Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
113


__ADS_3

Violet yang menerima itu kaget dan menatap dokter Eile, "Ini?"


Dokter Eile mengangguk, “Cobalah nyonya.” Ucapnya.


Violet pun yang memandang alat yang sangat dia tahu apa tujuannya itu terharu bahkan tangannya gemetar memegang alat tes itu padahal itu baru dugaan saja belum tentu dia, “Nyonya cobalah. Kita akan tahu nanti.” Ucap mbak Ratih juga yang sudah tidak sabar ingin tahu apakah nyonya-nya itu sedang hamil atau tidak. Yah, itu adalah tespek.


Violet pun memandang ketua maidnya itu dengan tersenyum lalu dia mencoba turun dari ranjang. Mbak Ratih segera membantu Violet menuju kamar mandi. Kini mbak Ratih dan dokter Eile menunggu di kamar itu menunggu hasilnya.


Sekitar 10 menit kemudian akhirnya Violet keluar dari kamar mandi, dokter Eile dan mbak Ratih menatap Violet dengan penasaran akan hasilnya. Sementara Violet hanya menunduk lalu tiba-tiba dia memeluk mbak Ratih erat. Mbak Ratih menghela nafasnya sepertinya dugaannya salah, “Sudah nyonya gak apa-apa kok jika memang belum.” Ucap mbak Ratih sambil menepuk bahu nyonya-nya itu.


Violet menggeleng dalam pelukan mbak Ratih, dokter Eile yang melihat itu tersenyum, “Aku hamil mbak. Positif!” ucap Violet melepas pelukannya dan memperlihatkan alat tes kehamilan itu yang memang bergaris dua.


Mbak Ratih yang melihat itu terharu, “Nyonya selamat nyonya!” ucap mbak Ratih senang bahkan sampai terharu.


“Selamat nyonya Vio.” Ucap dokter Eile.


“Terima kasih mbak, dokter.” Balas Violet.


Setelah itu dokter Eile kembali melanjutkan pemeriksaannya walau itu bukan bidangnya, “Saya sarankan nyonya memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit langsung agar bisa di USG hingga dapat diketahui sudah berapa minggu.” Saran dokter Eile tapi dia sudah meresepkan obat pereda mual untuk Violet yang langsung mbak Ratih belikan di apotik, sepertinya ketua maidnya itu sangat bersemangat untuk menyambut calon tuan muda atau nona muda-nya.


Violet pun mengangguk saja, “Terima kasih dokter. Pagi-pagi begini sudah mau direpotkan.” Ucap Violet.

__ADS_1


“Ahh jangan begitu nyonya. Ini sudah pekerjaan saya karena bekerja menjadi dokter keluarga Robert sangatlah menguntungkan gajinya besar.” Balas dokter Eile.


Violet pun terkekeh mendengar pengakuan dokter muda itu, “Dokter bisa saja. Dokter bisa rahasiakan ini dari suami saya. Saya ingin menyiapkan kejutan ini untuknya.” Ucap Violet sebelum dokter Eile pergi.


“Tenang saja saya akan merahasiakannya untuk anda nyonya.” Ucap dokter Eile.


“Ahh terima kasih lagi. Ohiya jangan panggil saya nyonya, sepertinya usia kita tidak beda jauh. Panggil saja Vio.” Ucap Violet.


“Ahh baiklah.” Timpal dokter Eile lalu dia segera pamit pergi karena memang harus segera ke rumah sakit. Violet pun mengizinkannya.


Kini tinggallah Violet di dalam kamarnya sendiri, dia mengelus perut ratanya yang di dalamnya sedang tumbuh benih cintanya dan sang suami. Dia tidak menyangka akan segera di beri kepercayaan secepat ini walau itu memang yang dia harapkan.


Tidak lama kemudian datanglah mbak Ratih mengetuk yang langsung Violet persilahkan masuk karena dia memang tahu bahwa itu mbak Ratih, “Nyonya, ini obat pereda mualnya.” Ucap mbak Ratih tersenyum senang sambil memberikan obat yang sudah dia beli itu.


Mbak Ratih yang mendengar itu segera mengangguk, “Beres nyonya. Mulut mbak akan di lem.” Jawab mbak Ratih sambil memperagakan bagaiman ketika mulutnya itu di lem hingga membuat Violet tertawa.


“Hahahh, mbak ada-ada aja. Ohiya mbak minta kepada Doni untuk ke sekolah untuk memintakan izin untuk saya hari ini karena sepertinya saya tidak bisa masuk.” Ucap Violet.


Mbak Ratih pun mengangguk, “Nyonya, apa ibu nyonya juga belum ingin di beritahu kehamilannya?” Tanya mbak Ratih hati-hati.


Violet menggeleng, “Aku ingin mengatakan dulu kepada suamiku mbak. Walau dia bukan orang pertama tahu tapi setidaknya dia tahu lebih dulu.” Jawab Violet.

__ADS_1


Mbak Ratih pun lagi-lagi mengangguk mengerti, “Baiklah jika begitu nyonya. Saya pamit untuk bekerja kembali. Ohiya nyonya mau di masakin apa kan tadi sarapannya habis semua tuh di muntahkan. Jadi nyonya harus makan lagi.” Ucap mbak Ratih.


“Emm, aku mau di masakin nasi goreng aja mbak sama telur ceplok aja. Ohiya sama segelas coklat panas yaa mbak.” Pinta Violet.


“Baik nyonya. Saya akan memasaknya. Nyonya tunggu di sini dan akan di antarkan.” Ucap mbak Ratih lalu segera pamit keluar dari kamar Violet.


Violet pun yang di tinggalkan sendiri sedang melihat ponselnya yang sudah menduga bahwa sang suami sudah tiba di sana, “Cepatlah kembali yaa mas, aku punya kejutan untukmu.” Ucap Violet memandangi ponselnya di mana di sana ada foto sang suami dan dirinya sewaktu di Paris. Violet mengecup foto suaminya itu.


***


Di sisi lain seperti dugaan Violet, kini Deren baru saja tiba di kota B dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju tempat di mana rapat dilaksanakan, “Max, apa ada sesuatu yang mencurigakan?” Tanya Deren yang entah kenapa merasa tak tenang.


Max yang mendengar itu menggeleng, “Tidak ada tuan, semuanya baik-baik aja. Ini juga saya barusan mendapat laporan bahwa nyonya di mansion gak pergi ke sekolah. Jadi semuanya aman. Ronal juga dia belum melaporkan ada sesuatu yang aneh begitu juga dengan bodyguard bayangan yang di tugaskan menjaga nyonya.” Jelas Max.


Deren pun mengangguk walau entah kenapa setelah mendengar penjelasan dari Max tetap saja kekhawatirannya itu tidak hilang dan tetap tidak tenang, ”Kita harus cepat menyelesaikan rapat ini. Aku ingin cepat kembali.” Ucap Deren.


Max pun hanya mengangguk saja karena dia tahu tuannya itu sedang dalam mode khawatir yang jika di ganggu maka akan berbahaya. Setelah 15 menit berada dalam mobil dari bandara menuju hotel tempat di laksanakannya rapat kini akhirnya mereka tiba. Deren dan Max segera masuk dan begitu sampai rapat tidak lama kemudian segera di mulai.


Selama rapat berjalan pikiran Deren terus tertuju pada sang istri, dia sama sekali tidak focus dengan rapat ini. Untung saja Max ikut hingga informasi terkait rapat hari ini tetap ada, “Max, aku keluar saja. Aku tunggu kau di luar. Aku tidak focus di sini.” Ucap Deren berbisik pada asistennya lalu segera keluar ruangan untuk menenangkan perasaannya yang tidak tenang.


“Ada apa denganku? Kenapa begini?” Tanya Deren sambil memegang dadanya yang entah kenapa terasa nyeri dan perasaannya hanya memikirkan sang istri.

__ADS_1


Deren pun akhirnya memutuskan menelpon Ronal yang di tinggalkan di perusahaan untuk menanyakan apa semua baik saja-saja dan asistennya itu mengatakan semua baik-baik saja. Dia juga menelpon Doni untuk menanyakan keadaan rumah dan Doni juga mengatakan semuanya baik-baik saja bahkan Violet sedang ada di kamarnya. Deren ingin menghubungi Violet namun dia mengurungkannya karena dari perkataan Doni bahwa istrinya baru saja sarapan jadi kemungkinan saat ini Violet sedang istirahat dan dia tidak ingin mengganggunya dan seperti dugaan Deren, Violet memang sedang tidur setelah dia makan.


__ADS_2