kepada mereka dan aku janji seperti kesepakatan kita sebelumnya aku akan tetap merestui Edgar dan Carra menikah. Perpisahan kita tidak akan mempengaruhi hubungan mereka.” Ucap Deren akhirnya walau setelah mengatakan itu ada rasa sesak di dadanya yang seolah-olah baru saja tertimpa dengan batu seberat seratus kilo.


Violet menghentikan langkahnya mendengar itu, “Baiklah jika memang begitu.” Balas Violet tanpa menatap Deren lalu dia kembali melangkah menuju tangga. Setelah sampai tangga terakhir Violet langsung berlari keluar setelah menyambar bekalnya di meja makan.


“Jangan meneteskan air matamu Vio. Kenapa kau menangis? Bukankah memang benar pernikahan kalian hanya karena mommy dan juga Edgar dan Carra. Bukankah ini yang kau inginkan berpisah dari hubungan ini.” batin Violet menghapus air mata di pipinya lalu segera menghidupkan vespanya dan melajukannya menuju sekolah sambil berharap semoga saja dia sampai ke sekolah dengan selamat.


“Mbak apa kau melihat istriku pergi kemana?” tanya Deren berlari dari tangga dan bertanya kepada mbak Ratih yang baru saja meletakkan bekal untuknya di meja makan.


“Nyonya sudah pergi tuan.” Jawab mbak Ratih yang memang melihat Violet berlari keluar tadi.


***


Seminggu berlalu hubungan Violet dan Deren terasa hampa, mereka tidak bicara satu sama lain kecuali di hadapan Carra dan Edgar mereka bersikap biasa.


“Kakak ipar ini bagus gak?” tanya Carra memperlihatkan konsep pesta pernikahan.


Violet pun menatap adik iparnya itu, “Bagus kok tapi pililah sesuai seleramu dan Edgar.” Ucap Violet.

__ADS_1


“Kenapa selera kami? Ini untuk pesta pernikahan kalian. Aku ingin mewujudkan rencana mommy yang ingin mengadakan pesta untuk kalian dan itu akan di lakukan seperti rencana sebelumnya yang akan di lakukan kurang dua bulan ini.” ujar Carra tersenyum.


Violet yang mendengar itu sedih karena bagaimana mungkin mereka mengadakan pesta pernikahan jika mungkin setelah ini mereka akan berpisah karena mungkin Deren sudah menyiapkan surat perceraian mereka, “Kak ayo mana yang kau suka? Katakan padaku! Jangan bengong aja.” Ucap Carra menyadarkan Violet dari kebengongannya.


“Ah iya tapi Carra bisakah kami gak usah mengadakan pesta? Lagian aku dan kakakmu sudah menikah jadi untuk apa pesta pernikahan hanya menghambur-hamburkan uang saja.” ucap Violet.


“Kakak ipar apa kau pikir uang kakak akan habis hanya karena pesta pernikahan ini?” tanya Carra.


“Bukan begitu Carra, aku tahu kakakmu memiliki banyak uang dan mungkin tidak akan habis tujuh turunan tapi tetap saja pesta pernikahan, aku tidak menginginkannya Carra. Jika kau memang ingin membuat pesta lebih baik itu lakukan untuk pernikahanmu nanti. Aku menyayangimu Carra jangan merasa bahwa perkataanku ini menyinggungmu. Aku hanya tidak ingin pesta pernikahan, bagiku hubungan ini sudahlah cukup. Lagian Mommy yang ingin pesta pernikahan ini diadakan sudah pergi. aku tidak ingin mengadakan pesta saat mommy sudah pergi.” Ucap Violet.


Carra yang mendengar itu segera memeluk Violet erat sambil meletakkan tabletnya, “Aku juga menyayangimu kak. Maaf sudah berencana melakukan ini tanpa meminta persetujuanmu. Aku hanya ingin melihatmu dan kakak mengenakan gaun dan jas pengantin melihat kalian menjadi raja dan ratu sehari tapi jika memang kau tidak menginginkannya aku tidak akan melakukannya lagi. Yang terpenting bagiku kau sudah menjadi kakak iparku dan itu adalah hal yang sangat penting dan yang paling ku syukuri. Aku sangat senang karena kedatanganmu saat ulang tahunku bisa mempertemukanmu dan kakak dan membawamu menjadi kakak iparku.” Ucap Carra dalam pelukan Violet.


Violet yang mendengar itu meneteskan air matanya karena dia tidak tahu jika bagaimana Carra tahu bahwa mereka akan berpisah, “Maafkan aku Carra! Maafkan aku yang mungkin akan mengecewakanmu.” Batin Violet segera menghapus air mata yang menetes di pipinya dan agar Carra gak tahu dia menangis.


“Kakak ipar, aku ingin ikan bakar buatanmu. Bisakah kau membuatkannya untukku!” pinta Carra setelah melepas pelukannya dan menatap Violet.


Violet pun terkekeh mendengarnya, “Baiklah adikku aku akan membuatkannya untukmu.” Ucap Violet berdiri lalu menuju dapur dengan Carra yang masih bergelayut manja di lengannya. Bagi Carra, Violet bukanlah hanya seorang kakak ipar tapi dia adalah pengganti sang mommy. Violet bagaikan ibu untuknya, hal inilah yang membuatnya ingin melanjutkan pesta pernikahan Violet dan kakaknya. Carra berharap Violet dan kakaknya akan selalu bahagia.


Sementara di sudut lain ada yang mendengarkan percakapan kedua wanita itu saat tidak sengaja dia yang baru kembali dari kantor mendengar hal itu, “Apa aku sudah sangat menyiksamu dengan pernikahan ini hingga kau tidak ingin pesta pernikahan dan ingin bercerai dariku?”

__ADS_1


__ADS_2