Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
84


__ADS_3

Deren mengangguk, "Kita akan melakukan itu sayang. Sekarang hapus air matamu karena kita akan menjemput bahagia bersama." ujar Deren


Violet hanya diam saja menanggapi suaminya itu dan hanya pelukan kepada suaminya semakin erat. Deren juga tidak merasa keberatan sedikit pun akan hal itu justru dia bahagia karena begitu Violet mencoba bersandar padanya saat sedih.


Setelah cukup lama menenangkan perasaan sedih Violet akhirnya dia menyudahi tangisannya dan melepas pelukan pada suaminya, "Sudah tenang?" tanya Deren menatap wajah sang istri yang masih menyisakan bekas air mata di sana.


Violet mengangguk, "Sudah cukup yaa menangisnya hari ini. Sejak hari ini dan sampai nanti jangan nangis lagi karena aku tidak ingin melihat air mata keluar dari mata cantikmu ini." Ucap Deren sambil mengecup kedua mata sang istri.


Violet tersenyum lalu dia membalas mengecup pipi sang suami, "Sekarang suamiku sana mandi dulu, aku akan ke dapur membantu memasak. Kamu mau di masakin apa?" Tanya Violet berdiri sambil memandang wajah sang suami dalam yang sebelumnya tidak berani dia tatap.


Deren mengalungkan tangannya di pinggang sang istri, "Apa aja masakanmu akan aku makan sayang. Jadi masak saja yang kau suka karena aku pasti akan menyukainya." ucap Deren.


Violet mengangguk, "Yaa sudah aku duluan ke dapur dulu yaa, sana kau mandi. Aku akan meminjam pakaian Edgar untukmu." Ucap Violet.


"Gak usah sayang. Aku sudah meminta orang mansion untuk mengantarkan pakaian. Mungkin sebentar lagi sampai." ujar Deren.


"Baiklah jika begitu." Ucap Violet lalu melepaskan pelukan suaminya dan segera berlalu keluar kamar menuju dapur.


Sementara Deren segera menuju kamar mandi milik istrinya untuk membersihkan dirinya sambil membawa handuk milik sang istri.


***


Singkat cerita, kini Deren, Edgar dan Carra sedang duduk di meja makan menunggu makan malam dimulai.

__ADS_1


"Kak, kenapa kau datang kesini?" Tanya Carra menatap sinis kakaknya.


"Tentu saja aku menemui istriku. Salahmu sendiri membawa istriku jadi jangan salahkan aku jika kau akan terus melihatmu di sini." balas Deren cuek.


"Iss kakak kau itu harus menepati peraturan yang di buat." ucap Carra kesal.


"Peraturan itu kau yang buat dan kakak sepertinya tidak menyetujuinya. Selain itu juga peraturan itu di buat untuk di langgar. Jika tidak ada yang melanggar maka untuk apa harus ada peraturan. Jadi daripada kau susah-susah membuat peraturan lalu tidak ada yang melanggar kan sia-sia nanti. Jadi kakak sebagai kakak yang baik akan membuat peraturanmu itu berjalan agar tidak sia-sia." ujar Deren merasa tidak bersalah dengan apa yang dia katakan.


Carra yang mendengar ucapan sang kakak semakin kesal, "Iss kau menyebalkan kak." ucapnya merajuk karena merasa kalah berdebat dengan sang kakak. Lalu dia langsung duduk di salah satu kursi di meja makan itu dengan wajah yang tidak enak di pandang.


Edgar yang di sana hanya mendengar perdebatan kedua kakak beradik itu hanya bisa menghela nafas karena selalu saja jika kakak iparnya itu bertemu dengan sang kekasih selalu saja berdebat. Kakak iparnya juga entah kenapa tidak ingin mengalah dari Carra hingga membuat wajah kekasihnya kini cemberut.


Ibu Anggi dan Violet berjalan dari dapur menuju meja makan dengan membawa lauk yang baru saja selesai di masak. Violet segera menatanya di meja makan dan menyadari bahwa Carra sedang cemberut, "Ada apa denganmu dek? Kenapa seperti itu?" tanya Violet menatap adik iparnya itu.


Violet pun kini mengerti situasi yang terjadi sepertinya adik iparnya itu kalah berdebat dengan sang suami, "Ibu, pokoknya setelah makan malam selesai ibu harus mengusir kakak. Dia harus menaati peraturan." Ucap Carra menatap ibu Anggi.


Deren yang mendengar ucapan sang adik pun kesal, "Siapa dirimu berani mengusir kakak Carra. Istri kakak aja gak mengusir kakak." Ujar Deren.


"Ibu!" Panggil Carra meminta dukungan ibu Anggi.


Ibu Anggi hanya mengangkat alisnya bingung karena tidak mungkin baginya mengusir Deren jika memang menantunya itu ingin menginap, "Sudah lebih baik kita makan dulu saja. Untuk ini nanti kita bahas lagi." Putus ibu Anggi.


Carra pun hanya mengangguk lalu mereka memulai makan. Violet membantu mengambilkan makanan untuk suaminya, "Terima kasih sayang." ucap Deren menerima makanan yang diambilkan sang istri.

__ADS_1


Sekitar setengah jam lebih akhirnya makan malam itu selesai dan kini mereka sedang duduk di sofa untuk melanjutkan pembicaraan yang tertunda tadi, "Kakak akan menginap Carra walau tanpa izinmu. Tenang saja kakak akan tidur di sofa ini saja kakak tidak akan mengganggumu tidur dengan istri kakak tapi itu hanya untuk beberapa hari karena setelah kami menikah lagi maka kau tidak punya kesempatan lagi untuk tidur dengan kakak iparmu itu. Jadi manfaatkan waktumu dengan baik." ucap Deren setelah cukup lama hening.


Violet yang mendengar ucapan sang suami kaget, "Kenapa tidur di sofa? Ada kamar tamu suamiku. Kau bisa menggunakannya. Aku baru saja membersihkannya." Ucap Violet.


"Iya nak, lebih baik kau tidur di kamar tamu saja karena tidur di sini tidak nyaman sama sekali nak. Apalagi sofa ini kecil." Timpal ibu Anggi.


Deren tersenyum mendengar hal itu, "Gak apa-apa bu, sayang. Di sini nyaman kok, aku malas tidur sendiri jika di kamar. Lebih baik aku tidur di sini saja. Kalian jangan khawatir aku pernah tidur di sofa walau itu sudah beberapa tahun lalu tapi aku yakin aku pasti bisa. Jadi tidak perlu khawatir." Ujar Deren.


"Yakin?" tanya Violet menatap suaminya dalam.


"Yakin sayang. Sudah lebih baik kau tidurlah karena aku juga masih ingin menonton." Ucap Deren.


"Baiklah jika begitu. Ibu duluan yaa ke kamar. Carra izinkan kakakmu menginap. Lagian dia hanya tidur di sofa kan." Ujar ibu Anggi sebelum pergi menatap Carra.


Carra mengangguk saja karena dia juga tidak mungkin tega kepada kakaknya, "Sudahlah kak lebih baik kita juga tidur saja." Ajak Carra kepada Violet.


Violet masih menatap sang suami dalam karena khawatir jika suaminya itu tidak merasa nyaman tidur di tempat seperti itu. Bagaimana mungkin seorang pengusaha terkaya nyaman tidur di sofa yang sempit sedangkan dia biasanya tidur di ranjang yang luas dan empuk, "Sudah gak apa-apa sayang. Kamu pergilah. Istirahatlah besok kita kerja." Ucap Deren lembut.


"Baiklah tapi jika gak nyaman pindahlah ke kamar dan kau juga cepatlah istirahat suamiku." Ucap Violet masih khawatir. Deren segera mengangguk.


"Jangan khawatir kak aku akan menemani kakak ipar menonton. Setelah itu aku akan memastikan dia tidur dengan nyaman di sini jika dia memang tidak ingin pindah ke kamar." ucap Edgar.


Violet pun hanya mengangguk lalu segera berlalu bersama Carra ke kamar untuk istirahat.

__ADS_1


Deren tersenyum menatap punggung sang istri. Edgar yang melihat itu juga ikut tersenyum dan bahagia untuk kedua kakaknya itu karena dia bisa melihat cinta yang besar di sana.


__ADS_2