
Kini Violet dan Deren sudah tiba di rumahnya Violet, “Mau mampir dulu?” tanya Violet dan Deren segera mengangguk, “Tentu saja, Aku harus menyapa dengan resmi calon ibu mertuaku kan?” ucap Deren lalu langsung menggenggam tangan Violet dan memasuki rumah Violet di mana di sana sudah ada Edgar, Carra dan ibu Anggi.
Deren tidak melepas genggaman tangannya sampai mereka masuk ke dalam hingga membuat Carra yang melihatnya bertanya-tanya karena dia memang belum tahu tentang pertunangan keduanya. Dia hanya mendengar sang mommy berkata bahwa kakaknya akan bertunangan tapi dengan siapa dan kapan dia gak tahu.
Carra pun segera mendekat dan menatap Deren dan Violet penuh selidik, “Kak, apa aku ketinggalan berita?” tanya Violet menatap genggaman tangan keduanya.
Violet yang menyadari tatapan Carra pun berusaha melepaskan genggaman tangan Deren tapi ternyata pria itu menggenggam tangannya erat, “Kak jangan bilang kalian--” ucap Carra.
“Menurutmu?” tanya Deren menatap adiknya itu.
Carra pun segera tersenyum lalu segera memeluk Violet, “Ahh kakak ipar. Apa sebentar lagi kita akan menjadi kakak ipar. Aku senang kak ternyata kau calon tunangan yang di ceritakan mommy. Ahh aku senang sekali, aku pikir kau akan menjadi kakak iparku hanya saat nanti jika aku dan Edgar menikah tapi ternyata tuhan mengabulkan segera mengabulkan doaku dan menjadikan kau cepat menjadi kakak iparku. Ahh aku sangat senang sekali saat ini, aku merestui kalian. Cup cup!” ucap Carra heboh dan di akhiri dengan kecupan di kedua pipi Violet.
“Kami tidak meminta restu padamu karena kami memang tidak membutuhkan restumu.” Balas Deren lalu segera melepas genggaman tangannya dan menuju dua orang yang dari tadi hanya menatapnya.
“Ibu, Edgar! Aku datang hari ini ingin menyapa kalian secara resmi dan memperkenalkan diriku sebagai calon tunangan putrimu yang akan dilaksanakan dua minggu lagi serta calon suaminya untuk tiga bulan lagi. Aku harap kalian merestui hubungan kami.” Ucap Deren berlutut di hadapan ibu Violet.
Ibu Anggi pun hanya tersenyum, “Berdirilah nak dan duduk, jangan berlutut begini. Ibu merestui kalian, selama Vio bahagia maka ibu pasti akan bahagia. Ibu titip yaa putri keras kepalaku itu padamu jaga dia dengan baik. Jangan sakiti hatinya dan jangan lukai fisiknya, jika kau bosan kembalikan dia kepada ibu, ibu akan menerimanya dengan senang hati.” Ucap ibu Anggi.
Deren pun mengangguk, “Aku pasti akan selalu menjaganya ibu, aku janji tidak akan menyakiti hatinya dan melukai fisiknya dan aku juga janji tidak akan pernah mengembalikannya kepada kalian karena aku tidak akan bosan dengannya.” Ucap Deren penuh keyakinan. Violet yang mendengarnya pun sedikit terharu tapi dia langsung menepisnya karena dia yakin ini adalah sebuah sandiwara saja.
Sementara Carra jangan tanya wanita itu sudah meneteskan air mata terharunya, “Kak kau membuatku menangis tahu, aku pikir aku tidak bisa akan bisa mendengar kata-kata romantis itu keluar dari mulutmu karena sikapmu yang dingin. Ahh sini kak aku ingin memelukmu.” Ucap Carra mendekati Deren lalu segera memeluk kakaknya itu dan langsung di balas oleh Deren.
Setelah pelukan Carra lepas dia menatap Edgar yang dari tadi hanya diam saja, “Kita bicara di teras samping.” Ucap Edgar lalu segera berdiri meninggalkan ruang tamu itu. Deren pun hanya mengangguk lalu segera mengikuti Edgar. Ketiga wanita yang di tinggalkan dalam ruang itu pun hanya saling memandang.
__ADS_1
“Apa kau yakin menikahi kakakku? Apa kau memang mencintainya ataukah ada sesuatu yang tidak kuketahui yang kalian sembunyikan?” tanya Edgar begitu mereka sudah di teras.
“Apa kau tidak merestui kami?” tanya Deren balik.
“Jawab saja pertanyaanku!” ucap Edgar.
“Baiklah aku akan menjawabnya, aku memang yakin menikahi kakakmu dan aku mencintainya dan tidak ada yang kami sembunyikan dari kalian karena tidak ada untungnya sama sekali untukku jika harus membohongi kalian.” Jawab Deren yang entah sungguh-sungguh mengatakan mencintai Violet atau itu bagian sandiwara juga hanya Deren sendirilah yang tau.
Edgar pun menghela nafasnya, “Huh, baiklah. Aku percaya kepada kalian. Aku merestui hubunganmu dengan kakak. Tapi awas saja jika suatu saat nanti aku mengetahui kau menyakiti kakakku maka aku tidak akan tinggal diam. Jagalah dia dengan baik.” Ancam Edgar menatap tajam Deren. Dia tidak peduli jika yang berdiri di hadapannya ini adalah pemilik perusahaan nomor satu selain itu juga kakak dari kekasih yang sangat dia cintai.
Deren pun tersenyum, “Aku janji tidak akan melakukan itu. Dan ingatlah satu hal adikku adalah kekasihmu juga. Terima kasih atas restumu dan ancamanmu itu, aku akan selalu mengingatnya.” Ucap Deren menepuk bahu Edgar seperti kemarin lalu segera masuk meninggalkan Edgar sendiri.
***
“Tuan Deren!!” sapa manajer tokoh itu melihat Deren karena dia tahu bahwa Deren adalah pemilik dari mall ini.
Deren pun hanya mengangguk dengan ekspresi datarnya, “Tuan Deren dan Nona ini apa ingin melihat perhiasan?” tanya manajer itu.
Deren pun lagi-lagi mengangguk, “Keluarkan koleksi cincin pertunangan terbaik kalian dan ini adalah calon tunangan saya namanya Violet.” Ucap Deren memperkenalkan Violet. Manajer dan karwayan tokoh itu pun segera menatap Violet lalu kemudian menunduk ke arahnya. Violet yang di perlakukan seperti itu pun hanya tersenyum lalu berbalik menunduk sedikit ke arah mereka.
“Segera ambilkan koleksi terbaik kita.” Ucap manajer itu memerintah karyawannya dan tidak lama mereka kembali dengan tiga pasang cincin.
“Silahkan tuan, nona ini adalah tiga cincin terbaik di toko kami ini.” ucap manajer.
__ADS_1
Deren pun menatap Violet, “Pilihlah yang kau suka sayang.” ucap Deren. Violet pun melihatnya lalu mencobanya.
“Ini sepertinya bagus, berliannya juga bagus dan besar.” Ucap Deren.
“Yah anda benar tuan, itu tinggal satu pasang karena di Indonesia dia hanya tersedia dua pasang saja.” Jelas manajer itu.
“Bagaimana? Kita pilih ini saja?” tanya Deren.
Violet pun melihatnya dan mencobanya, “Tapi aku lebih suka yang ini walau berliannya tidak besar tapi dia terkesan anggun.” Ucap Violet menunjuk cincin dengan berlian kecil dan bentuk sederhana itu. Cincin ketiga menjadi pilihan Violet.
“Kau yakin lebih menyukai ini?” tanya Deren dan Violet pun segera mengangguk cepat.
“Baiklah kita akan memilih ini. Segera bungkus cincin pilihan calon tunangan saya itu.” Ucap Deren dan karyawannya pun segera melakukannya sementara Deren segera melakukan pembayaran dan tidak lama cincin itu kita sudah di tangan Deren.
Tiba-tiba ponsel Deren berdering dan ternyata panggilan dari kepala pelayan di rumahnya, “Ada apa mbak?” tanya Deren to the point.
“Gawat tuan nyonya dia--” ucap pelayan itu terbata.
__ADS_1