Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
114


__ADS_3

Violet terbangun saat sholat zuhur, dia segera bangun dan bersiap untuk melaksanakan sholat. Sekitar 20 menit dia mengadu kepada sang pencipta tidak lupa dia mengucapkan banyak rasa syukur atas kehamilannya. Setelah selesai dengan ritual sholatnya, Violet turun dari kamarnya ke bawah.


Para maid yang melihat Violet turun segera mendekat membantunya karena mereka mendengar bahwa Violet sedang sakit, “Nyonya sini kami bantu.” Ucap mereka bersamaan.


Violet tersenyum melihat itu, “Saya gak apa-apa para mbak. Saya baik-baik aja kok.” ucap Violet lalu segera menuju meja makan.


“Nyonya mau makan apa?” tanya mbak Ratih.


Violet berpikir, “Apa aja deh mbak yang sudah tersedia aja.” Jawab Violet.


Mbak Ratih dan para maid pun segera menyediakan makan siang untuk Violet, “Terima kasih! Kalian juga makanlah.” Ucap Violet begitu makanan sudah di siapkan untuknya.


Saat mulai makan seketika Violet teringat akan sang suami, dia segera menelpon sang suami tapi sayang tidak di jawab. Violet pun membiarkannya karena mungkin suaminya sedang sibuk dan benar dugaan Violet, Deren memang sedang sibuk dengan rapat mereka. Setelah menelpon Ronal dan Doni untuk memastikan semua baik-baik saja, Deren kembali ke ruang rapat dan mengikuti rapat itu dengan lumayan fokus. Para anggota rapat saja makan di ruang rapat dan hanya diberikan waktu terbatas.


Kembali ke Violet setelah menelpon sang suami tapi tidak tersambung dia memutuskan melanjutkan makannya demi calon anaknya yang ada dalam kandungannya karena sebenarnya dia mengkhawatirkan sang suami yang akan melewatkan makan siangnya tapi Violet mencoba menghalau itu tidak mungkin mereka tidak diizinkan makan.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Violet kembali ke kamarnya dan menelpon dokter Eile agar membuatkannya janji bertemu dengan dokter kandungan karena dia ingin segera memeriksakan kandungannya. Rasa mual Violet juga sudah hilang setelah tadi dia bangun tidur mungkin juga karena dia yang sudah meminum obat pereda mual.


Setelah mendapat informasi dari dokter Eile bahwa sudah dibuatkan janji bertemu, Violet segera bersiap-siap menuju rumah sakit. Dia segera turun dengan pakaian lengkap dan cantik, aura kehamilannya sudah terpancar dari wajahnya itu, “Mbak aku mau keluar sebentar.” Pamit Violet kepada maidnya dan dia segera ke depan.


Doni segera membukakan pintu mobil untuk sang majikan, Violet segera masuk dan mobil itu segera melaju menuju tujuannya yaitu rumah sakit Robert. Doni bertanya-tanya apa tujuan Violet kesana tapi tadi dia memang mendengar sang nyonya kurang sehat mungkin ingin memeriksakan keadaannya lebih lanjut walau tadi dokter Eile sudah ke mansion.


Sekitar 20 menit kemudian berkendara akhirnya kini mereka tiba di rumah sakit dan Violet meminta Doni tetap di mobil karena dia tidak ingin bodyguardnya itu mengetahui tujuannya ke sini. Violet segera menuju ruangan dokter Eile yang memang sudah menunggunya mengantarkan ke ruang dokter kandungan. Violet yang memang sudah membuat perjanjian langsung saja masuk tanpa mengantri walau di hati kecilnya Violet merasa bersalah melakukan itu tapi dia juga sudah tidak sabar ingin melihat calon buah hatinya itu dengan segera.


Kini Violet sudah di dalam ruangan dokter kandungan, “Dokter Riana ini nyonya Violet, dia datang untuk melakukan pemeriksaan.” Ucap dokter Eile.


Dokter Riana yang memang teman dekat dokter Eile tersenyum menatap Violet yang dia ketahui sebagai istri dari pemilik rumah sakit ini, “Silahkan nyonya kita akan segera USG saja, dokter Eile sudah menjelaskan tadi bahwa anda sudah melakukan tespek jadi mari kita lihat calon anak anda.” Ucap dokter Riana ramah.


Dokter Riana segera memulai USG dan kini di layar monitor mulai terlihat kantung janin, “Ini calon bayi anda nyonya. Dia masih sangat kecil.” Jelas dokter Riana.


Violet yang melihat layar monitor itu terharu sampai meneteskan air matanya, dia sangat bahagia, kebahagiaannya tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata, “Terima kasih dokter.” Ucap Violet setelah dokter Riana menyelesaikan USG-nya dan membersihkan jeli dari perut Violet lalu memberikan foto hasil USG tadi ke tangan Violet yang di terimanya dengan tangan gemetar.

__ADS_1


Violet menatap foto USG itu dengan terharu, “Usia kandungan anda baru memasuki minggu kelima nyonya, anda jangan terlalu lelah tapi sepertinya dia kuat. Tapi tetap saya akan meresepkan obat untuk menguatkan janin.” ucao dokter Riana mulai meresepkan obat dan vitamin untuk Violet.


Violet juga sedikit berkonsultasi terkait kehamilannya, apa yang bisa dan tidak bisa dia konsumsi atau apalah yang terkait dengan kehamilannya. Setelah selesai berkonsultasi Violet segera keluar dengan di temani oleh dokter Eile yang memang menungguinya.


“Terima kasih dokter sudah menemani saya dan juga membuatkan janji. Maaf sudah merepotkan dan mengganggu waktu dokter.” ucap Violet tersenyum.


“Ahh sama-sama. Saya senang bisa ikut membantu anda dan saya tidak repot kok.” balas dokter Eile.


Violet pun mengangguk lalu setelah itu dia pamit segera pergi keluar rumah sakit menemui Doni yang menunggunya. Dia segera masuk ke mobil dan Doni mulai melajukannya, “Doni kita ke apotik di depan.” Pinta Violet.


Doni pun hanya mengangguk dan begitu tiba di apotik yang di maksud dia segera menghentikan mobil dan Violet segera turun memasuki apotik untuk membeli obat yang di resepkan dokter tadi. Setelah selesai membeli obatnya , Violet kembali masuk dan pulang ke mansion.


Sementara di sisi lain, “Nyonya Violet sedang keluar nyonya tapi dia baru saja pulang. Anda tidak perlu khawatir rencana kita akan berhasil saya akan menggunakan seseorang untuk memancingnya keluar lagi.” Ucap seseorang saat menghubungi bosnya.


“Hey, kau sedang bicara dengan siapa?” tanya bodyguard lainnya yang mendapatinya bicara dengan seseorang.

__ADS_1


Bodyguard tadi itu pun kaget tapi dia mencoba menetralkan kegugupannya, “Ahh tadi itu istriku menelpon.” Jawabnya. Bodyguard yang bertanya pun hanya menganggukkan kepalanya tapi dia segera mengirim pesan kepada seseorang. Dia curiga dengan bodyguard itu karena gerak-geriknya yang aneh.


“Aku harus segera melaksanakan rencanaku untuk membuat mereka tertidur jika tidak semua rencanaku akan gagal. Tadi hampir saja ketahuan untuk saja dia percaya dengan alasan yang kuberikan. Aku tidak menyangka bahwa ternyata bodyguard tuan Deren itu ada juga yang bodoh.” Batinnya menatap bodyguard yang tadi memergokinya. Setelah itu dia segera keluar dan membelikan minuman untuk semua bodyguard bayangan Deren tanpa dia ketahui ada yang mengikutinya, “Ouh jadi itu rencanamu. Apa tujuanmu sebenarnya melakukan ini.” batin bodyguard tadi yang mengikutinya semakin yakin bahwa teman bodyguardnya itu berkhianat. Entah apa alasannya dia melakukan itu tapi satu hal yang pasti dia harus memastikan bahwa rencana orang itu gagal.


__ADS_2