
Malam harinya, kini Deren dan Violet yang berada di ruangan perawatan Violet dalam keadaan hening dan Violet baru saja makan malam dengan di bantu Deren tentunya. Bukan Violet gak bisa makan sendiri tapi Deren yang tidak mengizinkannya.
"Deren!" Panggil Violet.
Deren yang sedang duduk di sofa segera mendekati Violet begitu mendengar panggilan, "Ada apa? Apa ada yang sakit atau kau butuh sesuatu?" Tanya Deren lembut.
Violet menggeleng dan hanya menatap Deren, entah apa yang ingin dia katakan dia sudah lupa tapi satu hal yang pasti dia ingin menatap suaminya itu dan ingin bersama Deren sebelum perceraian mereka nanti. Siap tidak siap Violet sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi perpisahannya dengan suaminya itu. Tapi sebelum itu dia ingin bersama suaminya itu dalam waktu yang singkat ini setidaknya setelah berpisah ada yang dia kenang tentang suaminya akan kebersamaan mereka. Dia akan menyimpan cintanya sendiri dan menyimpan nama suaminya itu di sudut hatinya paling dalam, setidaknya itu yang bisa dia bawa pergi.
Deren yang melihat istrinya itu hanya diam saja dan menatapnya dengan tatapan tak terbaca hanya diam saja dan duduk lalu memberanikan diri menggenggam tangan istrinya. Violet yang di genggam oleh suaminya hanya tersenyum karena sejujurnya hal itu sedikit memberikan rasa nyaman di hatinya. Kenapa Violet baru menyadari hal itu bahwa selama ini dia nyaman akan semua yang dilakukan suaminya itu. Kenapa nanti di saat semuanya akan berakhir.
"Vio!" Ucap Deren lirih mencoba membuka pembicaraan untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
__ADS_1
Violet diam saja dan hanya menatap suaminya seolah menanti apa yang ingin di ucapkan oleh suaminya, "Vio, aku ingin meminta maaf padamu karena sudah membuatmu di rawat di sini. Sudah mengembalikan traumamu akan air lagi. Maafkan aku yang lalai menjagamu dan maafkan aku yang sudah membuatmu ikut terseret masuk dalam permasalahanku. Maafkan aku yang tidak peka akan perasaanmu, yang tidak menyadari bahwa pernikahan ini membuatmu terasa bagai di neraka. Aku janji setelah kau sembuh aku akan memberikan kebebasan untukmu. Lupakan perjanjian kita yang akan berpisah saat pernikahan kita usia setengah tahun, aku akan mempercepat perpisahan kita karena aku tidak ingin membuatmu tersiksa lagi. Aku akan memperbaiki semuanya dan jika memungkinkan tolong maafkan semua kesalahanku. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu tersiksa. Sekali lagi maafkan aku." Ujar Deren.
Violet yang mendengar hal itu seketika air matanya menetes tapi langsung dia hapus karena tidak ingin dilihat oleh Deren dan untunglah Deren juga tidak menyadarinya. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa bukan itu yang dia inginkan tapi lidahnya seakan kelu untuk mengatakan itu.
"Baiklah jika memang itu yang terbaik. Segera bebaskan aku dari pernikahan ini." Ucap Violet pedih. Percayalah bukan itu yang ingin di katakan oleh hatinya tapi entah kenapa justru kalimat itu yang keluar. Entah kenapa dia sangat egois akan perasaannya. Entah kenapa hati dan logikanya tidak sejalan. Ingin rasanya Violet menjahit mulutnya sendiri agar tidak lagi mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa sakit hati.
Deren yang mendengar perkataan Violet hanya diam lalu memberanikan menatap Violet untuk melihat apakah ada kebohongan dari perkataan istrinya itu tapi lagi-lagi dia tidak bisa membaca apa yang ada dalam pikiran istrinya. Apakah memang sepintar itu seorang wanita menyembunyikan apa yang dia rasakan.
Violet yang mendengar itu meringis dan hanya bisa memijat dadanya hingga membuat Deren yang pikirannya terpecah belah itu berdiri, "Ada apa? Apa dadamu sakit lagi? Aku akan memanggil dokter." Ucap Deren khawatir.
"Aku hanya ingin istirahat. Tinggalkan aku." jawab Violet lagi-lagi tidak sesuai dengan hatinya karena sejujurnya yang di inginkan oleh hatinya bersama pria itu tapi entah kenapa dia sangat sulit mengakui perasaannya. Bagi Violet pantang mengungkapkan cinta lebih awal karena itu membuat harga dirinya sebagai wanita terluka. Selain itu dia juga takut jika dia mengungkapkan perasaannya tapi ternyata Deren tidak mencintainya. Apalagi ada kehadiran seorang wanita di antara mereka, wanita yang cantik dan juga seksi serta dewasa dan berprofesi sebagai model yang tentu saja tidak bisa di bandingkan dengannya yang hanya seorang wanita biasa saja. Semakin memikirkan hal itu semakin membuat kepalanya pusing dan hatinya terasa sangat nyeri.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Kau istirahatlah dengan baik dan jika butuh apa-apa panggil aku, aku akan istirahat di sofa. Kau cepatlah sembuh." Ucap Deren menggenggam erat tangan Violet sebelum melepaskannya dan dia pergi menuju sofa.
Violet yang genggaman tangan Deren di lepas merasakan sesuatu yang hilang dan tidak rela. Apalagi mendengar perkataan Deren semakin membuatnya makin bersedih, "Aku akan sembuh lebih cepat, aku tahu kau sudah tidak sabar untuk berpisah denganku dan menikahi kekasihmu itu. Aku tidak akan menjadi penghalang bagimu. Aku tahu kau sangat menginginkan perpisahan ini tapi kenapa kau menyeretku." batin Violet menangis. Dia segera memiringkan tubuhnya dan menangis dalam diam. Sungguh dia sangat tidak rela menerima hal ini tapi tetap saja dia berpura-pura kuat untuk menyembunyikan luka di hatinya karena dia tidak ingin membuat sang ibu dan adiknya khawatir padanya. Biarlah dia memendam semuanya sendiri karena yang lebih penting dari itu adalah bagaimana caranya akan menjelaskan perceraian kepada Ibu dan adiknya itu.
Violet yang lelah menangis akhirnya tidur walau sulit baginya untuk tidur. Violet bukan lelah karena sakit akibat tenggelam tapi lelah karena batinnya yang terluka.
***
Dua hari berlalu, Violet kembali ke Mansion dengan menggunakan vespanya. Violet sudah keluar dari rumah sakit kemarin tapi dia tidak langsung pulang ke Mansion dan lebih memilih untuk menginap di rumahnya bersama ibunya untuk menenangkan hatinya sebelum mempersiapkan diri untuk menerima apa yang akan terjadi pada kehidupannya.
Sore tadi dia memutuskan untuk kembali ke Mansion walau masih di larang ibunya untuk kembali apalagi membawa kenderaan sendiri tadi bukan Violet namanya jika tidak keras kepala. Ibu Anggi pun pada akhirnya hanya bisa menyetujui permintaan putrinya itu karena dia tahu Violet tidak akan menyerah begitu saja dan pasti akan menerornya jika tidak di izinkan. Selain itu juga ibu Anggi tahu bahwa putrinya sudah bersuami yang tidak bisa dia larang jika ingin pulang ke rumah suaminya tapi satu hal yang membuatnya bingung yaitu Violet yang menolak agar di jemput Deren kembali dan lebih memilih menyetir sendiri Vespanya.
__ADS_1
Di sini lah Violet berdiri di sebuah bangunan megah yang sudah lima bulan ini dia tempati dan baru lima hari yang lalu dia tinggal tapi sudah dia rindukan itu. Entah kenapa dulu dia sangat nyaman berada di rumahnya tapi kini dia lebih merasa nyaman tinggal di tempat ini.