Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
108


__ADS_3

Singkat cerita, kini Deren dan Violet telah menghabiskan waktu seminggu di Paris untuk menikmati bulan madu keduanya. Violet dan Deren juga sudah mengelilingi dan mengunjungi hampir semua destinasi wisata di Negara itu. Keduanya benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik dengan menghabiskan waktu berdua berjalan mengunjungi tempat wisata di Negara itu. Selain mengunjungi destinasi wisata tentu saja keduanya juga terus berusaha untuk menciptakan generasi mereka dengan menghabiskan malam-malam yang panas.


Kini Violet dan Deren sudah berada di bandara Charless de Gaulle dan segera menuju pesawat pribadi keluarga Robert. Keduanya langsung masuk di sambut oleh pramugari dan pramugara yang memang di tugaskan di pesawat itu. Violet dan Deren bergandengan tangan masuk ke dalam pesawat itu lalu membalas dengan senyuman saja sambutan dari pramugara dan pramugari itu. Violet dan Deren segera menuju ruang istirahat pesawat itu untuk istirahat karena memang perjalanan keduanya memakan waktu yang lama. Tidak lama setelah itu pesawat segera lepas landas meninggalkan kota romantis itu di mana menyimpan kenangan bulan madu keduanya.


“Sayang, apa kamu puas jalan-jalannya di sini?” tanya Deren.


Violet mengangguk, “Aku sangat puas akan semuanya. Aku bahkan bisa memiliki foto post wedding di sini. Ahh aku sangat bahagia sekali suamiku. Aku mencintaimu.” Ucap Violet yang memang sudah tidak malu lagi untuk mengekspresikan cintanya.


Deren tersenyum bahagia karena sang kebahagiaan sang istri, tidak lupa juga membalas ungkapan cinta sang istri. Tidak pernah Deren tidak membalas jika Violet mengungkapkan cintanya begitu juga Violet. hubungan keduanya memang sudah berubah 360 derajat dari sesuatu yang sangatlah jauh kini berubah menjadi sangat dekat, di mana ada Violet di sana pasti ada Deren begitu juga sebaliknya.


Sekitar kurang lebih 17 jam mengudara kini Deren dan Violet menginjakkan kaki mereka di Negara tercinta. Keduanya langsung di jemput oleh Max dan Ronal yang memang sudah mengetahui kepulangan keduanya, “Selamat datang kembali tuan, nyonya!” sambut Max dan Ronal bersamaan sambil menunduk.


Violet dan Deren hanya mengangguk saja lalu segera masuk ke mobil yang akan membawa mereka kembali ke mansion. Sejujurnya keduanya lelah karena penerbangan yang menghabiskan banyak waktu itu dan ingin segera istirahat di kasur empuk di mansion karena walau di pesawat tersedia berbagai fasilitas mewah tapi tetap saja tidak sama seperti di mansion. Violet dan Deren sambil bersandar di mobil belakang, “Apa semua baik-baik saja?” tanya Deren kepada kedua asistennya yang dia tinggalkan untuk mengawasi perusahaannya.


“Semuanya baik-baik saja tuan.” Jawab Ronal. Deren pun hanya mengangguk saja karena dia memang selalu mendapat laporan setiap harinya terkait perusahaannya itu, dia hanya memastikannya saja.

__ADS_1


“Eeh,, tuan dua hari lalu tuan Mor--” ucap Max terhenti begitu menyadari Violet di antara mereka.


Deren tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Max sementara Violet merasa tidak terganggu sedikit pun. Dia lebih memilih memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami, “Bicaralah Max. Biarkan saja dia mendengarnya, gak masalah kok.” ujar Deren.


Max tetap diam saja karena tiba-tiba lidahnya kelu untuk bicara, “Bicaralah asisten Max, aku gak masalah kok tentang semuanya mau kalian menceritakan kebaikan atau keburukannya aku gak masalah. Mau kalian membunuhnya atau apalah aku juga tidak masalah.” Ucap Violet sambil menutup matanya.


Ketiga laki-laki yang mendengar ucapan Violet kaget karena mereka tidak menyangka perkataan seperti itu akan keluar dari bibir seorang mantan kekasih. Violet yang tidak mendengar ada suara dia membuka matanya dan menatap ketiga laki-laki itu bergantian yang sepertinya kaget akan ucapannya, “Kenapa kalian kaget begitu? Apa ada yang salah dengan perkataanku?” tanya Violet polos seperti tidak merasa bersalah telah mengatakan itu.


“Eehh gak kok nyonya. Anda gak salah.” Ucap Ronal kemudian memecahkan kekakuan itu.


“Sayang, kau gak salah mengatakan itu? Bisa saja aku akan membunuhnya jika memang dia melakukan kesalahan? Apa tidak masalah?” tanya Deren memastikan apa yang dia dengar tadi tidak salah.


Violet menggeleng, “Gak masalah yang terpenting dia memang bersalah. Aku tidak akan ikhlas jika suamiku membunuh orang tidak bersalah.” Ucap Violet lembut.


Deren tersenyum, “Aku juga tidak akan melakukan itu kepada orang yang tidak bersalah.” Timpal Deren.

__ADS_1


Violet mengangguk, “Ayo asisten Max lanjutkan perkataanmu tadi. Aku ingin mendengarnya sekarang karena sudah penasaran. Bagaimana tadi kau tidak mengatakannya saat aku belum penasaran dan jika aku sudah penasaran begini maka kau harus mengatakannya jika tidak aku akan menghukummu.” Ucap Violet lembut tapi ada nada ancaman di sana.


Max pun sedikit gelagapan dan pada akhirnya dia mengalah dari pada dia mendapat hukuman dari nyonya bosnya yang terlihat anggun itu tapi biasanya orang yang anggun itu sangatlah mematikan dan Max tidak akan menanggung resiko itu, “Dua hari lalu tuan Morgan datang marah-marah di perusahaan menuntut pertanggung jawaban kita terkait proyek padahal semuanya sudah tertulis dengan jelas di kontrak jika melakukan kecurangan maka perusahaan mereka yang akan menanggungnya. Kami sudah menjelaskan dengan baik tapi dia tetap saja menolak dan bersikeras menemui anda tapi kami mengatakan anda sedang tidak ada di tempat lalu dia juga mengatakan akan kembali lagi nanti setelah anda kembali menuntut pertanggung jawaban kita.” Jelas Max.


Violet sedikit memahami dan juga sedikit bingung, dia menatap suaminya, “I-itu sayang, perusahaannya sebagai penyedia bahan untuk proyek yang akan aku bangun tapi bahan yang dia kirim itu bahan palsu padahal kami membayar untuk bahan asli. Mereka mengirimnya salah jadi aku menggoyahkan saham perusahaannya sebagai peringatan tapi sepertinya dia tidak terima hingga melakukan tuntutan ini.” jelas Deren kepada sang istri. Violet pun akhirnya mengangguk mengerti.


Setelah dia memahami itu dia hanya bersikap biasa saja dan justru kembali menutup matanya dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami, “Kamu gak keberatan jika aku menghancurkan perusahaannya?” tanya Deren.


Violet menggeleng, “Terserah apa yang akan kau lakukan suamiku, aku mendukung semua keputusanmu selama itu untuk kebaikan. Lagian mereka juga yang salah telah menipumu. Aku tidak menyangka dia akan melakukan itu tapi sepertinya darah keluarga Carlos memang mengalir dalam darahnya hingga dia juga memiliki kesombongan mereka.” ucap Violet.


“Darah memang lebih kental dari air sayang.” timpal Deren.


Violet yang mendengar itu memeluk erat sang suami, “Tapi kau tidak, kau dan Carra tidak memiliki hubungan darah tapi kau menyayanginya begitu juga dengan mommy dan daddy. Aku bangga padamu suamiku.” Bisik Violet.


Deren tersenyum mendengar itu karena ternyata istrinya memahami perasaannya. Dia pikir istrinya tidak memahaminya, “Aku mencintaimu.” Bisik Deren seraya mengecup kepala sang istri.

__ADS_1


“Aku juga mencintaimu suamiku.” Balas Violet.


__ADS_2