Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
148


__ADS_3

Edgar masih saja khawatir dan dia tetap menatap istrinya itu dalam. Carra yang di tatap begitu oleh suaminya seketika tersenyum, "Kak, jangan begini dong. Ayo sana kakak siap-siap ke kantor. Nanti terlambat jika lama." Ucap Carra lalu mengecup pipi suaminya sekitar 10 detik.


"Aku khawatir sayang. Aku panggil dokter saja yaa untuk memeriksa dirimu jika tidak mau ke rumah sakit. Aku gak mau ke kantor jika belum memastikan bahwa kau baik-baik aja." ucap Edgar.


Carra pun menghela nafasnya kasar karena dia tahu suaminya itu pasti tidak akan ke kantor jika permintaannya belum di turuti, "Baiklah. Hubungi dokter Eile saja." ucap Carra pasrah.


Edgar yang mendengar itu pun tersenyum lalu dia segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi dokter Eile yang memang dokter keluarga Robert.


Tuut tuut tuut


Tepat bunyi dering yang ketiga dokter Eile menjawab, "Halo, tuan Edgar ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Eile dari seberang.


"Eehh iya dokter. Bisakah anda datang ke rumah kami untuk memeriksa istri saya. Dia pusing dan sedikit meriang." jawab Edgar menjelaskan kondisi istrinya.


Dokter Eile di sana terdiam lalu dia kembali bersuara, "Maaf tuan Edgar bukan saya tidak ingin kesana hanya saja saat ini saya baru saja tiba di kota C. Saya masih harus mengikuti seminar di sini dan kemungkinan baliknya besok. Tapi dari tanda dan gejala yang anda katakan saya bisa menyimpulkan kemungkinan besar nona Carra saat ini sedang mengandung namun tuan dan nona bisa mengeceknya dulu dengan tespeck atau pergi ke dokter Riana agar lebih yakin." ucap dokter Eile.

__ADS_1


Carra yang memang mendengar apa yang di bicarakan suaminya dengan dokter Eile pun kaget dengan dugaan dokter Eile itu. Dia segera mengambil alih ponsel suaminya, "Dokter ini Carra, apa memang benar dokter seperti itu? Saya memang akhir-akhir ini sering pusing hanya saja baru tadi pagi pusing bercampur meriang." Ucap Carra.


"Maaf nona ini baru dugaan saya saja dan untuk membuktikannya nona bisa melakukan pengecekan dengan dua hal yang saya katakan tadi." Ucap dokter Eile.


Carra pun mengangguk lalu dia segera menyudahi sambungan telepon dengan dokter Eile itu setelah mengucapkan terima kasih terlebih dahulu karena dia ingin cepat membuktikan apa yang dikatakan oleh dokter Eile dia benar hamil atau tidak, "Kak, ayo kita beli tespeck." ucap Carra menatap suaminya yang sepertinya masih saja melamun.


Edgar memang masih kaget dengan apa yang dia dengar dari dokter Eile terkait dugaan sang istri hamil. Jika memang Carra beneran hamil maka tentu saja dia sangat bahagia akan menjadi seorang ayah, "Kak, jangan melamun dong. Ayo kita ke apotik untuk membeli tespeck." ucap Carra sambil menggoyangkan lengan sang suami.


Edgar pun segera tersadar dari lamunannya, "Ah iya. Kakak saja yang pergi beli kau di sini saja. Okay tunggu setengah jam lagi." Ucap Edgar segera menyambar kunci mobil dan berlalu keluar kamar.


Carra tersenyum melihat itu lalu dia mengusap perut ratanya sambil berdoa semoga dugaan dokter Eile itu benar bahwa saat ini sedang tumbuh bibit cintanya dan sang suami di perutnya sedang ada nyawa di perutnya itu, "Semoga saja kau sudah ada yaa nak di perut mami. Kami akan menantikanmu." ucap Carra masih mengusap perutnya itu.


"Agar yakin dan akurat sayang. Sudah ayo kita cek saja." ucap Edgar tidak sabar karena dia juga sangat penasaran apa istrinya hamil atau tidak.


Carra tersenyum melihat sikap antusias yang di tunjukkan suaminya itu. Hal itu sudah membuktikan bahwa suaminya sudah sangat siap untuk menjadi seorang ayah. Carra segera menyingkap selimut yang dia pakai dan turun dari ranjang dengan membawa lima buah tespeck dengan merek yang berbeda ke kamar mandi.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit kemudian, Carra keluar dari kamar mandi dengan air mata yang menetes di pipinya dengan menggenggam ke lima tespeck di tangannya. Edgar yang melihat istrinya menangis segera mendekat dan memeluknya, "Sudah, gak apa-apa sayang jika memang belum hamil itu tandanya kita masih di suru pacaran dulu. Sudah gak usah sedih. Jangan menangis dong." ucap Edgar mengecup kepala Carra lalu segera menghapus air mata istrinya itu.


"Aku gak sedih kak, ini air mata bahagia karena aku memang hamil. Positif kak, semuanya positif." ucap Carra bergetar karena saking bahagianya sambil memperlihatkan ke lima tespeck di tangannya itu yang menunjukkan garis dua.


Edgar yang mendengar ucapan istrinya itu segera mengambil tespeck di tangan istrinya dan memastikannya sendiri. Edgar pun seketika meneteskan air matanya karena terharu bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Dia segera memeluk istrinya dan bahkan menggendong istrinya istrinya itu saking bahagianya, "Terima kasih sayang. Aku akan menjadi seorang ayah. Ayo kita ke rumah sakit untuk lebih memastikannya. Aku ingin anak kita baik-baik saja." ucap Edgar segera menghujani wajah istrinya dengan ciuman dan tidak lupa juga dia mengusap dan mencium perut rata istrinya yang kini sedang tumbuh buah cintanya bersama sang istri di sana.


Carra mengangguk mengiyakan untuk ke rumah sakit. Dia segera siap-siap dan Edgar hari ini dia mengajukan cuti karena masih ingin menemani istrinya.


***


Singkat cerita, kini Edgar dan Carra sudah dari rumah sakit memeriksakan kandungan Carra yang ternyata sudah berusia lima minggu itu. Kandungan Carra baik-baik saja dia hanya di beri vitamin saja. Edgar dan Carra keluar dari ruangan dokter Riana dengan wajah lebih kebahagiaan terlebih Edgar yang menatap foto hasil USG anak mereka yang masih sangat kecil itu yang mungkin masih gumpalan darah. Edgar tidak henti-hentinya bersyukur karena secepat ini dia di percayai untuk menjadi seorang ayah.


Kini Edgar dan Carra sedang dalam perjalanan pulang dengan Edgar yang mengendarai mobil sepelan mungkin seolah-olah jika dia mengendarai mobil dengan kecepatan seperti biasanya akan membuat anaknya kaget dan merasa takut hingga Edgar pun mengendarainya sepelan mungkin dan baru Carra memarahi suaminya itu barulah Edgar menjalankan mobilnya dengan kecepatan lumayan walau tetap sama lambat.


Carra yang pusing dengan apa yang dilakukan suaminya pun segera meraih ponselnya untuk berbagi kebahagiaan ini dengan kakaknya. Dia segera menelpon Violet dan ternyata dengan cepat Violet langsung menjawabnya.

__ADS_1


"Halo, assalamualaikum dek. Ada apa? Apa kalian butuh sesuatu?" tanya Violet dari seberang.


Carra tidak menjawab karena tiba-tiba dia bingung apa harus memberitahukan kehamilannya ini atau tidak. Dia takut hal ini akan membuat kakak iparnya sedih, "Halo dek. Kau masih di sana kan?" Tanya Violet.


__ADS_2