Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
132


__ADS_3

Jika yang terjadi di mansion antara Deren dan Violet mereka memasak dan makan bersama. Lain halnya dengan Edgar dan Carra yang kini sedang menuju sebuah restoran baru begitu yang di katakan Edgar kepada Carra. Sepertinya Edgar dan Carra tidak ingin kalah dengan kakak mereka untuk menciptakan suasana romantis.


"Kak, ini mau kemana sih?" tanya Carra. Yah, Carra memang kadang memanggil Edgar dengan sebutan kak walau usia mereka hanya berbeda dua bulan saja. Edgar hanya kakak dua bulan dari Carra.


"Kau akan tahu nanti sayang." ucap Edgar misterius.


Carra pun mengangguk, "Ouh aku tahu sepertinya ini kejutan yaa. Baiklah aku suka kejutan." ucap Carra tersenyum ceria. Edgar pun ikut tersenyum melihat kekasihnya itu tersenyum. Seorang gadis yang menemaninya selama ini tanpa peduli dia kaya atau tidak. Seorang gadis yang dia cintai dan juga mencintainya dengan tulus.


Sekitar 30 menit kemudian akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang hanya memiliki penerangan redup. Edgar segera menghentikan mobil, Carra pun melihat sekitar, "Apa kita sudah tiba?" Tanya Carra bingung.


Edgar tidak menjawab dan justru turun lalu berlari ke pintu mobil sebelahnya dan membukakan pintu itu untuk Carra, "Ayo turun sayang. Kita sudah tiba." ucap Edgar menyerahkan tangannya.


Carra pun menerima tangan Edgar dan turun walau dia sendiri bingung karena tadi kata Edgar mereka akan melakukan dinner tapi masa iya di tempat gelap seperti itu bahkan penerangannya gak ada, "Kak, kita akan melakukan dinner dimana? Masa iya di tempat gelap begini." ucap Carra menyuarakan apa pendapatnya.


Edgar pun tersenyum mendengar perkataan kekasihnya itu. Akhirnya dia mendengar protesnya, "Tapi memang betul sayang kita akan melakukan dinner di tempat ini. Ayo masuk! Tenanglah ada aku di sini. Jangan takut aku akan melindungimu." ucap Edgar.


Carra pun mengangguk, "Baiklah, ayo masuk. Aku percaya padamu bahwa kau tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk padaku." ucap Carra lalu mulai berjalan maju menuju pintu tempat itu yang hanya di pintu itu lampunya menyala terang di yang lain redup. Edgar pun ikut dari belakang.


Carra membuka pintu itu dan seketika dia menatap Edgar yang di belakang, "Kak, apa ini?" ucap Carra menahan rasa harunya melihat hamparan lilin mengelilingi restoran itu. Sedikit tidaknya dia sudah bisa menduga apa kejutan yang di siapkan kekasihnya itu.

__ADS_1


Edgar bukannya menjawab tapi langsung berlutut di hadapan kekasihnya itu, "Marry me!" ucap Edgar.


Carra yang melihat kekasihnya berlutut terharu hingga meneteskan air matanya saking bahagianya, "Aku tahu ini mungkin terlalu cepat dan mungkin kau mengira usia kita masih muda tapi aku sungguh ingin menikahimu. Aku tidak meminta kau setuju untuk menikah denganku atau tidak. Karena itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawab iya atau tidak tapi itu adalah pernyataan yang mau tak mau kau harus menerima lamaran ini dan menikah dengan laki-laki yang banyak kurangnya ini. Jadi untuk kedua kalinya. Sayang, marry me!" ucap Edgar.


Carra segera membantu Edgar bangun lalu segera memeluknya, "Jangan bicara begitu sayang. Kau itu pria terbaik yang aku punya. Aku bangga bisa menjadi kekasihmu selama ini. Aku bangga menjadi bagian dari kesuksesanmu saat ini. Aku bangga memiliki sayang. Kau itu laki-laki sempurna untukku dan perlu kau tahu kau pun memang tidak butuh jawaban dariku karena berapa kali pun kau bertanya atau menyatakan jawaban tetap sama aku mau hidup menua denganmu. Aku mau menjadi istrimu dan menemanimu selamanya. Kita akan hidup bersama dan menciptakan kebahagiaan bersama." Ucap Carra berbisik.


Edgar yang mendengar itu tentu saja terharu dan sangat senang karena jawaban wanita itu tidak berubah sama sekali selalu saja menerimanya. Bukan hanya menerima dirinya yang bahkan usahanya hanya dari modal wanita iti. Carra adalah bukti terbaik yang bukan mencintai seseorang karena hartanya. Carra mampu membuktikan bahwa tidak selamanya wanita itu menilai seseorang dari hartanya. Carra bukan hanya menerimanya saja tapi juga menerima keluarganya dengan baik bahkan kakaknya saja sudah jadi kakak ipar Carra. Keluarga Carra adalah bukti keluarga konglomerat yang tidak memandang seseorang berdasarkan status sosialnya.


Edgar melepas pelukan di antara mereka lalu dia segera memasangkan cincin di jari manis Carra.


Carra tersenyum memandangi cincin indah di tangannya itu, "Sangat cantik. Aku menyukainya. Kakak sangat hafal seleraku." Ucap Carra.


Edgar menarikkan kursi untuk Carra lalu dia segera duduk di hadapan Carra. Dia menepuk tangannya seolah memberi isyarat dan ternyata tiba-tiba pelayan berdatangan mengantarkan makanan untuk dinner mereka, "Kapan kakak menyiapkan ini? Kok, aku gak tahu." ucap Carra.


Edgar yang mendengarnya tersenyum, "Rahasia sayang." ucap Edgar.


Carra pun mencebikkan bibirnya, "Sudah. Ayo makan dulu. Aku akan menceritakannya nanti." ucap Edgar.


Carra yang mendengar itu pun seketika tersenyum lalu dia mulai makan yang terpenting Edgar sudah mengatakan akan menceritakannya dan sudah pasti itu akan di tepatinya karena Edgar adalah orang yang selalu menepati janji.

__ADS_1


Pasangan kekasih yang sebentar lagi akan melangkah menuju jenjang pernikahan itu menikmati dinner mereka dengan penuh kebahagiaan. Saat mereka menikmati dinner ada alunan musik yang mengiringi.


Sekitar kurang lebih satu jam mereka di sana lalu setelah semuanya selesai mereka keluar dari restoran itu dan begitu keluar Carra lagi-lagi kaget dengan nama restoran itu yang ternyata CE sama seperti nama cafe Edgar, "Apa ini cabang baru cafe lagi?" Tanya Carra.


Edgar mengangguk, "Kita akan mulai membukanya tiga hari lagi." Ucap Edgar.


Carra pun mengangguk setuju lalu keduanya segera masuk ke mobil dan di mobil Edgar menceritakan semuanya.


Carra pun tersenyum senang mendengarnya, "Lalu kapan kakak akan melamarku secara resmi?" tanya Carra.


"Secepatnya, aku sedang mempersiapkannya." Jawab Edgar.


"Apa itu artinya aku harus kembali ke mansion sampai kita menikah?" tanya Carra.


Edgar pun mengangguk, "Itu lebih baik. Ohiya nanti kita akan ke makam orang tuanya yaa. Aku akan meminta izin kepada mereka menikahimu. Aku juga akan meminta di restui menikah denganmu." ucap Edgar.


"Mommy sama Daddy pasti akan merestuimu kak." timpal Carra.


Edgar pun tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu yang sebentar lagi akan berubah menjadi istrinya. Yah istri ahh Edgar membayangkan itu saja sudah tersenyum sendiri.

__ADS_1


Edgar mengantar Carra menuju mansion karena gadis itu memang ingin pulang ke mansion, "Kakak hati-hati pulangnya." ucap Carra melambaikan tangannya yang di balas anggukan oleh Edgar. Setelah itu dia masuk ke mansion dengan wajah bahagiannya.


__ADS_2